Dua Tahun Prabowo (2): Politik Akomodasi
Demokrasi bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi juga membutuhkan mereka yang kalah untuk tetap mempunyai ruang mengawasi mereka yang menang.
44 artikel ditemukan
Demokrasi bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi juga membutuhkan mereka yang kalah untuk tetap mempunyai ruang mengawasi mereka yang menang.
Tantangan Prabowo bukan sekadar memperkuat negara, melainkan harus memperkuat institusi negara tanpa melemahkan masyarakat. Demokrasi memang membutuhkan pemerintah yang kuat, tetapi dengan tujuan akhir membangun masyarakat sipil yang kuat.
The lesson from Whoosh should not be reduced to “do not expand until the debt is solved”. Equally, it would be wrong to assume that expanding the network will somehow make the existing debt problem disappear.
Republik hidup melalui institusi, rule of law, batas kekuasaan, meritokrasi, partisipasi warga, kebebasan sipil, checks and balances, dan akuntabilitas. Dan justru hal-hal terakhir itulah yang nyaris tidak dibicarakan.
Investor China mendominasi bisnis pemurnian nikel di Indonesia. Menghadapi reformasi kebijakan tata kelola komoditas strategis ala Prabowo, mereka menyatakan protes dan mulai menjajaki relokasi.
Sebagai seorang presiden, sepertinya Prabowo perlu belajar sikap kepemimpinan dari Ki Hadjar Dewantara. Menurut Bapak Pendidikan Nasional itu, ada tiga sikap yang harus diambil oleh seorang pemimpin yakni, “Ing arsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani”.
Kalasastra mengajarkan bahwa setiap manusia adalah teks yang terus ditulis ulang oleh waktu. Barangkali, kalimat “dia sudah komandan, belum panglima” bukanlah akhir dari sebuah penilaian, melainkan awal dari sebuah perjalanan.
Kontras dengan respons "lembut" Presiden, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI justru bersikap jauh lebih tegas dengan mengutuk operasi militer Israel yang mengancam personel pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
Pemimpin Indonesia kehilangan tajinya dan "kalah jantan" jika dibandingkan pemimpin Malaysia dalam menyikapi agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, dan terbaru terhadap Iran. Kini dalam konflik Iran, Malaysia bagaikan harimau dan Indonesia ibarat kucing.
Presiden Prabowo Subianto menjanjikan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) rampung dalam waktu 3 bulan. MPR menyerukan pengesahan RUU tersebut segera. Namun para bawahan tak juga kunjung bekerja.
Polarisasi sosial semakin tajam. Media sosial memperkuat perbedaan pandangan hingga menjadi konflik emosional. Dialog langsung dapat menjadi sarana meredakan ketegangan tersebut. Pertemuan tatap muka memungkinkan pihak-pihak yang berbeda pandangan untuk saling memahami.
Sama seperti Board of Peace (BoP), Dewan Eksekutif Gaza juga hanyalah kucing kertas. Hingga kini Israel masih menggempur Gaza, tiap hari, dan bahkan melarang anggota Dewan Eksekutif Gaza masuk ke wilayah Gaza. Realitas ini memperkuat dugaan bahwa Trump punya tujuan sendiri di BoP.