
Oleh Budi Laksono, dikenal sebagai “Dokter Jamban” setelah mencetak rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) atas dedikasinya membangun jamban berkelanjutan terbanyak di Indonesia, melalui yayasannya Wahana Bakti Sejahtera. Dosen Disaster Management Universitas Diponegoro (Undip) ini kerap jadi relawan di daerah bencana.
Ketika Belanda dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)-nya tuntas menjajah Indonesia, hanya tersisa Aceh dan beberapa daerah yang masih melawan.
Perlawanan bukan saja berangkat dari ketidakadilan sosial, tetapi juga ideologi agama yang berbeda.
Belanda abad 19, berkat perdagangan rempah-rempah Indonesia, telah jadi negeri terkaya di Eropa. Maka dikirimlah banyak anak muda agar lebih banyak mengeruk hasil bumi dan dibangunlah rel kereta api dan bangunan indah dari hasil jarahan itu.
Saat Belanda kaya raya, di Indonesia banyak orang hunger udem, suatu keadaan kekurangan gizi kronis yang menimpa orang dewasa. Kaki bengkak karena kurang protein. Anak stunting pada keadaan itu.
Dari anak muda Belanda yang tugas, banyak yang jatuh hati pada Indonesia dan Iba. Maka muncul iba dalam bentuk politik balas budi.
Sebelumnya yang boleh sekolah anak Belanda, maka anak Indonesia boleh. Tetapi dibatasi ambtenar, pegawai Belanda. Maka dulu yang jadi dokter cuma Belanda, munculah dokter Pribumi, seperti Dr. Sutomo dari STOVIA sekolah dokter Jakarta.
Seperti Pegawai Tidak Tetap (PTT) saat ini bagi dokter, mereka tugas di daerah-daerah miskin untuk obati pribumi.
Walau Dr. Sutomo berpacaran dan beristri Belanda, dia setiap hari melihat pasien pribumi yang kurang gizi, kurusan, kudisan, sakit diare, tuberkolusis (TBC ) dll, penyakit yang muncul karena keadaan miskin, lingkungan buruk, dan kurang gizi.
Keadilan Sosial adalah Obat Utama Penyakit

Penyakit ini memang bisa diobati, tetapi ibarat rumput terus bertumbuh. Sementara, Belanda tak ada yang miskin sehingga gizinya baik dll. Maka sebagai seorang dokter dia berpikir obat utamanya adalah public health equality, keadilan sosial.
Pikiran dia ternyata sejalan dengan Dr. Gunawan, Dr. Wahidin (asli Ambarawa dan dimakamkan dekat pasar Ambarawa). Saat itu, 1908, jelas tidak mudah membicarakan kemerdekaan. Maka, dibentuklah organisasi massa (ormas) Budi Utomo.
Kelompok ini makin kuat menyuarakan keadilan dan martabat bangsa. Agar makin dikuatkan advokasinya, maka dibentuklah partai Indische Party yang dibentuk Dr. Wahidin, Dr. Deuwes Dekker, Dr. Wahidin.
Tahun 1912, setelah Budi Utomo berdiri, dari kelompok Islam yang mendidik anak dalam pesantren dan pengajian kampung terbentuklah Sarikat Islam Solo, kemudian terbentuk juga Muhammadyah dengan Taman siswanya.
Dari Budi Utomo, inspirasi keadilan menguat hingga jadi perlawanan politik yang akhirnya muncul pada tahun 1940-an.
Tokoh karismatik Ir. Sukarno menyatukan Jong Java, Jong Maluku, Jong Sumatra, Jong Borneo bahkan orang Belanda untuk melawan secara fisik, hingga menuju kemerdekaan.
Pertanyaannya, sudahkah keadilan sosial yang mereka cita-citakan sudah didapat saat Belanda diusir. Bahkan, setelah 80 tahun merdeka ini sudahkah keadilan sosial itu tercapai?
Saat ini indikator keadilan Gini Ratio kita justru makin turun.
Kekayaan kita mayoritas dimiliki oleh 2% orang oligarki dan pejabat korup dan tak tahu fungsi regulasi sosial. Kemiskinan meliputi hampir 50% rakyat (paramater Organisasi Buruh Dunia/International Labor Organization/ILO).
Baca Juga: Ramai-Ramai Khianati Mandat Rakyat
Kini, ibarat bangsa kena Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), sistem regulasi Trias Politika bukan saling menguatkan tetapi saling berlomba mengeruk harta.
Hedonisme jadi gaya hidup. Orang dianggap sukses jika kaya, tak peduli dari hasil mencuri atau lainnya. Kita harus mulai bangkit kembali. Dari mimpi kaya dari alam namun miskin pemerataan.
Kita harus bangkit lagi. DARI MANA KITA MULAI?
Dari diri kita: selalu hidup sederhana, berikan lebih dari kecukupan untuk sesama, jangan mengagumi orang kaya yang layak dicurigai hasil kekayaannya dari mencuri, baik dengan cara legal maupun ilegal.
Apalagi, mengagumi pejabat yang tak jelas kerja dan fungsi dan hasil kerjanya bagi bangsa. Salam kebangkitan.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance