Didik J. Rachbini

Oleh Didik J. Rachbini, tokoh Partai Amanat Nasional (PAN) yang pernah menjabat sebagai anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masa bakti 2004-2009. Kini menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina dan aktif sebagai ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Sebelum Michael Bambang Hartono wafat beberapa bulan yang lalu Universitas Paramadina mengundang entreprenuer Victor Hartono untuk memberi kuliah umum.

Victor Hartono adalah pemimpin Group Djarum yang sangat besar dan sekaligus pewaris Bambang dan Budi Hartono.

Narasi ceramahnya luar biasa dan mengungkan kisah perjalanan panjang Group Djarum yang jatuh bangun sejak tahun 1927 dengan berbisnis mercon atau petasan untuk hari-hari besar.

Saya sebagai rektor menilai bahwa pengalaman pelaku bisnis sekaliber Victor Hartono penting untuk dibagikan kepada bagi generasi muda.

Pemahaman tentang dunia usaha yang kompleks, suksesi dan proses regenerasinya dalam bisnis keluarga patut menjadi pelajaran berharga bagi calon pemimpin masa depan.

Menghadirkan sosok seperti Victor Hartono adalah langkah strategis untuk membagikan kisah nyata tentang keberlangsungan bisnis lintas generasi.

Menyerap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

BCA

Sejaran bisnis yang berlangsung sejak 1927 melahirkan konglomerasi, yang banyak menyerap tenaga kerja dan jaringan bisnis yang sangat luas. Tenaga kerja langsung dari grup ini paling tidak mencapai ratusan ribu (100 ribu-120 ribu tenaga kerja.

Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terserap tenaga kerja tidak kurang dari 25 ribu-30 ribu karyawan. Industri rokok bisa mencapai 70 ribu tenaga kerja. Yang lain seperti industri elektonik, jasa-jasa, e-commerce bisa mencapai 10 ribu karyawan.

Sementara itu, tenaga kerja tidak langsung bisa mencapai jutaan tenaga kerja mulai dari rantai pasok tembakau dan cengkeh (petani tembakau, petani cengkeh, pengepul dan distributor bahan baku dan lainnya).

Jaringan Group Djarum juga meluas mulai dari distribusi ritel, warung, toko, agen rokok, pedagang kecil dan lainnya. Setelah generasi Bambang Hartono dan Budi Hartono, Victor Hartono adalah generasi ke-9 keluarga besar Hartono Djarum Group.

Dalam kuliah umum tersebut Victor menjelaskan sejak tahun 1927, bisnis keluarga ini belasan kali jatuh bangun dengan pengalaman pahit yang sangat panjang tetapi menjadi menjadi pelajaran penting untuk terus berubah dan berinovasi.

Industri lama yang digeluti hilang berganti yang baru, industri saat ini belum tentu relevan dan bisa terus berjalan di masa mendatang.

Kondisi politik dan gejolak internasional biasanya menjadi faktor yang menentukan jatuh dan bangun dunia usaha atau secara khusus keberlangsungan grup ini.

Dimulai dari Mercon Cap Leo

mercon

Victor menjelaskan bahwa bisnis awal berdagang mercon habis sama sekali karena faktor politik labil pada masa peralihan Belanda ke Jepang dan masa kemerdekaan.

Praktis bisnis keluarga pada masa awal tahun 1930-an dan 1940-an hancur karena perubahan politik.

Victor menjelaskan sejarah sang kakek, Oei Wie Gwan yang merintis usaha pabrik mercon dengan merek dagang Cap Leo bangkrut berkali-kali karena kecelakaan ledakan, perampokan, hingga larangan produksi saat pendudukan Jepang pada 1942.

Setelah itu bisnis keluarga Hartono beralih masuk perdagangan minyak kacang. Namun, dengan hadirnya kelapa sawit yang lebih efisien, usaha itu pun bangkrut juga oleh dinamika pasar sawit yang efisien dan berkembang pesat.

Selain tantangan eksternal, bisnis keluarga juga ada tantangan internal yakni keluarga. Tali temali keluarga yang banyak jumlahnya tak mungkin bisa menjalankan bisnis semuanya. Hambatan kritis terhadap bisnis acapkali datang dari keluarga.

Beragam perselisihan mulai dari masalah arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian dividen yang tidak adil disebutnya sebagai bom waktu yang bisa menggoyahkan bisnis keluarga.

Tetapi pada saat ini ada semacam “dewan syuro” di dalam grup Djarum yang memilih pemimpin secara selektif sehingga menemukan pemimpin bisnis yang bagus dan pintar menjalankan bisnis.

Di sinilah bisnis warisan Bambang Hartono dan Budi Hartono terus berjalan dan berkembang.

Baca Juga: Obituari: Mengenang Kwik Kian Gie

Jadi dalam rangka menjaga keberlanjutan bisnis keluarga, Victor menjelaskan fungsi “dewan syuro” tersebut. Bambang Hartono tidak boleh mengajukan anaknya untuk memimpin, begitu juga Budi Hartono.

Anggota "dewan syuro" yang lain yang harus mengajukan agar objektif si calon benar-benar bisa memimpin.

Di dalam group ada struktur kepemimpinan yang jelas, bahwa pemimpin utama sebaiknya hanya satu agar arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisir.

Dengan cara itu, pembagian peran antar anggota keluarga terbagi secara adil. Kekompakan internal terjaga dengan semangat keterbukaan bersama. Itulah strategi memperkuat daya saing jangka panjang dari grup ini.

Meskipun Bambang Hartono wafat tetapi generasi selanjutnya siap meneruskan. Regenerasi yang solid adalah kunci sukses dalam bisnis keluarga.

Menurut Victor, regenerasi tidak boleh berhenti pada pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman dan terus berjalan ke generasi berikutnya.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.