Oleh Hamid Basyaib: aktivis Islam Liberal, cendekiawan yang menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional. Kini fokus menulis buku, dan mendorong diskusi berbasis intelektualitas di ruang publik baik secara daring maupun luring.

CINTA jarang datang dengan cara yang rapi.

Ia tidak mengetuk pintu dengan sopan. Tidak mengirim pesan lebih dulu. Tidak pula menunggu kita siap.

Ia kerap hadir seperti petir—tiba-tiba, terang, dan seringkali mengejutkan. Dalam sekejap, ia mengubah suasana hati, cara berpikir, bahkan cara kita memandang diri sendiri.

Orang yang biasanya tenang bisa menjadi gelisah. Yang biasa rasional bisa menjadi impulsif. Yang selalu mandiri bisa tiba-tiba merasa membutuhkan seseorang.

Dan anehnya, semua itu terasa masuk akal. Itulah salah satu hal paling membingungkan tentang cinta: ia membuat hal-hal yang tidak rasional terasa sepenuhnya wajar.

Barangkali itulah yang dimaksud oleh Kahlil Gibran ketika ia menulis:

“When love beckons to you, follow him,

Though his ways are hard and steep.”

Cinta, dalam pengertian ini, bukan sesuatu yang kita kendalikan sepenuhnya. Ia lebih sering seperti panggilan—yang muncul, entah dari mana, dan mendesak kita untuk mengikuti, bahkan ketika kita belum sepenuhnya siap.

Banyak orang mengira cinta adalah sesuatu yang sederhana. Bahwa jika kita menyukai seseorang, dan orang itu balik menyukai kita, maka segalanya akan beres belaka. Padahal urusannya tidak sesimpel itu.

Bukan Soal Merasa, tapi Memahami

jalan

Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga tentang cara kita memahami perasaan itu—dan bagaimana kita menyikapinya.Di sinilah banyak orang mulai tersesat. Sebagian orang terlalu cepat memberi. Sebagian lain terlalu takut untuk terbuka.

Ada yang mengira perhatian kecil adalah tanda cinta yang besar. Ada yang mengabaikan sinyal yang jelas, karena tidak sesuai dengan harapan mereka.

Cinta, pada akhirnya, bukan hanya soal “apa yang kita rasakan”, tapi juga “apa yang sebenarnya sedang terjadi”.

Bila Kau Jatuh Cinta ditulis bukan untuk mengajari Anda cara jatuh cinta. Itu tidak perlu diajarkan. Setiap orang, cepat atau lambat, akan mengalaminya sendiri.

Buku ini ditulis untuk maksud yang lebih sederhana, dan mungkin lebih penting: untuk membantu Anda memahami apa yang sedang terjadi ketika itu terjadi.

Mengapa seseorang bisa terasa begitu istimewa, bahkan sebelum kita benar-benar mengenalnya? Mengapa perhatian kecil bisa terasa sangat berarti? Mengapa kita bisa memberi begitu banyak, bahkan ketika belum tentu ada balasan yang setara?

Dan yang lebih penting: bagaimana tetap menjadi diri sendiri di tengah semua itu?

Sebab, sebenarnya jatuh cinta bukanlah masalah. Itu bagian alami dari menjadi manusia. Yang sering jadi masalah adalah apa yang kita lakukan setelahnya.

Menjadi Pengingat Ketika Kehilangan Arah

Bila Kau Jatuh Cinta

Buku ini tidak akan memberi Anda resep pasti, karena cinta bukanlah hal yang bisa diatur dengan rumus.

Tetapi jika dibaca dengan perlahan, mungkin ia bisa menjadi semacam teman—yang membantu Anda melihat lebih jernih, ketika perasaan mulai terasa terlalu kuat.

Jika suatu saat Anda merasa bingung, terlalu berharap, atau justru mulai kehilangan arah, mungkin Anda bisa kembali ke halaman-halaman ini.

Bukan untuk mencari jawaban mutlak, tapi untuk mengingat satu hal sederhana: bahwa apa yang Anda rasakan itu manusiawi. Dan bahwa Anda tetap berhak untuk tidak kehilangan diri sendiri.

Bagi pribadi penulisnya, penuturan dalam buku ini menjadi semacam meditasi hati sekaligus napak-tilas batin.

Ia seperti mengunjungi lagi apa-apa yang telah terjadi, sambil membanding-bandingkan dengan apa yang sedang terjadi — dan mungkin sekaligus membayangkan apa yang akan terjadi kelak.

Baca Juga: Khairullah: Terus Berjuang, Tak Ada Kamus Patah Arang

Saya berterima kasih kepada sejumlah orang yang, dengan cara mereka masing-masing, dan belum tentu mereka sadari, turut menyumbang pengalaman bagi penulisan buku ini, meski nama-nama mereka sebaiknya tidak disebutkan di sini.

Mereka boleh mendengarkan lagi lagu “To All the Girls I’ve Loved Before”, karya Willie Nelson yang cukup tepat menggambarkan lanskap emosi penulis buku ini.

Bagaimanapun, “all the girls” itu membuat saya berubah, selain memandu saya dalam menemukan diri sendiri.

Sebagian perubahan itu mungkin menuju arah yang tidak selalu saya inginkan. Tapi saya rasa pada umumnya membuat saya tumbuh ke dataran baru yang lebih baik.

Selamat datang dalam perjalanan yang penuh warna—sebuah perjalanan yang tak selalu mudah, tapi indah.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.