Jakarta, The Stance – Kompetisi Liga Indonesia Super League musim depan (2026/2027) dipastikan bakal menghadirkan warna baru. Tidak hanya persaingan antarklub besar, kasta tertinggi sepak bola nasional itu juga bakal diramaikan tim-tim yang memiliki afiliasi kuat dengan institusi negara dan lingkar kekuasaan.

Setelah Bhayangkara FC lebih dulu identik sebagai klub milik Polri, kini muncul Garudayaksa FC yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto serta Adhyaksa FC yang berafiliasi dengan Kejaksaan Agung RI.

Kehadiran tiga klub institusi ini pun menjadi pertanyaan di kalangan publik, mengingat klub ini tidak lahir dari komunitas suporter atau identitas kota, melainkan dari institusi yang punya modal, jaringan dan pengaruh besar kekuasaan.

Garudayaksa dan Label klub Presiden

Prabowo - Garudayaksa

Garudayaksa FC menjadi fenomena baru sepak bola Indonesia musim ini. Klub yang baru resmi menjadi tim profesional pada Juni 2025 tersebut langsung sukses promosi ke Super League di musim debutnya. Garudayaksa sendiri berawal dari akademi sepak bola yang dibangun Prabowo saat masih menjabat Menteri Pertahanan.

Akademi Garudayaksa pertama kali diperkenalkan pada Desember 2023 di kawasan Bekasi. Akademi itu dibangun dengan fasilitas modern dan area pengembangan pemain muda yang cukup luas, mencapai sekitar 60 hektar. Fokus awalnya adalah pembinaan talenta muda sepak bola Indonesia.

Klub tersebut kemudian berkembang lebih serius setelah mengakuisisi PSKC Cimahi melalui Kongres PSSI 2025 dan resmi memakai nama Garudayaksa FC. Di bawah arahan pelatih Widodo Cahyono Putro, mereka tampil impresif dengan menjuarai Grup A Championship Liga 2 lewat koleksi 52 poin.

Skuad Garudayaksa juga diisi sejumlah nama berpengalaman seperti Andik Vermansah, Sidik Saimima, Bagus Nirwanto, hingga striker asing Everton Nascimento. Kehadiran pemain senior dan dukungan finansial kuat membuat Garudayaksa langsung menjelma sebagai kekuatan baru.

Hasilnya pun langsung terlihat, Garudayaksa FC berhasil menjadi juara Liga 2 Indonesia musim 2025/2026 dan promosi ke kasta tertinggi (Super League) musim 2026/2027 setelah mengalahkan PSS Sleman.

Pencapaian itu terasa spesial karena klub tersebut bahkan belum genap berusia satu tahun sebagai tim profesional.

Keberhasilan promosi di musim perdana membuat Garudayaksa FC kini disebut sebagai salah satu klub dengan perkembangan tercepat dalam sepak bola Indonesia modern.

Adhyaksa FC, Klub Milik Kejaksaan

Adhyaksa FC

Adhyaksa FC juga menjadi fenomena klub baru yang berhasil menembus Super League. Tim berjuluk Sang Jaksa tersebut memastikan promosi usai menundukkan Persipura Jayapura dengan skor 1-0 dalam laga playoff di Stadion Lukas Enembe --yang berakhir rusuh.

Adhyaksa FC awalnya bernama Farmel FC sebelum bekerja sama dengan Persatuan Jaksa Indonesia (Persaja) dan mendapat dukungan Kejaksaan Agung RI. Transformasi itu membuat perkembangan klub melesat cepat. Hanya dalam dua musim, mereka berhasil naik dari Liga 3 hingga kini menembus kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Tim asuhan Ade Suhendra ini sebenarnya baru berdiri pada 2020 dengan nama Farmel FC dan bermarkas di Tangerang. Kemudian berganti menjadi Adhyaksa FC Banten dengan kandang di Banten International Stadium.

Sejak saat itu, perkembangan tim berlangsung pesat hingga berhasil menjadi salah satu peserta baru Super League musim depan bersama PSS Sleman dan Garudayaksa.

Bhayangkara FC, Klub Milik Polisi

Bhayangkara FC

Sebelum Garudayaksa dan Adhyaksa, klub milik Kepolisian RI, Bhayangkara FC sudah lebih dulu mencicipi kasta tertinggi kompetisi nasional.

Bhayangkara Presisi Lampung FC (sebelumnya Bhayangkara FC) adalah klub sepak bola profesional Indonesia yang dikelola Polri, berdiri pada 10 September 2016. Tim berjuluk "The Guardians" ini bermarkas di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, dan pernah menjuarai Liga 1 pada musim 2017.

Bhayangkara FC bermula dari Persikubar Kutai Barat yang didirikan pada 1999. Klub ini mengalami beberapa perubahan nama dan kepemilikan, termasuk dualisme dengan Persebaya Surabaya pada 2010 yang menyebabkan perubahan nama menjadi Surabaya United.

Pada April 2016, Surabaya United merger dengan PS Polri, menghasilkan Bhayangkara Surabaya United yang kemudian berganti nama menjadi Bhayangkara FC pada September 2016, menandai era baru sebagai representasi institusi kepolisian.

Saking seringnya berganti nama, klub ini memegang rekor pergantian nama terbanyak di Indonesia.

Selain itu, Bhayangkara FC dikenal sebagai klub nomaden yang berpindah markas beberapa kali, dari Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Jakarta, Solo, hingga kini menetap di Bandar Lampung. Perpindahan ini bertujuan memenuhi standar stadion dan memperluas basis suporter.

Klub Instansi Tak Selalu Mulus

tira persikabo

Tidak semua klub instansi mampu bertahan. Salah satunya PS TNI, klub milik tentara yang kini hilang dan tak berbekas.

PS TNI awalnya adalah klub amatir gabungan dari pemain PSMS Medan dan TNI untuk berlaga di Piala Jenderal Sudirman 2015. Itu tak lepas dari peran Pangkostrad ketika itu, Edy Rahmayadi sebagai ketua umum PS TNI sekaligus pembina PSMS Medan.

Tercatat ada 15 tentara, termasuk pemain timnas Abduh Lestaluhu dan Manahati Lestusen, yang bermain untuk PS TNI pada 2015.

Setelah memisahkan diri dari PSMS setahun setelahnya. Mereka membeli lisensi klub asal Papua, Persiram Raja Ampat agar bisa ikut kompetisi profesional.

Di Liga 1 2018, PS TNI mengumumkan berpindah markas dari Stadion Pakansari, Bogor ke Stadion Sultan Agung Bantul. Klub juga mengganti namanya menjadi PS Tira atau singkatan dari Persatuan Sepak Bola Tentara Nasional Indonesia-Rakyat. Panglima TNI ketika itu, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, duduk sebagai dewan pembina Utama klub.

Setahun berselang, tepatnya di Liga 1 2019, PS Tira melakukan merger dengan klub Liga 3 asal Bogor, Persikabo Bogor. Mereka kemudian berganti nama menjadi Tira-Persikabo dan kembali berkandang di Bogor.

Pada 2020, lagi-lagi klub ini berganti nama. Manajemen menghilangkan nama Tira menjadi Persikabo 1973 dengan alasan bisnis dan baru disahkan lewat Kongres PSSI pada 2022 lalu.

Setelah terdegradasi dari Liga 1 ke Liga 2 pada tahun 2024, klub ini mengalami degradasi beruntun ke Liga 3/Liga Nusantara, dan kabarnya dipastikan terjun ke Liga 4 karena terkendala administrasi dan manajemen.

Bukan Prestasi Tapi Sekedar Eksistensi

Dex Glenniza

Kehadiran Bhayangkara FC, Garudayaksa FC, dan Adhyaksa FC membuat wajah Super League musim depan dipenuhi klub-klub dengan latar belakang institusi kuat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sepak bola Indonesia semakin dekat dengan kekuatan negara, politik, dan jaringan kekuasaan di luar lapangan.

Peneliti Ganesport Institute dan pengamat sepak bola, Dex Glenniza, menilai kehadiran klub institusi sebenarnya tak otomatis buruk karena mereka bisa membawa modal dan fasilitas dalam waktu instan. Sebuah keistimewaan yang belum tentu dimiliki klub-klub tradisional.

Dalam ekosistem sepakbola Indonesia yang sering kekurangan infrastruktur dan kepastian finansial (dan masih sering dialami klub tradisional), dukungan seperti itu tentunya sangat membantu.

"Secara “basis suporter” juga ada di mana-mana. (ada polisi di semua daerah, ada kejaksaan di banyak daerah, dan presiden/perwakilan partai juga ada di banyak daerah)," ujar Dex kepada TheStance.

Dia juga menyebut fenomena klub institusi ikut kompetisi bukan praktek yang 'nyeleneh', berkaca pada luar negeri dimana ada banyak klub institusi yang ikut berkompetisi, dari mulai Asia, Eropa, Afrika, dll.

Namun, yang harus jadi perhatian, menurut Dex, adalah transparansi dari mana modal klub institusi dan bagaimana cara mereka naik dan bertahan di kompetisi.

Dia menyoroti masih terjadinya praktik sekadar “beli lisensi”, ganti nama, ganti identitas, dan pindah-pindah homebase yang sebenarnya berdampak negatif buat kompetisi dan klub itu sendiri.

Terkait kekhawatiran publik bakal terjadi konflik kepentingan dan pemberian privilege pada klub-klub instansi, Dex menilainya sebagai suatu yang wajar mengingat publik masih belum memiliki kepercayaan bahwa sepak bola indonesia sudah bersih dan transparan.

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi klub institusi, dimana mereka harus membuktikan kekuatan di lapangan, bukan siapa yang paling kuat di belakang layar.

Meski demikian, Dex berpandangan, keterlibatan klub instansi di sepak bola Indonesia utamanya bukan untuk meraih prestasi melainkan hanya sekedar eksistensi, pengaruh, dan perputaran uang (diversifikasi aset).

"Soalnya kalau klub “problematik” jadi juara atau lolos ke kompetisi AFC secara reguler, itu justru bikin mereka repot," ujar Dex. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance