Jakarta, TheStance – Masa berkabung selama 40 hari ditetapkan di Iran setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan pengecut Amerika Serikat (AS)-Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Disebut pengecut, karena serangan berlabel pre-emptive itu dilakukan saat AS dan Iran sedang berdiplomasi terkait dengan program nuklir damai iran yang hendak disetop AS dengan dalih dipakai untuk membuat bom atom.
Tanpa deklarasi perang, menusuk dari belakang. Ali Khamenei menjalankan tugas dan beraktivitas seperti biasa di kediamannya, sebelum serangan AS-Israel sekonyong-konyong menghantamnya.
Namun dia memilih jalan itu, bertahan bersama rakyatnya, sebagaimana disampaikan Abdul Majid Hakeem Ilahi, wakil rahbar Iran di India. Di tengah informasi bahwa AS-Israel akan menyerang, dia menolak dievakuasi.
Rasa duka sontak menyelimuti masyarakat Iran menyusul pengumuman resmi pemerintah Iran atas mangkatnya Khamenei, setelah selama 1 hari publik Iran dan dunia bertanya-tanya mengenai nasibnya setelah serangan AS-Israel.
“Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, gugur setelah diserang oleh rezim zionis (Israel) dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi,” tulis laporan IRNA, kantor berita resmi Iran pada Minggu, 1 Maret 2026.
Serangan Israel-AS yang terus mendera seolah tak mengizinkan mereka untuk berduka. Rakyat Iran pun terkonsolidasi dan melawan. Kematian Ali Khamenei mengobarkan semangat perang bangsa Iran, yang kini memasuki hari ke-10.
Api Bangsa Iran dari Keluarga Sayyid

Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Kota Mashhad, 900 km dari Teheran. Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara dengan latar belakang keluarga muslim sederhana.
Namun demikian, dia bukan orang sembarangan. Silsilah keluarganya jika dirunut merujuk pada Ali Zainal Abidin bin Hussein, putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Muhammad SAW. Betul, dia adalah seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad.
Khamenei memperdalam pendidikan agama di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah di Najaf dan Qom. Di kota Qom, ia dikenal dekat dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini, figur di balik Revolusi Iran pada 1979.
Saat itu Khomeini sangat populer di kalangan kaum pelajar karena menolak legitimasi Shah Mohammad Reza Pahlavi yang membawa Iran ke dalam pengaruh Barat.
Sebagai pengikut Khomeini yang menentang Shah, Khamenei dijebloskan ke penjara hingga enam kali oleh polisi rahasia Savak, yang dikenal kejam dan brutal.
Ketika Khomeini diasingkan oleh Shah Iran selama lebih dari 15 tahun ke luar negeri, Khamenei diam-diam tetap menjalin hubungan dengannya.
Ketika Khomeini kembali ke Iran pada 1979, Khamenei langsung diberi amanat menjadi anggota Dewan Revolusi. Ia juga pernah menduduki posisi Wakil Menteri Pertahanan dan menjadi tangan kanan Khomeini di Dewan Pertahanan Tertinggi.
Pada 27 Juni 1981, ketika berceramah di sebuah masjid di Teheran, teroris wahabbi yakni Mujahidin e-Khalq (MEK) meledakkan bom yang disembunyikan dalam perekam kaset tepat di depannya.
Ledakan itu merusak paru-parunya secara parah dan melumpuhkan lengan kanannya secara permanen. Fakta bahwa ia selamat dipandang para pengikutnya sebagai tanda ilahiah akan kepemimpinannya, semacam karomah.
Karir Politik yang Penuh Bahaya

