TheStance  Setelah menghabiskan 25 tahun di penjara Israel, Abu Hneish merayakan pameran karya-karyanya yang diproduksi dari balik jeruji, membuktikan bahwa api perjuangan Palestina tidak akan pernah padam.

Hidup di bawah pendudukan Israel, warga Beit Dajan, dekat Nablus, Tepi Barat ini memang tidak memiliki senjata. Namun, dia bisa menulis dan menggunakannya untuk melakukan perlawanan secara intelektual.

Selama di dalam penjara, Abu Hneish menerbitkan lebih dari 15 buku, berbarengan dengan puluhan studi, artikel, dan puisi yang membahas isu-isu politik, nasional, dan budaya.

Di antara karya-karyanya yang paling terkenal adalah buku berjudul Israel: Sebuah Negara Tanpa Identitas, Kapsul, dan Sisi Ketujuh.

Ia ditahan pada tahun 2003 setelah bertahun-tahun dikejar, dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sebanyak sembilan kali, dan ditambah 78 tahun.

Artinya, jika dia mati suri dan bangkit kembali selama sembilan kali, dia masih harus mendekam di penjara 78 tahun jika ingin bebas.

Operasi penyergapan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menawan puluhan sandera sebagai alat pertukaran tahanan menjadi kunci pembuka bagi pintu kemerdekaannya.

Alih-alih mengecam penahanan semena-mena warga Palestina oleh Israel, negara Barat justru mengecam operasi Hamas yang berujung pada bebasnya ribuan warga Palestina yang ditahan semena-mena tersebut.

Terus Berjuang di Balik Penjara

Abu Hneish

Meskipun mengalami penindasan berat, isolasi, dan larangan kunjungan, Abu Hneish melanjutkan aktivitas perlawanannya dari dalam penjara.

Ia terpilih sebagai anggota Biro Politik Front Populer dan memainkan peran sentral dalam penyusunan dokumen-dokumen penting bagi gerakan tahanan, terutama Dokumen Mogok Besar 2017.

Bahkan saat masih ditahan, ia bertekad meneruskan studinya, mengambil program studi pasca-sarjana secara daring, hingga kemudian meraih gelar master dalam bidang Urusan Israel dan Regional pada tahun 2019.

Gelar itu tak hanya menyertifikasi kemampuan akademiknya, melainkan juga membuktikan bahwa penjara gagal menghancurkan proyek intelektual dan budayanya.

Ketika di penjara, Abu Hneish dianggap sebagai salah satu pemimpin tahanan yang paling terkemuka dan tokoh kunci dalam Front Populer Pembebasan Palestina.

Berkat Hamas, Abu Hneish dibebaskan pada 14 Oktober 2025, sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan. Namun Israel begitu takut dan membencinya, hingga dia diharuskan diusir dari tanah kelahirannya dan kini bermukim di Mesir.

Di Negeri Piramid inilah dia mengonsolidasikan perjuangannya melawan penjajahan Israel.

Bukan dengan senjata, melainkan dengan meluncurkan dan mempromosikan karya-karyanya tentang pedihnya hidup di bawah penindasan Israel dan harapan akan kemerdekaan.

Karya yang Lekat dengan Pemenjaraan

Abdul Nasser Saleh Tayef

Jalan serupa diambil oleh Abdul Nasser Saleh Tayeh, seorang tokoh budaya terkemuka yang karya-karya sastranya lekat dengan pemenjaraan, perlawanan, dan perjuangan identitas nasional.

Lahir pada tahun 1957, sembilan tahun setelah Nakba (pengusiran besar-besaran warga Palestina oleh pemukim Israel), Tayeh sempat menjadi Wakil Menteri Kebudayaan dan Direktur Kantor Kebudayaan Otoritas Palestina.

Beraktivitas di Tulkarm, Tepi Barat, dia menjadi salah satu anggota pendiri Persatuan Penulis dan Pengarang Palestina yang diakui sebagai salah satu sastrawan Palestina paling berpengaruh dari Tulkarm.

Dijuluki "Penyair Kebebasan," Tayeh menulis sebagian besar puisinya di dalam penjara Israel, mengubah penahanan menjadi ruang kreativitas dan pembangkangan.

Karya-karyanya secara kuat mencerminkan perjuangan warga Palestina, menggambarkan kondisi kemanusiaan yang terpenjara dalam pendudukan, dan semangat perlawanan serta keteguhan turun-temurun yang tak pernah lekang.

Selain menulis, Tayeh adalah tokoh aktif dalam kehidupan budaya dan sosial Palestina, berpartisipasi dalam acara puisi dan acara nasional, serta mendedikasikan dirinya untuk membimbing dan mendukung penulis muda.

Ia sering mewakili Palestina di berbagai forum budaya internasional, termasuk Pameran Buku Internasional Kairo, Festival Jerash, dan Festival Puisi Al-Mirbad, serta berpartisipasi dalam acara sastra di Bahrain, Turki, Suriah, Aljazair, dan Yaman.

Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Turki. Bersama dengan beberapa karya lainnya, Abdul Nasser membantu membentuk puisi modern Palestina.

Pemakaman Dihadiri Tokoh Palestina

Abdul Nasser Saleh Tayef

Masyarakat Tulkarm pada Kamis (5 Februari 2026) berbondong-bondong mengantarkan jenazah Abdul Nasser, melepas kepergiannya setelah menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, sebagaimana dilaporkan Yaffa News Network.

Mewakili pemimpin Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, Gubernur Tulkarm Abdullah Kmeil, menghadiri langsung pemakaman tersebut, meletakkan karangan bunga di makam almarhum Tayeh.

Pemakaman tersebut juga dihadiri oleh faksi-faksi aksi nasional, termasuk Gerakan Pembebasan Nasional Palestina “Fatah,” serta lembaga dan organisasi di provinsi tersebut.

Di antaranya Persatuan Umum Penulis dan Pengarang Palestina, perwakilan dari Kementerian Kebudayaan, intelektual, penulis, lembaga budaya, dan aktivis di seluruh negeri dan wilayah 1948, selain keluarga, kerabat, dan teman-teman almarhum.

Murad Al-Sudani, Sekretaris Jenderal Persatuan Umum Penulis dan Pengarang Palestina secara khusus menyampaikan belasungkawa dengan menekankan besarnya peran Abdul Nasser sebagai anggota Sekretariat Jenderal Persatuan.

Selama pemakaman Abdul Nasser, Muhammad Aloush menyampaikan pidato atas nama faksi-faksi aksi nasional, yang berbicara tentang jalan sastra yang diwujudkan oleh almarhum Tayeh.

Baca Juga: Kisah Nader Sadaqa, Keturunan Umat Nabi Musa yang Ogah Disebut 'Yahudi'

Dengan karya-karyanya, Tayeh meninggalkan warisan yakni nilai kesetiaan dan pengorbanan lewat nasionalalisme budaya dan sastranya, serta pengabdiannya yang teguh kepada tanah air.

Di antara kumpulan puisinya yang paling terkenal adalah:

  • Ksatria yang Terbunuh Sebelum Duel (1980), yang dia tulis selama mendekam di Penjara Tulkarm atas tuduhan menghasut warga Palestina untuk memberontak;

  • Kemuliaan Bersujud di Hadapanmu (1987), yang ditulis di Penjara Negev selama pecahnya Intifada Palestina Pertama di mana dia turut serta di dalamnya;

Baik Abu Hneish dan Abdul Nasser tak pernah memilih untuk lahir dan hidup dalam situasi pendudukan. Namun keduanya memilih untuk berjuang melawan demi kemerdekaan bangsanya.

Meski perjuangan mereka belum membuahkan hasil, mereka membuktikan bahwa nilai sejati dari sebuah perjuangan adalah konsistensi akan nilai perjuangan dan sikap yang pantang berkompromi: sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya.

Baik di dalam maupun di luar penjara, jiwa merdeka mereka terus melawan sampai nanti menemukan kemerdekaan yang hakiki. Entah di bumi, atau di langit. (ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance