Oleh Dwiki Setiyawan, mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo, kini aktif sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI) 2022-2027.

Dunia gelap baginya. Ini bukan arti kiasan. Tapi senyatanya dialami Irul--demikian panggilan Khairullah--seorang alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jogja.

Ia buta. Bahasa halusnya tunanetra. Lantaran penyakit glaukoma sejak muda yang idapnya. Saya coba berempati padanya. Untuk ikut merasakannya. Membayangkan saja tak sampai hati.

Umpamanya: kini Irul tak tahu perubahan fisik yang perlahan menua. Tak bisa melihat perubahan lekuk-lekuk dan guratan rona wajah istri tercinta, dan tumbuh-kembang raga anak-anaknya.

Glaukoma adalah kerusakan pada saraf mata akibat tingginya tekanan di dalam bola mata. Kondisi ini ditandai dengan sakit mata, mata merah, penglihatan kabur, serta mual dan muntah. Pada akhirnya menyebabkan kebutaan.

Satu contoh kasus glaukoma terkenal, seperti yang dialami Presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurahman Wahid. alias Gus Dur.

Mula-mula menyerang satu mata Irul hingga buta. Dan seiring waktu merembet satu lagi. Dus, kini kedua matanya tak berfungsi sebagai indera penglihatan.

Ketika bertahun lalu ia menelpon saya, dan menyatakan dirinya buta, tak terasa air mata menetes di pipi. Sedih mendengarnya. Prihatin. Namun tak bisa membantu meringankan beban penderitaan dirinya.

Baru kinilah, saya berani menuliskan hal yang terjadi tentang dia. Itupun sepengetahuan dan izinnya.

Dedikasi pada HMI

Khairullah

Meneropong kembali terowongan waktu yang berlalu, teringat akan dedikasi Irul pada HMI. Ia aktif menulis sejak mahasiswa di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia menggawangi jurnal "Sinergitas" yang diterbitkan HMI Cabang Yogyakarta.

Saya mengenal dekat Irul sejak Kongres ke-21 HMI Agustus tahun 1997 di Gedung Bimo Kota Baru Yogyakarta--selemparan batu dari tempat ibadah muslim ikonik: Masjid Syuhada.

Sebagai pemimpin redaksi jurnal kongres HMI, Irul saya rekrut sebagai staf redaksi. Ia juga mengajak beberapa rekannya bergabung di keredaksian.Jurnal Kongres HMI Jogja, Alhamdulillah, terbit rutin setiap hari.

Master/bahan jurnal berupa cetakan dari printer. Tata letak atau layout menggunakan program pagemaker. Kemudian hanya di-fotocopy bolak-balik ratusan buah, untuk dibagikan gratis peserta kongres.

Yang tak terduga, dan saya kaget, mayoritas redaksi ternyata pendukung kandidat Ketua Umum PB HMI Anas Urbaningrum. Lantaran itu, sedikit maupun banyak, kehadiran jurnal kongres tersebut, turut andil menaikkan citra Anas Urbaningrum.

Hingga akhirnya Anas terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI Periode 1997-1999.

Ketika saya terpilih sebagai Ketua Umum Badan Kordinasi Nasional Lembaga Pers PB HMI (Bakornas LAPMI) di era Ketua Umum Anas Urbaningrum, Irul saya jadikan Ketua Bidang.

Kerja bareng sebagai tim terakhir dengannya pada saat Kongres ke-22 HMI di Jambi tahun 1999. Sama seperti kongres sebelumnya di Jogja, menerbitkan rutin jurnal Kongres HMI Jambi.

Jua segendang-sepenarian, bisa terbit setiap hari selama pelaksanaan momen akbar dan penting warga HMI tesebut.

Jejak Karier & Keluarga

Khairullah

Selepas Kongres HMI Jambi 1999, Khairullah masuk kepengurusan PB HMI. Sebagai anggota Departemen Lingkungan dan HAM PB HMI Periode 2000-2002 era Ketua Umum M Fakhruddin.

Lelaki asli Aceh kelahiran 1972 dari Gampong Dayah Usi, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh ini, lulus dari Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1999.

Di kepengurusan PB HMI ia lanjutkan kuliah S2 di Program Studi Sosiologi Universitas Indonesia. Dan lulus pada 2004. Berbekal lulusan Sosiologi UI itulah, Irul bekerja sebagai konsultan sejak 2006.

Dia berkiprah di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bank Dunia, United Nations Development Bank (UNDP), dan lain-lain. Terakhir konsultan di Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) hingga 2019.