Khamenei terpilih sebagai presiden selama dua periode yaitu pada tahun 1981 dan terpilih kembali pada tahun 1985. Pada saat itu, posisi presiden adalah jabatan simbolis karena sebagian besar wewenang berada di tangan perdana menteri.
Namun, ia tak lantas bisa hidup nyaman. Ancaman terus berlanjut. Pada Maret 1985, saat Khamenei sedang berkhutbah di tengah jamaah salat Jumat di Universitas Teheran, seorang teroris meledakkan bom bunuh diri.
Ledakan itu menewaskan pelaku dan beberapa jamaah. Khamenei tidak terluka. Ia mengajak jamaah tetap di tempat. Setelah jeda 3 menit, ia melanjutkan khutbahnya: "Kita akan membalas setiap pukulan dengan pukulan yang lebih keras".
Setelah calon perdana menteri yang dia ajukan ditolak oleh parlemen yang dikendalikan Kelompok Kiri, Khamenei terpaksa menggandeng Mir Hossein Mousavi sebagai perdana menteri atas kemauan Khomeini.
Merujuk pada Britannica, hubungan Khamenei dan Mousavi kurang begitu harmonis yang menyebabkan keduanya kerap berselisih paham selama masa kepresidenan Khamenei. Pertentangan itu masih terjadi bahkan setelah masa jabatannya selesai.
Sepeninggal Khomeini pada 1989, Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama fakih di Iran memilih Khamenei sebagai rahbar (Pemimpin Tertinggi Iran). Maklum saja, Imam Khomeini merekomendasikannya dalam wasiat.
Sebagai informasi, Republik Islam Iran berdiri dengan konsep velāyat-e faqīh (pemerintahan tertinggi dipegang oleh ulama fakih yang menyandang status sebagai mujtahid).
Masa Kepemimpinan Khamenei

Sebelum resmi dipilih untuk memimpin Iran, Khamenei sempat terganjal salah satu syarat untuk menjadi rahbar, yakni harus berstatus Imam Marja (ulama yang berkualitas mujtahid, dibuktikan dengan karya, dan layak memberikan fatwa).
Saat itu Khamenei baru bergelar hojatoleslām yang secara hierarki belum mencapai tingkat ijtihad tertinggi. Meski tak memenuhi kualifikasi, para ulama fakih di Majelis Pakar sepakat melonggarkan sistem lewat referendum pada 28 Juli 1989.
Salah satu perubahan besar dalam konstitusi itu adalah menghapus persyaratan bahwa pemimpin tertinggi harus seorang marja’ dan diganti dengan syarat yang lebih luwes.
“Saya percaya saya tidak pantas untuk posisi ini. Mungkin Anda dan saya sama-sama tahu ini. Ini akan menjadi kepemimpinan simbolis, bukan kepemimpinan nyata,” kata Khamenei saat itu.
Setelah dipilih menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei mulai membangun kembali negaranya yang hancur akibat delapan tahun agresi Irak yang menghancurkan, yang didanai dan didukung penuh negara-negara Barat serta Negara Teluk.
Imbas dari perang itu, di mana Irak menggunakan senjata kimia secara terang-terangan berkat pasokan dan izin dari Barat, lebih dari 1 juta orang Iran gugur. Perekonomian kacau balau.
Sejak memimpin Iran, Khamenei memperkuat garda militer. Dia semacam terobsesi memperkuat kekuatan militer domestik bahkan sejak masih menjadi presiden.
Ia mempererat hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), satuan loyalis Khomeini yang bersumpah setia pada rahbar hingga kematiannya. Ia pun mendapatkan pemahaman tentang strategi dan realita perang dari satuan militer ini.
Ulama yang Digembleng di Kawah Medan Perang

Profesor bidang Antropologi dan studi Timur Tengah di Universitas John Hopkins Narges Bajoghli menyebut Khamenei sebagai sosok pemimpin yang dibentuk dalam perang Iran-Irak.
Menurut diaspora Iran tersebut. pandangannya Khamenei semakin terbuka perihal politik domestik dan luar negeri, setelah memahami dan terlibat langsung dalam konflik tersebut.
“Setelah menjadi pemimpin tertinggi, ia fokus pada pembangunan aparat militer dan paramiliter untuk pengepungan, untuk perlawanan yang berkelanjutan,” katanya.
Namun demikian, ia tetap memegang teguh pedoman dan adab perang dalam Islam, yakni tidak melakukan kejahatan kemanusiaan dengan membunuhi warga sipil atau meluluhlantakkan semua yang ada di permukaan bumi.
Dua fatwa yang dia buat, dan membentuk militer Iran menjadi begitu berbeda hingga saat ini adalah fatwa tentang haramnya bom atom, dan fatwa tentang wajibnya membuat senjata dengan tingkat presisi tinggi (untuk menghindari korban warga sipil).
Bom nuklir menurut Khamenei tak hanya membunuh manusia, hewan, dan tumbuhan, melainkan juga jasad renik dan mikroba di dalam tanah sehingga menurut dia "tidak islami." Fatwa itu dia keluarkan pada awal tahun 2000.
Ironisnya, Barat terus menuding bahwa Iran mengembangkan bom nuklir dan sejak tahun 1980-an menuding Iran "sedikit lagi memasuki tahap pengembangan bom nuklir." Narasi itu terus diputar bahkan hingga kini, misalnya oleh New York Times.
Membuka Dialog tapi Menolak Bertemu

