Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi, dan Penerimaan Pajak
Peraturan baru monopoli ekspor sumberdaya alam oleh pemerintah menjadi tantangan bagi dunia usaha untuk masuk lebih dalam lagi ke sektor industri dengan nilai tambah yang tinggi (resource based industries).
Baca
Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Production-Based Economy
Indonesia tidak lagi cukup mengandalkan konsumsi domestik sebagai motor utama ekonomi. Diperlukan akselerasi sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperkuat struktur industri nasional, serta meningkatkan daya tahan ekonomi terhadap gejolak global.
Baca
Naiknya BI Rate dan Kejatuhan Kelas Menengah
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan bunga kredit akan membuat cicilan bulanan masyarakat menjadi lebih mahal, sementara daya beli masyarakat saat ini juga sedang mengalami tekanan. Kelas menengah ikut rontok.
Baca
Hak Bicara dengan Mesin
"AI for All" tidak boleh sekadar jargon seminar. Ia adalah pilihan. Harus dieksekusi sadar. Pertanyaannya bukan lagi apakah mesin bisa bernalar. Pertanyaannya, siapa yang boleh ikut berbicara dengannya. Jawabannya, kalau kita mau, adalah semua orang.
Baca
Prabowo Bentuk Badan Monopoli Ekspor, Pengusaha Cemas
Prabowo beralasan kebijakan ini untuk memperkuat ekspor sekaligus menekan praktik curang yang merugikan negara. Kebijakan ini akan dijalankan anak usaha Danantara secara bertahap mulai 1 Juni 2026.
Baca
Ensiklopedia Sunda: Menjawab Sejarah Sunda yang Hilang
Per hari ini, kita menghadapi problem minimnya referensi tentang sejarah Sunda. Berbeda dengan sejarah tentang Jawa. Padahal, Sunda itu bukan nama kecil dalam sejarah Indonesia. Ia bukan serpihan pinggiran yang baru muncul kemarin sore.
Baca
Sepak Bola Indonesia Makin Dekat dengan Kekuasaan, Klub Profesional Terafiliasi dengan Institusi Negara
Bhayangkara FC, Garudayaksa FC, dan Adhyaksa FC menambah daftar klub institusi yang akan berlaga di Super League musim depan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sepak bola Indonesia semakin dekat dengan kekuatan negara, politik, dan jaringan kekuasaan di luar lapangan.
Baca
Mengapa & Bagaimana Habibie Mengubah Kurs Rupiah dari 16.800 ke 6.500?
Episentrum krisis dahsyat 1998 justru ada di Jalan Thamrin, yakni Bank Indonesia (BI) di mana kapitalisme kroni berjalan bersamaan dengan kebijakan BI. Lembaga ini menjadi alat oligarkis untuk mengambil rente ekonomi.
Baca
Museum Marsinah, Monumen Tanpa Keadilan Berbalut Rekonsiliasi
Pembangunan museum Marsinah tanpa mengejar keadilan bagi Marsinah justru menjadi ironi yang menyayat hati. Negara seolah lebih memilih membangun bangunan formal, ketimbang meruntuhkan tembok impunitas.
Baca
Kisah Zhou Qunfei, Anak Desa yang Nyaris Tak Punya Masa Depan
Namanya: Zhou Qunfei, pendiri Lens Technology. Banyak orang di luar China mungkin baru mendengar namanya saat itu. Padahal, setiap kali orang memegang layar mobil pintar modern, kemungkinan besar mereka sedang menyentuh kaca buatan perusahaannya.
Baca
Mewujudkan Negara Agung, dari Mana Memulainya?
Saya jadi ingat Gunung Semeru. Walau tinggi, gunung itu dibentuk oleh pasir. Kenapa lumpur Lapindo tidak memunculkan gunung? Karena lemah, lunglai sehingga setiap kemunculan pemimpin selalu longsor ke bawah.
Baca
Refleksi Harkitnas: Masih Relevankah Nilai Kebangkitan Saat Ini?
Selalu hidup sederhana, berikan lebih dari kecukupan untuk sesama, jangan mengagumi orang kaya yang layak dicurigai hasil kekayaannya dari mencuri, baik dengan cara legal maupun ilegal.
Baca