"Ijazah S1 saya dari UIN hanya untuk pribadi saja. Tetapi, yang saya jual untuk mendapatkan pekerjaan sebagai konsultan adalah sebagai lulusan magister UI," kata Irul terkekeh mengenang. Di ujung telepon sana.

Lantas, datanglah pandemi Covid-19. Praktis ia tanpa pekerjaan. Sementara, kebutuhan hidup jalan terus. Tak bisa dihentikan.

Untuk biaya pengobatan mata, misalnya, pada akhirnya mau tak mau menggerus hingga tak tersisa dari tabungan semasa jadi konsultan, yang tak seberapa besarnya.

Beban hidup agak berat itu, bertambah dengan "kiamat kecil" yang datang menghampiri. Ketika mata satunya tak bisa melihat. Ia pun tunanetra pada 2022.

Secercah Sinar di Ujung Terowongan

Khairullah

Khairullah menikah tahun 2007 pada usia 34 tahun. Ia katakan sendiri: telat memulai bahtera kehidupan perkawinan. Mempersunting teman semasa kuliahnya di UIN Sunan Kalijaga Jogja: Khairunisa Manik.

Nisa ini adik kandung almarhum Husni Kamil Malik, yang pernah menjabat Ketua KPU RI. Mereka dikarunia 3 anak.

Pertama, seorang perempuan usia 18 tahun, yang kini mahasiswa Semester IV UPN Veteran Yogyakarta. Anak kedua, lelaki usia 16 tahun, Kelas X SMA. Dan anak ketiga, perempuan 12 tahun, yang kini Kelas VII SMP.

Walaupun terkungkung dalam terowongan gelap, Irul yang tuna netra tetap berjuang. Baginya tak ada kamus kata menyerah dan pasrah pada keadaan. Ia pantang patah arang.

Ia gunakan "TalkBack" di ponsel android untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Fitur berbasis suara untuk tuna netra itu membantunya terhubung dan bersosialisasi, serta bermedia sosial. Mengubah teks jadi pesan suara saat baca pesan.

Pun sebaliknya mengubah suara yang ia ucapan jadi pesan teks, untuk menulis alih-alih berkomunikasi. Termasuk menelpon seseorang yang ada dalam daftar kontak, dengan hanya menyebutkan nama tersimpan.

Hari-harinya kini, diisi setiap 3 (tiga) kali seminggu, ia kursus penulisan Braile untuk laptop. Selama beberapa bulan ke depan. Agar bisa produktif dan ada pemasukan keuangan. Guna menopang ekonomi keluarga.

Tinggal di Deli Serdang, Sumatera Utara. Berbatasan dengan kota Medan. Ia menempuh jarak 30 km pulang pergi ke kota Medan untuk kursus dimaksud.

Biaya kursus dan operasional yang dikeluarkan cukup lumayan. Saya tak sempat tanya, darimana membiayainya. Namun, yang jelas ia tak punya penghasilan sama sekali.

Baca Juga: Ditolak Keras Warga, Pemda DKI Batal Ubah Trotoar Menjadi Jalur Pemotor

Di atas itu semua, ikhtiar yang ia lakukan, tiada lain bertujuan untuk bangkit kembali. Agar produktif, mandiri dan diharapkan mendatangkan penghasilan. Irul tak mau berpangku tangan. Semangat juangnya tetap tinggi.

Baginya, didalam labirin terowongan gelap yang ia lalui, masih ada secercah sinar di ujung sana di sanubarinya. Di langit pikiran dan dataran hatinya... sayup terngiang bahwa Tuhan tak akan mengubah nasibnya jika ia pasrah dan tak mengubahnya sendiri.

Sudah agak panjang saya menggoreskan pena. Ujung jemari menari-nari di layar ponsel. Saatnya menutup layar panggung sandiwara episode jatuh bangun kehidupan anak manusia ini.

Saya akhiri dengan menarik benang merah, pada tekad dan semangat juang Khairullah. Setarikan nafas bak selarik lirik lagu dari Miley Cyrus bertajuk The Climb:

"Bukan soal seberapa cepat aku sampai ke sana; Bukan pula soal apa yang sedang menunggu di seberang sana; (Namun) soal pendakiannya"

Semoga ikhtiar pendakian (untuk bangkit kembali) yang dilakukannya memberi keberkahan hidupnya. Aamiin YRA.***

Untuk menikmati berita peristiwa di seluruh dunia, ikuti kanal TheStanceID di Whatsapp dan Telegram.