Meski dikenal tegas terhadap AS dan sekutunya, Khamenei tetap membuka peluang dialog dengan mereka. Pada 2015, di tengah sanksi internasional berat akibat program nuklir Iran, ia membiarkan Presiden Hassan Rouhani bernegosiasi.
Hasilnya, Iran menyetujui perjanjian nuklir melalui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.
Setelah Donald Trump menjadi presiden di periode pertama, AS menarik diri dari perjanjian tersebut. Sanksi kembali diperketat yang artinya perjanjian tersebut tidak berlaku lagi. Iran pun meningkatkan pengayaan uranium hingga 60%.
Perundingan kembali berlangsung antara Iran dan AS. Terbaru, kedua negara melakukan negosiasi soal program nuklir di Jenewa, Swiss, tetapi tak menghasilkan kesepakatan final.
Meski mengizinkan negosiasi dengan AS, Khamenei menolak bertemu dengan presiden AS, apalagi Israel. Sebagai seseorang yang dididik di "madrasah Karbala", dia meneladani Husain bin Ali ketika menolak menemui penguasa lalim Yazid bin Muawiyah:
Seseorang seperti saya tidak akan berbaiat dengan seseorang seperti Yazid.
Bagi sosok narsis seperti Trump, ini penghinaan karena kepala negara manapun yang dia panggil akan langsung menghadap. Hanya dua pemimpin negara yang menolaknya yakni Nicolas Maduro dan Ali Khamenei.
Semasa kepemimpinannya, Khamenei juga membentuk jaringan sekutu regional bersama dengan Hizbullah di Lebanon, Bashar al-Assad di Suriah, Hamas di Palestina, kelompok Houthi di Yaman, serta kelompok bersenjata di Irak.
Poros ini melemah setelah AS memperluas kampanye untuk menekan poros perlawanan, mulai dari sanksi, penciptaan ISIS dan separatis di sekitar mereka, hingga pengeboman langsung melalui tangan negara sekutu mereka di kawasan.
Baca Juga: Jiwa-Jiwa Merdeka, Melawan Penjajahan dari Penjara Lewat Karya Sastra
Yang pertama dilemahkan tentu saja poros perlawanan Palestina, khususnya di Gaza yang terang-terangan mengaku didukung Iran. Target selanjutnya adalah serangan Israel terhadap Hizbullah, hingga jatuhnya rezim Bashar-Al Assad Desember 2024.
Selepas itu, Iran menjadi target selanjutnya dengan serangan udara yang menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur militernya pada 13 Juni 2025.
Namun Iran membalas, dengan mengirim salvo ratusan rudal ke Tel Aviv. Perang terbuka berlangsung hampir dua minggu, yang ditutup dengan serangan simbolis AS terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Khamenei blak-blakan mengecam AS, menyebutnya setan besar dengan Israel sebagai setan kecil karena menciptakan kekacauan di kawasan Timur Tengah dan di dunia.
Pada aksi demonstrasi besar-besaran akhir Desember hingga awal tahun ini, Khamenei menuduh AS sebagai aktor di balik kerusuhan.
Situasi memanas ketika AS mengirimkan kapal perangnya ke perairan negara-negara Teluk. Khamenei berulang kali memperingatkan AS intervensi militer di Iran karena akan menimbulkan konsekuensi besar.
Peringatan itu terbukti. Sepeninggalan Khamenei, bangsa Iran justru bangkit melawan, menolak semua kabel diplomatik yang dikirim AS. Bagi mereka, kematian Khamenei adalah awal dari perang puputan. Ini yang tak diperhitungkan Trump. (mhf/ags)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance