Dua Tahun Prabowo (2): Politik Akomodasi
Demokrasi bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi juga membutuhkan mereka yang kalah untuk tetap mempunyai ruang mengawasi mereka yang menang.
373 artikel ditemukan
Demokrasi bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi juga membutuhkan mereka yang kalah untuk tetap mempunyai ruang mengawasi mereka yang menang.
Tantangan Prabowo bukan sekadar memperkuat negara, melainkan harus memperkuat institusi negara tanpa melemahkan masyarakat. Demokrasi memang membutuhkan pemerintah yang kuat, tetapi dengan tujuan akhir membangun masyarakat sipil yang kuat.
Islam yang seharusnya menilai Prabowo, justru tampil seolah-olah sedang dinilai dan didefinisikan melalui Prabowo. Islam yang seharusnya berdiri sebagai hakim atas kekuasaan, berisiko berubah menjadi atribut kekuasaan.
Sejak kapan Islam memiliki versi berdasarkan nama seorang penguasa? Apalagi penguasa sekuler? Kita mengenal Shalahuddin al-Ayyubi atau penaklukan agung Muhammad al-Fatih. Akan tetapi, tidak pernah ada istilah “Islam ala Shalahuddin” atau "Islam ala Muhammad al-Fatih".
Dan buku terakhirnya, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, menunjukkan bahwa pada penghujung hidupnya ia masih mencari cara agar gagasan lama dapat berbicara kepada generasi baru.
Pengetahuan, bagi Airlangga, harus dibawa kembali ke tengah masyarakat untuk membaca kekuasaan, menguji demokrasi dan mencari jalan bagi Indonesia yang lebih adil.
Ketidakseimbangan tata kelola perberasan berisiko membawa Indonesia pada situasi deadlock: produksi terus meningkat, tetapi kapasitas ekonomi untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan mendistribusikan produksi tersebut tidak berkembang secara seimbang.
Satu insiden mungkin disebabkan kesalahan individu. Namun, kejadian serupa yang berulang di berbagai tempat menunjukkan perlunya evaluasi terhadap desain sistem.
Hukum jangan cuma galak kepada masyarakat lokal atau petani kecil yang berladang secara tradisional, sementara perusahaan bisa lolos dari sanksi pidana dan perdata. Apalagi, jika terindikasi bahwa lahan yang terbakar "secara alami" itu "langsung ditumbuhi" komoditas perkebunan milik mereka.
Ini bukan persoalan memilih satu sasaran. BI harus menjaga ketiganya sekaligus. Di sinilah analisis perlu dibuat lebih seimbang. Pelemahan rupiah juga menghasilkan pemenang.
Yang sedang kita saksikan lebih tepat disebut meningkatnya risiko unwinding dan repatriasi modal Jepang. Bahkan analisis pasar saat ini menilai risiko pembalikan mendadak tetap moderat. Perbedaannya penting. Ini bukan ramalan krisis. Ini adalah perubahan risiko.
Pesantren telah dan harus terus menjadi mesin mobilitas sosial dan menjadi kanal mobilitas vertikal. Agenda NU yang utama seharusnya bukan di wilayah politik praktis kekuasaan.