Jakarta, The Stance - Hantavirus menjadi momok baru mengingat kehadirannya yang mendadak dan menewaskan tiga penumpang kapal MV Hondius. Gejalanya persis seperti Covid-19: demam, kelelahan ekstrem, nyeri otot, sesak napas akut.

Dikutip dari National Library of Medicine, Hantavirus pertama teridentifikasi pada tahun 1978 di dekat sungai Hantan, Korea Selatan. Tempat tersebut kemudian diisolasi setelah adanya tikus Apodemus Agrariarus.

Virus ini kemudian dinamai sesuai lokasi dari sungai tersebut, dan mulai masuk ke radar epidemologi dunia setelah menyebar dan menyebabkan tentara di Perang Korea pada 1950-an mengalami demam berdarah.

Virus ini belakangan viral diberitakan setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dinyatakan meninggal dunia setelah terjangkit virus tersebut. Dalam perjalannnya, kapal tersebut berangkat meninggalkan pelabuhan Praia, Cape Verde.

Operasi evakuasi pasien dilakukan dan sejauh ini teridentifikasi total sebanyak tujuh kasus, lima kasus suspek, dua kasus terkonfirmasi di laboratorium, termasuk tiga kematian.

Suasana proses evakuasi mengingatkan pada situasi pandemi Covid-19, di mana petugas kesehatan memakai Alat Pelindung Diri (APD) baik hazmat yang menutupi seluruh tubuh, masker medis, face shield, goggles, sarung tangan, hingga sepatu boot.

Dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi Hantavirus relatif jarang terjadi, dengan tingkat kematian kurang dari 1-15% di Asia dan Eropa, tetapi 50% di Amerika. Setiap tahun terjadi 10.000-100.000 infeksi di seluruh dunia.

Penularan virus ini terjadi melalui kontak urin, kotoran, dan air liur hewan yang terinfeksi atau terkontaminasi. Penularan bisa terjadi ketika melakukan pembersihan ruang berventilasi buruk atau tidur di tempat yang banyak dihuni hewan pengerat.

Sudah Masuk ke Indonesia

Merespons penularan masif di kapal MV Hondius tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengakui bahwa virus tersebut telah masuk Indonesia, dengan identifikasi 23 kasus selama 2024-2026 dari total 251 kasus suspek.

Tahun 2025 sendiri menjadi tahun dengan kasus signifikan dengan 17 kasus terkonfirmasi. Sementara itu 2024 teridentifikasi satu kasus dan 2026 sebanyak lima kasus.

Dari total 23 kasus ini, 20 pasien dinyatakan sembuh, dan tiga pasien lainnya meninggal dunia. Artinya, rasio kematian per kasus (Case Fatality Rate/CFR) adalah sebesar 13%.

Menteri Kesahatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan WHO untuk menyusun pendeteksian lebih ketat.

“Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukkannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum nyebar kemana-mana,” ujarnya di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (7/6/2026).

Budi juga tengah mempersiapkan pemeriksaan seperti rapid test dan pemeriksaan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Ia mengeklaim deteksi Hantavirus lebih mudah karena Indonesia memiliki banyak alat pendeteksi seperti mesin PCR.

“Kita masih fokus ke surveillance-nya, supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat,” tuturnya.

Mekanisme Penularan dan Bahaya Medis

Dicky Budiman

Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dari Griffth University, Dicky Budiman menjelaskan bahwa Hantavirus merupakan penyakit zoonosis (penularan dari hewan ke manusia) yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

"Reservoir utama virus ini adalah hewan pengerat, terutama tikus liar. Di Indonesia sendiri, virus ini ditemukan pada beberapa jenis tikus, khususnya di wilayah padat aktivitas seperti pelabuhan," ujarnya saat dihubungi The Stance, Sabtu (9/5/2026).

Dicky juga menyoroti sejarah keganasan virus ini pada tahun 1993 di Amerika Serikat. Saat itu, strain Sin Nombre menyebabkan tingkat kematian hampir 50% karena menyerang fungsi paru-paru secara drastis.

Berbeda dengan Covid-19 yang menyebar melalui droplet antarmanusia secara masif, Dicky menyebut bahwa hantavirus menular melalui inhalasi Aerosol atau menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering di udara.

Selain itu juga melalui kontak langsung, yaitu menyentuh permukaan yang terkontaminasi atau melalui gigitan tikus (kasus jarang).

Secara medis, Dicky menegaskan bahwa Hantavirus sangat berbahaya karena memicu kerusakan pembuluh darah di paru-paru yang menyebabkan kebocoran cairan.

"Kondisi ini menyerupai ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Pasien bisa mengalami sesak napas berat dan penurunan oksigen drastis dalam hitungan hari. Tingkat kematiannya mencapai 40 persen," tambah Dicky.

Kecil Kemungkinan Menjadi Pandemi

makam covid-19

Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa potensi Hantavirus menjadi pandemi seperti Covid-19 sangatlah kecil karena transmisi terbatas, dalam hal ini penularan antarmanusia sangat jarang.

Strain tertentu memang bisa menular antar manusia, misalnya strain Andes. Namun, itu baru terjadi jika kontak dilakukan sangat dekat dengan pasien. Secara umum, penyebaran Hantavirus tetap bergantung pada populasi tikus, bukan mobilitas manusia.

"Ancamannya lebih bersifat wabah seporadis dengan fatalitas tinggi di wilayah tertentu, bukan pandemi global yang menyebar cepat," jelasnya.

Dicky juga tidak menampik adanya gelombang skeptisisme dan teori konspirasi setiap kali wabah muncul. Menurutnya, fenomena distrust ini dipicu oleh trauma sosial, banjir informasi (infodemik), serta politisasi isu kesehatan.

Terlebih dengan tudingan "bisnis vaksin" yang menurutnya tidak beralasan karena hingga saat ini, belum ada vaksin global untuk Hantavirus.

"Penanganannya pun masih bersifat perawatan suportif di ICU. Jadi, narasi bahwa ini rekayasa untuk menjual vaksin sama sekali tidak sesuai fakta ilmiah,” sambungnya.

Baca Juga: Kasus Campak Melonjak 147%, Epidemiolog Soroti Rendahnya Cakupan Imunisasi

Namun, lanjut dia, tisiko tetap ada terutama bagi petugas kebersihan, pekerja gudang, dan masyarakat di area rawan banjir. Langkah pencegahan rasional sangat diperlukan yakni pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan rumah atau gudang.

Kemudian alat pelindung diri, dengan menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus. Selanjutnya yaitu sanitasi makanan, dalam hal ini pastikan makanan tersimpan rapat dan higienis.

“Penting juga literasi informasi, masyarakat harus bersikap kritis terhadap informasi di media sosial dan hanya merujuk pada sumber yang kredibel,” ujarnya.

Di sisi lain, dia mengimbau pemerintah mengedepankan transparansi data dan komunikasi risiko yang jujur guna membangun kembali kepercayaan publik dalam menghadapi ancaman kesehatan di masa depan. (par)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.