Jakarta, The Stance – Istilah "homeless media" mendadak jadi perbincangan hangat di dunia digital Indonesia.
Istilah ini mencuat setelah Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Muhammad Qodari menyambut kehadiran pelaku homeless media yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF) di kantornya dan menyebutnya mitra baru pemerintah.
"Pada kesempatan ini, sebelum masuk kepada materi, kami juga menyambut hangat kehadiran teman-teman dari New Media Forum, mitra baru dari Badan Komunikasi Pemerintah dalam ekosistem media digital di Indonesia," kata Qodari pada konferensi pers yang digelar di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu 6 Mei 2026.
Qodari menilai homeless media sangat efektif dan memiliki jangkauan pengikut yang masif (ratusan juta) di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, sehingga sangat potensial untuk menyebarkan informasi pemerintah.
Dia lalu membacakan daftar homeless media yang menjadi "mitra baru pemerintah" tersebut. Total ada 40 nama dibacakan.
Tak pelak, potongan video Qodari itu pun viral dan menuai banyak kecaman --bukan ke Qodari, melainkan ke 40 nama media yang dia baca.
Warganet ramai-ramai menyindir bahwa 40 homeless media itu sudah "dibeli" pemerintah. Sudah disogok. Sudah terciprat duit.
40 homeless media itu dianggap sama derajatnya dengan buzzer, pendengung yang menyebarluaskan narasi-narasi pro pemerintah.
Belakangan, banyak dari 40 homeless media itu yang memberikan klarifikasi.
Ada yang mengklarifikasi bahwa mereka bukan mitra pemerintah. Ada yang menyatakan tidak mengetahui pertemuan tersebut. Ada yang mengeklaim pemberitaan mereka akan tetap independen, dan sebagainya.
Bakom RI sendiri kemudian juga membantah memiliki kontrak atau ikatan formal dengan para homeless media tersebut.
Pertanyaannya: apa itu homeless media?
Apa itu Homeless Media?

Istilah homeless media awalnya dipopulerkan oleh Eddward Samadyo Kennedy, lewat artikel Jurnalisme Media Tanpa Rumah di situs Remotivi pada 2017.
Istilah itu merujuk pada outlet berita yang hanya mendistribusikan informasi melalui media sosial, yang saat ini sebagian besar berbasis di Instagram.
Outlet berita ini bukan institusi jurnalisme dalam pengertian konvensional. Meski demikian mereka secara rutin menyajikan informasi seakan-akan sebuah institusi berita.
Padahal mereka hanya eksis di dalam media sosial tersebut. DIsebut homeless media (media tanpa rumah), karena mereka hanya eksis di dalam media sosial tersebut. Sepenuhnya bergantung pada media sosial yang ditempati.
Mereka tidak memiliki 'rumah' lain di luar itu. Bahkan sekadar website pun tidak punya.
Mengapa Ada Homeless Media?

Ini karena ada perubahan dalam cara orang mendapatkan informasi.
Awalnya orang mendapat berita melalui televisi, radio, koran atau media online.
Tapi seiring meledaknya popularitas media sosial, makin banyak orang mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi Ini fenomena yang sangat nyata di kalangan generasi digital seperti gen Z.
Homeless media lahir untuk mejawab kebutuhan itu.
Selain itu proses membuat homeless media sangat mudah. Cukup bikin akun di media sosial. Tidak perlu sewa server untuk website, tidak bikin perusahaan. Bahkan juga tidak perlu membikin konten mandiri. Bisa comot sana-sini dan dipoles ulang.
Dan ketika pengikut sudah banyak, monetisasi juga akan menghasilkan profit.
Harus diakui dari segi bisnis, homeless media jauh lebih efisien sekaligus menguntungkan dibandingkan media konvensional.
Ini yang membuat homeless media bertebaran di media sosial. Sebagian bahkan merupakan perpanjangan tangan perusahaan media konvensional yang melihat betapa besarnya ceruk pasar media sosial.
Dan lazimya persaingan media, tier pun akan terbentuk. Ada beberapa homeless media di instagram, X atau tiktok yang kini termasuk top-tier. Mereka memiliki jutaan pengikut, dan lebih berpengaruh dibandingkan media konvensional dalam membentuk informasi atau opini.
Homeless media ini kemudian membentuk asosiasi bernama Indonesia New Media Forum (INMF), dan dilirik istana.
Dalam catatan The Stance, sebanyak 40 homeless media dalam daftar yang dibaca Qodari itu, bila jumlah pengikut mereka digabung, bisa mencapai hingga 70 juta pengguna media sosial.
Kontroversi Homeless Media

Geger Riyanto dalam laporan Memahami Homeless Media: Kajian atas Berita Lokal Informal Berbasis Media Sosial di Lima Kota di Indonesia yang diterbitkan oleh Remotivi pada September 2024, mengungkap konten paling menarik dari homeless media antara lain fakta kota dan romantisasi.
Banyak homeless media bermain di tema yang membangkitkan rasa keterhubungan antara audiens dengan kota mereka. Konten dengan tema ini misalnya informasi tindak kejahatan, keributan antarwarga, kecelakaan, hingga perilaku eksentrik warga.
Mereka bermain dengan menyajikan berita yang sangat spesifik, lokal, segera setelah kejadian berlangsung. Ini membuat homeless media menjadi pusat informasi lokal yang efektif dan memiliki kedekatan dengan para audiensnya.
Tapi homeless media juga punya kontroversi.
Berbeda dari media konvensional, homeless media tidak bekerja dengan etika jurnalistik, struktur editorial atau mekanisme koreksi yang jelas.
Riset Remotivi menyebut bahwa homeless media umumnya dijalankan secara informal, dengan hanya sedikit karyawan. Mereka menambah pekerja biasanya hanya untuk kebutuhan konten endorsement atau untuk produksi yang bernilai lebih tinggi,
Mereka tidak beroperasi seperti institusi jurnalisme konvensional yang menuntut verifikasi berlapis, kewajiban koreksi, dan akuntabilitas.
Alhasil, homeless media juga sering menjadi sumber misinformasi, bahkan hoax.
"Karena mereka memprioritaskan kecepatan penyampaian dan keterlibatan tinggi, mereka rentan untuk mengunggah ulang informasi yang salah," tulis riset Remotivi.
Selain itu, para pelaku homeless media mendanai organisasi mereka melalui dukungan berbayar, seperti lewat promosi tempat-tempat lokal komersial, hotel, restoran, kafe, acara, dan sebagainya.
Karena itu, terkadang sulit membedakan apakah informasi yang disajikan homeless media termasuk objektf atau penuh bias kepentingan.
Bias ini bisa mencakup bias kepentingan ekonomi, atau politik --apalagi setelah istana melirik.
Pelopor Homeless Media

Jauh sebelum menjadi tren di Indonesia, model bisnis homeless media sudah lebih dulu dijalankan di luar negeri. Dipelopori oleh beberapa entitas yang kemudian menjelma menjadi perusahaan besar. Berikut beberapa contohnya:
1. BuzzFeed
BuzzFeed adalah contoh paling legendaris dari suksesnya strategi homeless media. Pada awalnya, BuzzFeed tidak berusaha mendorong audiens untuk mengunjungi website mereka. Mereka fokus membuat konten daftar (listicle) dan kuis yang dirancang khusus untuk dibagikan secara langsung di Facebook dan Pinterest.
BuzzFeed kemudian berkembang menjadi konglomerasi media global dengan divisi khusus seperti BuzzFeed News yang bekerja seperti media tradisional. Pada masa puncaknya, BuzzFeed sempat mencapai kapitalisasi pasar US$ 1,7 miliar di bursa saham NASDAQ.
2. Brut
Brut adalah perusahaan media asal Prancis yang kini menjadi kiblat berita bagi Gen Z di seluruh dunia.
Brut sengaja didirikan sebagai media tanpa website. Semua kontennya berupa video format persegi dengan teks (subtitel) yang dioptimalkan untuk Facebook, Instagram, dan TikTok.
Brut berekspansi ke AS, India, dan seluruh Eropa. Mereka telah mengumpulkan pendanaan lebih dari US$ 150 juta dan kini menjadi media yang paling banyak ditonton di jejaring sosial di Eropa.
Bisakah Homeless Media Dipercaya?

Homeless media jelas bermanfaat.
Mereka menawarkan perspektif berbeda dan sering kali menyoroti isu-isu yang kurang mendapat perhatian dari media arus utama. Mulai dari konten rekomendasi belanja atau jasa, kebijakan pemerintah, kejahatan, rekomendasi kuliner, dan fakta kota.
Dengan kecepatan dan kemampuan menjangkau audiens yang luas, mereka dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai gerakan sosial.
Mungkin masih banyak pembaca yang ingat peringatan darurat Garuda Biru menjelang 17 Agustus 2024 lalu.
Ketika itu, sikap DPR yang hendak merevisi UU Pilkada dengan mengakali putusan MK soal batas usia minimum kepala daerah, yaitu 30 tahun, diyakini merupakan upaya untuk memuluskan jalan Kaesang Pangarep yang berusia 29 tahun, untuk maju Pilkada.
Lambang Garuda biru dengan peringatan daruratnya pun membanjiri media sosial, didorong oleh banyak homeless media.
Hasilnya adalah demonstrasi besar-besaran di Jakarta dan kota-kota lain yang akhirnya membuat DPR batal mengakali putusan MK tersebut.
Ini adalah dampak positif bagaimana homeless media bisa memicu gerakan sosial.
Meski demikian, pembaca juga harus hati-hati. Homeless media juga rentan oleh bias. Karaker pemberitaan yang singkat, visual yang menarik, dan kebutuhan enggagement yang tinggi, terkadang menempatkan hal yang menarik (interesting) di atas fakta sebenarnya (truth).
Dibutuhkan kebijaksanaan, sekalgus kehati-hatian, untuk tidak mudah terbawa isu yang diusung homeless media. ((est/bsf)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance