
Oleh Nezar Patria, seorang wartawan, aktivis, dan juga penyair, kini menjadi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, sesekali menulis di akun facebooknya, termasuk obituari ini.
Saya menyesal berdebat dengan John Tobing saat dia membeberkan rencana menggelar konser musik karyanya. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” kata dia lewat pesan WhatsApp, awal November tahun lalu.
Saya mendebatnya dan bertanya bagaimana konsep konsernya, dan terjadilah ketegangan seperti biasa. Dari dulu saya selalu mencoba mendetilkan apa yang ingin dilakukan John.
Saya bertanya, bahkan dengan cara yang Socratik, karena kami pernah berkuliah di Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), dan mengejar dengan pertanyaan “apa” dan “bagaimana”.
John yang lebih tua enam tahun dari saya, namun tercatat sebagai mahasiswa UGM pada 1986, dan saya datang empat tahun kemudian. Dia adalah kakak angkatan yang beda empat tingkat.
Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak.
Sebetulnya, tak ada kemarahan di sana. Kami biasa bertutur dengan cara Sumatra dengan semua serba terang dan tanpa pura-pura. Hal terpenting: kami berkawan layaknya dua bersaudara.
“Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan, coy,” kata John lagi. Dialog itu akhirnya berujung landai. Saya akan membantunya tentu saja.
“Makin tua makin paten kau kutengok, John”, saya menjawab setengah mengejeknya sambil memberi emoticon tanda tertawa.
Aktivis Berselempang Gitar

Sebetulnya John, bagi saya, tak pernah tua. Dia selamanya sama seperti seorang aktivis senior berdarah muda yang saya kenal saat pertama berkuliah di Yogyakarta.
Pada masa awal 1990an, seorang mahasiswa aktivis dengan gitar diselempangkan di punggungnya (saya membayangkannya seperti seorang pendekar bergitar) berdiri di siang terik di bulevar kampus.
Dia memegang megafon dan berteriak lantang mengkritik kebijakan rezim orde baru. Rambutnya ikal dan panjang berkibar di tiup angin. Tas pinggangnya besar, berisi peralatan mandi dan juga serba serbi yang diakuinya tidak penting.
Tak ada yang berani melakukan aksi protes pada masa itu, kecuali segelintir mahasiswa, yang kelak semuanya menjadi legenda di gerakan mahasiswa Yogya semisal Moh Thoriq, Afnan Malay, Dadang Juliantara, dan Untoro Hariadi.
Jarak dia dengan angkatan saya lumayan jauh. Dia datang dari Angkatan 86, sebuah angkatan yang bimbang setelah senior mereka dipukul kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).
Dewan Mahasiswa tamat riwayatnya akibat depolitisasi kampus pada masa itu. Dari mereka segala cerita gerakan mahasiswa dari zaman ke zaman ditularkan ke generasi berikutnya, terutama angkatan 90-an.
John memang dikenal sebagai sesepuh oleh angkatan yang lebih muda.
Dia salah satu legenda aktivis mahasiswa pada masanya, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya), malang melintang aksi bersama petani di Jawa Tengah, terutama Kedung Ombo.
Aktivis Romantik

John pada dasarnya adalah aktivis yang romantik. Dia sesungguhnya adalah seniman. Ironisnya dia menghujat kecenderungan aktivis yang sok jadi seniman, yang dianggapnya genit dan kurang disiplin.
Dia juga mencibir para mahasiswa yang suka baca buku tapi tak mampu mengubah realitas politik yang tak adil, dan membiarkan rakyat menderita.
“Kau anti buku, John. Nanti kau jadi dongok,” kata saya melawan sikapnya itu dulu. “Dongok” adalah bahasa anak Medan untuk dungu.
Saya memang tak setuju soal sikapnya terhadap buku, dan saya tahu dia tidak sedang sungguh-sungguh, hanya sebuah percobaan agitasi agar saya tak cuma baca buku, tapi berhimpun dan berorganisasi untuk menyebarkan kesadaran kritis.
“Kau baca buku apa, ceritakan padaku, hehehe”, ujarnya kemudian. Saya menudingnya sebagai “kader kuping”, istilah untuk mereka yang hanya menguping hasil bacaan dan malas untuk menggalinya sendiri dari buku.
John tertawa. Dia mengambil gitar, lalu mengalun lagu-lagu ciptaannya. Saat itu saya terdiam dan duduk menyimak alunan lagu-lagu itu di beranda rumah tempat kami kos bersama di Karangjati, Yogyakarta.
Saya menyimak lagu “Darah Juang”, sebuah balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan untuk berjuang. Kelak lagu ini adalah warisan terbesar dia bagi gerakan mahasiswa.
John menciptakan lagu itu sekitar 1991, di saat gerakan mahasiswa belum ramai dan kelak menjadi sejarah penting berakhirnya kediktatoran orde baru di tahun 1998.
Lagu Darah Juang & Pertanyaan Royalti

Pada masa 1990-an, lagu itu menjalar dengan cepat bak mantra pemanggil keberanian. Kita masih bisa menemukan lagu itu dengan beragam versinya hari ini di Youtube. Dari irama slow rock sampai himne yang syahdu.
Sejak FKMY bubar di sekitar 1991-92, John tidak lagi aktif di gerakan mahasiswa. Juga ketika gerakan itu meluas di tahun-tahun berikutnya, John menarik diri.
Dia berada di belakang para junior dengan memberi dukungan moral dan menyelesaikan studi sarjananya yang bertema ilmu perdamaian atau polemologi. Saya mengejeknya lagi karena akhirnya, untuk skripsi itu, dia tergopoh-gopoh membaca buku.
Setelah reformasi 1998, John menikah dan sempat tinggal di Pekan Baru lalu bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.
Dia kalah di pemilu lokal, dan kemudian merasa politik yang harus “begana-begini” bukan tempat yang tepat dan tak sejalan dengan moralitas personalnya.
Dia lalu memutuskan pindah ke Yogyakarta dan kembali menulis lagu dan sesekali “ngamen” di sejumlah acara komunitas atau lembaga. Lagu-lagunya yang lama terus dinyanyikan oleh generasi demi generasi para aktivis mahasiswa.
Beberapa tahun lalu dia bertandang ke rumah saya di Yogya, dan bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?”, dia bertanya dengan keluguan yang dalam.
Saya menjawab bahwa hal itu agak sulit karena lagu Darah Juang menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan saja menjadi milik sejarah, kecuali ada yang memakainya untuk hal yang komersial.
Tenggelam di Era Media Sosial
John tersenyum dengan bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak terucapkan. Atas permintaannya yang sulit ditolak, saya menyuguhinya secangkir kopi, dengan takaran ringan alias encer.
Dia tak boleh minum kopi kental. Dokter melarangnya setelah dua kali terkena stroke. Itu yang menyebabkan dia bicara sedikit pelo dan lamban.
Tapi John hanya mengingat dokter kalau dia lagi tergeletak di rumah sakit. Di luar itu, nasehat dokter bisa dilupakannya, apalagi kalau bertemu kawan-kawan lama.
Saya ceritakan kepada John tentang betapa dahsyat lagunya itu memberi semangat aktivis mahasiswa dari zaman ke zaman. John hanya terdiam. Dia meminta diambilkan gitar, dan lalu memetik senarnya dengan penuh perasaan.
Intro Darah Juang mengalun. Dia hanya bergumam, merengeng-rengeng, berusaha menyanyikan lagu itu.
Saya menyaksikan seorang kawan yang bersemangat tinggi, dan bersetia kawan itu, sedang berjuang agar tetap didengar di tengah arus zaman yang berderap begitu cepat, tatkala media sosial jauh lebih ampuh memberikan pengaruh, ketimbang sebuah podium di tengah bulevar seperti yang dilakukan John pada masa mudanya.
Akhir November lalu John terserang stroke lagi. Saat dia belum diputuskan dokter masuk ke ruang Intensive Care Unit (ICU) di RS Panti Rini Yogya.
Saya sempat menelepon istrinya, Dona, yang lalu menyerahkan telepon seluler itu kepada John yang terbaring di ranjang. Kesadarannya masih ada meskipun bicaranya sudah sulit.
“John cepat sembuh kau lah, kita segera buat konser,” kata saya. “Hehehe, coy.. ya konser, ya-ya hehehe”, suaranya terdengar melemah dan tak jelas.
Baca Juga: Gua Al-Jufri, Bukan Al Capone!
Itu rupanya terakhir sekali saya mendengar suara John. Setelah dirawat hampir beberapa pekan di Panti Rini, John terus kehilangan kesadarannya.
Lalu dia sempat dua bulan berpindah rumah sakit ke Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, sampai kemudian agak membaik dan dipulangkan ke rumah meskipun belum sepenuhnya bisa berbicara.
Saya membesuknya dua kali untuk dua rumah sakit itu dan hanya menemukan John yang lelap tertidur dengan selang ventilator menancap di hidungnya.
Melihat John terbaring adalah melihat kembali sejarah seorang kawan yang pernah gagah: berdiri tegak di bulevar dengan gitar di belakang punggungnya, dengan suara keras dan galak mengkritik penguasa.
Sore tadi seorang kawan menyampaikan pesan John kembali dilarikan ke rumah sakit, kesadarannya mendadak menurun. Lima belas menit sebelum pukul sembilan malam tadi, dokter menyatakan John yang gagah itu meninggal.
Saya kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan “Darah Juang” dengan suara berbisik. Saya berharap arwah John belum pergi terlalu jauh, dan mungkin dia masih bisa mendengarkannya.
Untuk John, saya berdoa kepada Tuhan semoga ada konser yang lebih megah baginya di alam sana.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.