Jakarta, TheStance  – Ketika menyebut istilah “Yahudi”, masyarakat awam kerap mengaitkannya langsung dengan paham negara penjajah Israel yang menindas warga Palestina. Padahal, banyak Yahudi yang anti-Israel, salah satunya Neturei Karta.

Tradisi dan spektrum pemikiran di dalam komunitas Yahudi sangat beragam, bahkan tak jarang dalam komunitas mereka memiliki pandangan yang berseberangan.

Misalnya, Neturei Karta, komunitas kecil Yahudi Ultra-Ortodoks, yang terang-terangan menolak paham Zionisme. Pandangan mereka kerap memicu kontroversi dan penolakan keras dari mayoritas komunitas Yahudi, termasuk di kalangan ortodoks sendiri.

Yahudi aliran ini menjadi pembicaraan dunia setelah insiden penabrakan bus oleh kelompok Yahudi Ultra-ortodoks yang sedang berdemo menolak wajib militer bagi warga Yahudi yang tinggal di Palestina.

Insiden pada Selasa (8/1/2026) itu menewaskan siswa yeshiva (semacam pesantren di Islam) bernama Yosef Eisenthal, yang menurut polisi berusia 14 tahun.

Video warganet menunjukkan bocah itu terlindas dan terjebak di bawah bus, sementara pengemudi yang menurut polisi bernama Fakhri Khatib terus mengemudikan bisnya sejauh beberapa meter.

Menolak Israel atas Dasar Teologis

Neturei KartaYahudi ultra-ortodoks adalah kelompok yang bahkan menolak terbentuknya negara sekuler bernama Israel, dan menerapkan apartheid terhadap warga Arab yang menurut mereka menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhan mereka.

Mereka dalam bahasa Ibrani sebagai Haredim (Yahudi Haredi), yang berarti "mereka yang gemetar" (karena takut akan Tuhan). Tidak seperti kaum Ortodoks, kaum ultra-Ortodoks menolak Zionisme, menyebutnya sebagai penistaan ​​agama (bid'ah).

Penolakan tersebut melahirkan berbagai kelompok, mulai dari Neturei Karta (bahasa Aram yang berarti "Penjaga Kota"), yang muncul pada tahun 1930-an, menurut Britannica.

Nama 'Neturei Karta' berarti 'penjaga kota' dalam bahasa Aram, merujuk pada Yerusalem—kota suci yang dalam keyakinan mereka hanya boleh diperintah ketika sosok Mesias telah turun ke bumi.

Mereka tidak mengakui legitimasi negara Israel. Berbeda dari kelompok Haderim lain, mereka bahkan tak mengakui partai politik Haredim di sana yang ikut pemilu dan mendapat dana bantuan pemerintah.

Selain Neturei Karta, kelompok Yahudi Haredi lainnya tetap hidup di Israel dan secara administratif tercatat sebagai warga negara Israel. Penolakan mereka terhadap "bid'ah negara Israel" diwujudkan dalam bentuk penolakan ikut wajib militer.

Neturei Karta dikenal konsisten menentang negara Israel dan sangat mendukung kemerdekaan Palestina. Mereka bahkan menilai bahwa Negara Palestina lebih berhak mengendalikan wilayah bergolak tersebut.

Yakin Mesias Akan Muncul di Akhir Zaman

Neturei KartaMenurut keyakinan Neturei Karta, zionisme bukanlah sekadar proyek politik yang melenceng, melainkan juga pelanggaran terhadap hukum Tuhan di Taurat.

Seperti halnya umat Islam dan umat Kristen yang meyakini kembalinya Mesias di akhir zaman, mereka memang percaya Mesias bakal hadir dan membangun tempat ibadah di Yerusalam (bait Allah).

Berbeda dari yahudi lain yang meletigimasi pembentukan Israel sebagai "cara mengundang Mesias--dengan membangun bait Allah dan membuat pengorbanan sapi betina berbulu merah (red heiffer)", mereka yakin Mesias tak boleh dipaksa hadir.

Dalam teologi Neturei Karta, pendirian negara Yahudi sebelum kedatangan Mesias merupakan perbuatan dosa. Seperti yang dilakukan oleh pendirian negara Israel secara politik, dipandang sebagai pemberontakan terhadap kehendak Tuhan di Taurat.

Ketika Israel memproklamasikan kemerdekaanya pada 1948, Neturei karta menolak mengakui legitimasi negara tersebut. Kelompok ini juga tak berpartisipasi dalam pemilu, menolak bantuan negara, dan memprotes berbagai kebijakan Israel.

Seringkali kelompok ini bergabung dalam aksi demonstrasi anti-Israel, seperti di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat, menegaskan bahwa Israel tidak mewakili umat Yahudi.

Di wilayah Palestina yang diduduki, aksi-aksi mereka kerap berujung bentrok dengan aparat Israel, khususnya perihal isu sekularisasi Yerusalem, pelanggaran hari Sabat, dan integrasi gender di ruang publik.

Insiden penabrakan bus dalam demonstrasi Selasa lalu adalah salah satu puncaknya.

Sejarah Panjang dan Akar Identitas Neturei Karta

Neturei KartaNeturei Karta didirikan oleh para rabi yahudi Sephardi (yang berasal dari Spanyol dan Maroko) yang memiliki akar sejarah dekat dengan tanah dan warga Palestina jauh sebelum zionisme lahir.

Ketika Theodore Herzl dengan dibantu Inggris memfasilitasi pemindahan warga Yahudi ke Yerusalem, yahudi anti-zionisme membentuk gerakan Agudat Israel (Aguda), sebuah organisasi Yahudi Ortodoks yang menolak proyek tersebut.

Perpecahan terjadi ketika sebagian pemimpinnya memilih bersikap lebih pragmatis terhadap gerakan Zionisme dengan makin menerimanya, terutama karena aksi-aksi anti semitisme semakin meningkat di Eropa.

Tidak tahan, Dua rabi Yahudi Ortodoks, yaitu Amram Blau dan Aharon Katzenellenbogen, memilih keluar dari gerakan tersebut. Bagi Blau dan Katzenelnbogen, sikap lunak terhadap kanker zionisme adalah pengkhianatan.

Mereka memandang bahwa penderitaan Yahudi tidak dapat dibenarkan untuk memberi ruang hidup bagi zionisme. Pada 1937, keduanya mendirikan Neturei Karta sebagai komunitas yang secara ekstrem menolak paham Zionisme.

Mayoritas pengikut Neturei Karta merupakan Yahudi Hungaria dan Lithuania. Mereka membangun komunitas tertutup di kawasan Meah Shearim dan Batei Ungarin di Yerusalem.

Para anggotanya mengenakan pakaian tradisional khas Yahudi Eropa Timur, berbicara dalam bahasa Yiddish, serta menolak simbol-simbol yang berkaitan dengan negara Israel.

Sikap Politik dan Kontroversi

anti-IsraelPasca perang Enam Hari 1967, sikap Neturei Karta semakin politis. Pendudukan Israel atas Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur mereka tafsirkan sebagai bukti bahwa Zionisme membawa kehancuran moral dan pertumpahan darah.

Sejak peristiwa itu, sejumlah tokoh kelompok Neturei Karta mulai membangun hubungan dengan figur politik yang berpengaruh di Arab dan Palestina.

Misalnya Rabi Moshe Hirsch, tokoh Neturei Karta yang menjalin relasi dekat dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, bahkan pernah diberi posisi simbolik sebagai Menteri Urusan Yahudi oleh Arafat.

Aksi ini mengundang kecaman dari komunitas Yahudi pro-Israel.

Deretan kontroversi lain Neturei Karta yaitu ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato di Council on Foreign Relations di New York tahun 2010, kelompok ini dengan lantang meneriakkan “Netanyahu bukanlah seorang Yahudi”.

Sikap Neturei Karta yang dinilai menyimpang oleh kelompok Yahudi pro-zionis yaitu menjalin relasi dengan kelompok-kelompok yang secara politik merupakan rival Israel, termasuk Hamas dan Hezbollah.

Pada Desember 2006, Neturei Karta juga menunjukkan sikap yang memantik kemarahan mereka.

Pimpinan Neturei Karta, Yisroel Dovid Weiss, menghadiri Konferensi Internasional untuk Meninjau Visi Global Holocaust di Teheran, sebuah konferensi yang menyangkal peristiwa Holocaust.

Mendukung Hamas, Menjadi Warga Yahudi Palestina

demo anti Israel

Tak hanya itu, pada 2006, sejumlah anggota Neturei Karta mengunjungi Ramallah untuk menyatakan dukungan kepada Hamas setelah kemenangan kelompok tersebut dalam pemilu legislatif Palestina.

Tindakan ini langsung mendapat respons negatif oleh kelompok Yahudi, termasuk dari kalangan Ortodoks. Selama perang Israel-Hamas, Rabi Zalman Teitelbaum (salah satu Rebbe Agung Satmar) mengutuk Neturei Karta.

Dia menyebut dukungan kelompok tersebut kepada Hamas sebagai "penghujatan nama Tuhan yang mengerikan." Kelompok Yahudi menuduh Neturei Karta sebagai penghianat karena bersekutu dengan "kelompok anti-semit."

Di sisi lain, Neturei Karta melihat situasi antara Yahudi dan Arab bukan berakar dari konflik agama, melainkan Zionisme, seperti yang ditegaskan Yisroel Dovid Weiss dalam wawancaranya dengan Al Jazeera pada Maret 2012.

Dia menyebut bahwa pendudukan Israel bertentangan dengan kehendak Tuhan dan telah menciptakan “lautan sungai darah karena kebencian di seluruh dunia” akibat nasionalisme materialistis oleh zionisme.

Pada Januari 2023, anggota Neturei Karta melakukan perjalanan ke Jenin di Tepi Barat untuk bertemu dengan pemimpin Jihad Islam Palestina, menyatakan, “Kami adalah orang Yahudi Palestina, dalam satu negara yaitu negara Palestina.”

Baca Juga: Kisah Nader Sadaqa, Keturunan Umat Nabi Musa yang Ogah Disebut 'Yahudi'

Ketika ketegangan meletus antara Israel dengan Hamas pada 7 Oktober 2023, kelompok Neturei Karta merapat ke barisan pendukung pro-Palestina.

“Taurat menuntut seluruh Palestina dikembalikan kepada kedaulatan Palestina,” Negara Israel tidak mewakili Yahudi dunia,” atau sekadar “Bebaskan Palestina,” merupakan pesan seruan yang disampaikan oleh kelompok ini.

Meskipun Neturei Karta dianggap sebagai kelompok pinggiran dengan pengikut minim dibanding Yahudi pro-zionis, ia berhasil mempertahankan eksistensi dan pandangan yang konsisten selama seabad: menolak zionisme, mendukung Palestina. (mhf)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance