Oleh Hasan M. Noer, kreator digital asal Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bekerja di Penerbit Penamadani. Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini kini tinggal di Jakarta & aktif menuangkan ide & gagasannya di laman media sosialnya.

"Segala yang paling pasti saya ketahui tentang moralitas dan tanggung jawab, adalah apa yang saya pelajari dari sepak bola” — Albert Camus.

Sepak bola adalah bahasa yang dipahami seluruh umat manusia. Tetapi nurani adalah bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang masih memiliki kemanusiaan.

Malam itu, dunia tak sekadar menyaksikan sebuah pertandingan. Dunia sedang membaca sebuah bab baru dalam kitab sejarah. Di atas hamparan rumput hijau, Spanyol menaklukkan Argentina. Satu gol mengantarkan La Roja kembali ke singgasana dunia.

Stadion bergemuruh. Langit dipenuhi kembang api. Jutaan manusia bersorak, sementara trofi emas berpindah tangan menuju Madrid.

Sepak bola memang memiliki kemampuan yang nyaris ajaib: menyatukan manusia tanpa memandang bahasa, agama, maupun batas-batas geografis.

Namun, sebagaimana diingatkan Albert Camus, sepak bola tidak hanya mengajarkan cara menang. Ia juga mengajarkan moralitas dan tanggung jawab.

Sebab, sebuah kemenangan hanya akan menjadi perayaan sesaat apabila ia tidak disertai dengan keberanian menjaga nurani. Karena di luar stadion, ada dunia yang tidak mengenal peluit akhir, yaitu Gaza.

Di Gaza, anak-anak tidak sedang menghitung skor. Mereka sedang menghitung hari-hari yang berhasil mereka lewati di tengah dentuman bom. Mereka tidak berlari mengejar bola, melainkan berlari menyelamatkan nyawa.

Penderitaan di Gaza Belum Berhenti

Palestina

Di sana, rumput hijau telah berubah menjadi puing-puing, sementara langit lebih sering memantulkan asap daripada cahaya. Kemenangan Spanyol atas Argentina, terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hasil pertandingan.

Karena, Spanyol menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada Palestina. Sebaliknya, Argentina pun menunjukkan keberpihakan yang nyata pula kepada Israel.

Spanyol seakan mengingatkan kepada dunia bahwa sebuah bangsa dapat menjadi juara di lapangan, sekaligus berusaha menjaga suara hati di panggung kemanusiaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol menunjukkan sikap politik yang tidak selalu sejalan dengan arus besar Barat. Pemerintahnya berkali-kali menyuarakan perlunya penghormatan terhadap hak-hak rakyat Palestina.

Bahkan ketika banyak negara memilih diam, Madrid memilih berbicara.

Sikap itu tentu tidak menyelesaikan seluruh penderitaan yang masih berlangsung. Namun, sejarah selalu dimulai oleh keberanian untuk mengatakan bahwa ketidakadilan tetaplah ketidakadilan, sekalipun dunia memilih diam.

Sepak bola, sebagaimana politik, bukan sekadar soal menang dan kalah. Keduanya adalah panggung tempat karakter sebuah bangsa dipertontonkan.

Kemenangan di lapangan memberi kebanggaan. Keberanian membela kemanusiaan memberi kehormatan. Dan sejarah lebih lama mengingat kehormatan daripada kemenangan.

Agama Kemanusiaan di Atas Sepakbola

Eduardo Galeano

Eduardo Galeano (1940-2015) pernah menulis bahwa sepak bola adalah "agama tanpa ateis." Kalimat itu benar. Tetapi ada agama yang lebih tua daripada sepak bola, yakni “agama kemanusiaan.”

Trofi emas hanya diperebutkan 4 tahun sekali, sedangkan air mata anak-anak Palestina mengalir setiap hari. Medali hanya menggantung di leher beberapa pemain. Namun doa-doa para ibu yang kehilangan anak menggantung di langit setiap malam.

Di sinilah kemenangan memperoleh makna baru. Bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak mencetak gol, melainkan siapa yang paling berani menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Sepak bola adalah pertandingan 90 menit. Tetapi kemanusiaan adalah pertandingan sepanjang peradaban. Trofi hanya akan berdebu di museum. Sedangkan keberanian membela nilai-nilai kemanusiaan akan tetap hidup dalam ingatan sejarah.

Argentina kalah malam itu. Namun Argentina tetaplah negeri yang melahirkan Diego Maradona dan Lionel Messi—dua maestro yang mengajarkan bahwa sepak bola adalah seni yang lahir dari kerendahan hati, kerja keras, dan cinta kepada permainan.

Spanyol menang. Dan kemenangan itu terasa semakin indah ketika dunia mengingat bahwa negeri ini juga pernah berdiri pada sisi yang memperjuangkan pengakuan terhadap martabat rakyat Palestina.

Barangkali inilah sebabnya banyak orang di berbagai belahan dunia ikut tersenyum menyambut kemenangan La Roja.

Bukan semata-mata karena mereka pendukung Spanyol. Melainkan karena mereka melihat secercah harapan bahwa kejayaan olahraga masih dapat berjalan berdampingan dengan keberanian moral.

Baca Juga: FIFA Dorong Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Tim, Kans Indonesia Lolos Membesar

Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa besar tak dibangun hanya oleh tentara dan ekonom, tapi juga dibangun penyair, guru, seniman pesepakbola, dan pemimpin yang berani mengatakan bahwa setiap nyawa manusia memiliki harga yang sama.

Ketika stadion bersinar terang, dunia berharap cahaya itu juga mampu menerangi lorong-lorong gelap kemanusiaan. Karena kemenangan yang sesungguhnya bukanlah ketika seseorang mengangkat trofi, melainkan ketika ia mampu mengangkat martabat manusia.

Malam tadi Spanyol menjadi juara dunia. Hari ini trofi itu akan dipajang di museum. Namun semoga ada sesuatu yang lebih lama disimpan daripada emas itu. Yakni keberanian untuk tetap berpihak kepada mereka yang tertindas.

Dan kemenangan Spanyol menjadi lebih bermakna ketika dunia melihat bahwa kejayaan olahraga tidak harus dipisahkan dari keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.

Barangkali inilah pelajaran terbesar dari malam final itu. Bahwa bangsa besar tidak hanya dikenang karena jumlah trofi yang mereka menangkan, tetapi juga karena keberanian moral yang mereka tunjukkan ketika dunia diuji oleh tragedi.

Selamat kepada Spanyol. Semoga kemenangan di lapangan hijau menjadi jalan menuju kemenangan yang lebih agung: kemenangan nurani atas kebisuan, kemenangan keadilan atas penindasan, dan kemenangan kemanusiaan atas ketidakadilan.

Karena suatu hari nanti, sejarah mungkin lupa siapa pencetak gol di final. Tetapi sejarah tidak akan pernah lupa siapa yang memilih berdiri bersama kemanusiaan ketika dunia lebih sibuk menghitung kedigdayaan sebuah piala.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari berapa banyak piala yang berhasil diangkat, melainkan dari berapa banyak air mata manusia yang berhasil dihentikan..***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.