Oleh Imam B. Prasodjo, sosiolog dan dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Peraih gelar M.A. dari Kansas State University dan gelar Ph.D. dari Brown University di Rhode Island, Amerika Serikat ini mendirikan Yayasan Nurani Dunia dan aktif berbagi pemikirannya di Facebook.

Innaa lillaahi wa-inna ilaihi raaji’un. "Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali.”

Siang ini, tepat pada jam 13.45, Sabtu 28 Maret 2026, Pak Juwono berpulang. Pak Juwono lahir 5 Maret 1942 di Ciamis, Jawa Barat dan kembali ke pangkuan Ilahi pada usia 84 tahun.

Kabar ini sangat menyentak hati saya karena Pak Juwono termasuk dosen Fakultas Imu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI)--dahulu Fakultas Ilmu Sosial (FIS)-UI, tempat saya pertama kali mengenal dunia kampus, yang selalu menjadi acuan.

Setiap mahasiswa, pasti memiliki kenangan tersendiri pada beliau.

Walaupun saya sebenarnya tak pernah mengikuti perkuliahan Pak Juwono karena saya berada pada jurusan berbeda, sosiologi, Pak Juwono sebagai tokoh intelektual kampus (bidang ilmu Hubungan Internasional) selalu menjadi acuan.

Ruh intelektual Pak Juwono begitu kuat dalam kehidupan kampus. Dalam kehidupan sehari hari, ucapan Pak Juwono sebagai dosen maupun sebagai pimpinan fakultas semasa saya menjadi mahasiswa, selalu saya perhatikan.

Bahkan, pada tahun tahun pertama kuliah di FIS-UI, hampir setiap seminar di mana Pak Juwono menjadi pembicara, saya selalu coba hadir.

Pembawaan Tenang dan Halus

Juwono Sudarsono

Sebagai mahasiswa baru pada 1980, saya memiliki kesan khusus terhadap Pak Juwono. Yang paling menonjol dalam kenangan saya, beliau adalah dosen yang memiliki pembawaan sangat tenang, tutur katanya halus dan sangat terkendali.

Dalam berbicara, tak pernah meluap-luap. Argumen dalam berpikir sangat sistematis. Saya harus mengakui, Pak Juwono berpengaruh kuat pada saya tentang bagaimana seharusnya sikap akademisi dalam berdiskusi dan mengemukakan pendapat.

Pak Juwono menjadi pembeda dengan perilaku para agitator atau provokator yang brangasan dan kasar.

Dalam karirnya, Pak Juwono tentu tak hanya penjadi seorang dosen dan guru besar. Entah berapa jabatan dalam pemerintahan yang pernah beliau emban.

Seingat saya, beliau pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya (Inggris), Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pertahanan dan entah jabatan apa lagi.

Saya memiliki kenangan khusus dengan beliau. Suatu hari menjelang saya menamatkan kuliah di FIS-UI, saya meminta waktu untuk berbicara dengan Pak Juwono. Pak Juwono memberi waktu cukup lama, walau saya mengetahui beliau sangat sibuk.

Saya ingin menanyakan tentang seluk beluk kuliah di luar negeri yang Pak Juwono alami. Dalam percakapan itu, banyak nasihat yang diberikan.

Yang menggembirakan, beliau menawarkan diri memberi surat rekomendasi untuk melamar kuliah di beberapa kampus di Amerika Serikat (AS). Saya senang luar biasa.

Baca Juga: Mengenang dan Menghargai Entrepreneur Bambang Hartono

Namun, yang sangat mengejutkan bagi saya, surat rekomendasi yang beliau tulis, beliau antar sendiri ke rumah kami. Beliau tahu saya sedang menghadapi "deadline" untuk mengirimkan surat lamaran tersebut.

Tentu, saya malu luar biasa atas sikap dan kebaikan Pak Juwono. Harusnya sayalah yang harus datang mendapatkan surat itu. Apa boleh buat. Setelah saya renungkan, sikap Pak Juwono ini adalah teladan yang memiliki makna luar biasa bagi saya.

Dengan segala status sosial yang melekat padanya, beliau tak tinggi hati, dan jelas bersedia "all out" dalam mendukung mahasiswanya untuk melanjutkan studi.

Untuk mencari kenangan bersama beliau, hari ini saya coba membuka file lama. Mencari foto saya bersama Pak Juwono. Saya menemukan. Saya juga menemukan tulisan singkat saya terkait kesan saya saat pertama kali mendengarkan pidato beliau.

Saat itu saya tengah menjalani OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) di Kampus UI Rawamangun pada 1980.

Membaca kembali tulisan ini, pasti teman teman seangkatan saya (kawan kawan senasib, WANWANSIB) di FIS-UI mengingat peristiwa ini.

Semoga Prof. Dr. Juwono Sudarsono mendapat tempat terbaik di sisi Sang Pencipta. AAMIIN!***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.