Oleh Laksamana Sukardi, ekonom yang pernah menjadi mantan Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara Indonesia serta Menteri Negara BUMN. Kini aktif menyuarakan gagasannya melalui LS Forum.

Selama puluhan tahun, Jepang memiliki keunikan yang jarang dimiliki negara besar lain: uangnya sangat murah.

Setelah pecahnya gelembung ekonomi Jepang pada awal 1990-an, negara itu mengalami pertumbuhan yang lemah, inflasi sangat rendah, bahkan berkali-kali menghadapi deflasi.

Bank of Japan (BoJ) kemudian mempertahankan suku bunga pada tingkat yang luar biasa rendah untuk waktu yang sangat panjang. Bagi masyarakat Jepang, kebijakan ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali perekonomian.

Tetapi bagi pasar keuangan dunia, ia menciptakan sesuatu yang lain: Jepang menjadi salah satu sumber uang murah terbesar di dunia.

Investor dapat meminjam yen dengan bunga sangat rendah, menukarnya menjadi dolar atau mata uang lain, lalu menanamkannya pada obligasi, saham, dan berbagai aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Strategi sederhana ini dikenal sebagai yen carry trade. Bayangkan seseorang dapat meminjam uang dengan bunga 1%, lalu menginvestasikannya pada aset yang memberikan hasil 5%-6%.

Selama kurs tidak bergerak terlalu jauh, selisih tersebut menjadi keuntungan. Dalam skala global, tentu ceritanya jauh lebih kompleks. Tetapi prinsip dasarnya sama.

Dan selama bertahun-tahun, uang murah dari Jepang ikut mengalir ke berbagai penjuru dunia. Sekarang keadaan mulai berubah.

Jepang Tinggalkan Dunia Bunga Sangat Rendah

yen

Perubahan yang sedang berlangsung di Jepang bukan sekadar pergerakan kurs yen selama beberapa hari. Ia merupakan bagian dari normalisasi ekonomi Jepang setelah puluhan tahun hidup dalam rezim suku bunga sangat rendah.

Pada awal September 2026, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau JGB tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996.

Inflasi, kenaikan harga energi, lemahnya yen dan kekhawatiran fiskal telah meningkatkan tekanan agar Bank of Japan meneruskan normalisasi kebijakan moneternya. ⁠

Ini angka yang kelihatannya kecil. Tetapi bagi Jepang, 3 persen merupakan perubahan besar.

Selama bertahun-tahun investor Jepang menghadapi pilihan yang sederhana: imbal hasil obligasi di dalam negeri sangat rendah, sehingga lebih menarik membawa uang ke luar negeri.

Sekarang perhitungannya berubah. Jika obligasi pemerintah Jepang sendiri mulai memberikan imbal hasil yang menarik, untuk apa mengambil risiko kurs dan risiko pasar dengan membeli aset di negara lain?

Dan memang tanda-tanda perubahan itu sudah terlihat.

Reuters melaporkan investor Jepang telah menjual bersih sekitar ¥3 triliun atau US$18,7 miliar obligasi luar negeri sepanjang tahun hingga 22 Agustus, arus keluar terbesar untuk periode yang sama sejak 2022.

Ini belum merupakan eksodus besar-besaran, tetapi arahnya penting. ⁠Dengan kata lain: uang Jepang mulai mempunyai alasan untuk pulang.

Mengapa Yen Menguat?

penguatan

Di sinilah carry trade bekerja secara terbalik. Ketika investor dahulu melakukan carry trade, mereka pada dasarnya meminjam atau menjual yen untuk membeli aset dalam mata uang lain. Ketika perdagangan itu dibalik, prosesnya juga berbalik.

Investor menjual aset yang mereka miliki di luar Jepang. Mereka memperoleh dolar atau mata uang asing lainnya. Kemudian mereka membeli yen untuk membayar kembali pinjamannya atau membawa modal kembali ke Jepang.

Akibatnya, permintaan terhadap yen meningkat. Yen pun dapat menguat. Pada 3 September, yen bahkan menguat sekitar 2% terhadap dolar AS ketika pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan. ⁠

Maka muncul sebuah mekanisme yang dapat memperkuat dirinya sendiri:

BoJ diperkirakan menaikkan bunga → aset Jepang semakin menarik → investor mengurangi posisi di luar Jepang → yen dibeli kembali → yen menguat → posisi carry trade semakin tidak menguntungkan → lebih banyak posisi ditutup.

Inilah yang disebut unwinding yen carry trade. Namun penting untuk tidak membuat kesimpulan terlalu dramatis. Belum ada bukti bahwa seluruh carry trade global sedang dibongkar secara serentak.

Yang sedang kita saksikan lebih tepat disebut meningkatnya risiko unwinding dan repatriasi modal Jepang. Bahkan analisis pasar saat ini menilai risiko pembalikan mendadak tetap moderat. ⁠

Perbedaannya penting. Ini bukan ramalan krisis. Ini adalah perubahan risiko.

Mengapa Indonesia Harus Memperhatikan

Indonesia tidak harus meminjam yen secara langsung untuk terkena dampaknya. Hubungannya terjadi melalui pasar keuangan global.

Bayangkan ada sebuah kolam besar berisi modal internasional. Selama uang murah melimpah, sebagian air mengalir ke Indonesia: membeli Surat Berharga Negara (SBN), saham, obligasi perusahaan dan aset lainnya.

Sekarang salah satu sumber air terbesar—Jepang—mulai menawarkan keuntungan lebih menarik di rumahnya sendiri. Sebagian modal global dapat memilih kembali ke sana.

Indonesia kemudian harus bersaing lebih keras untuk mempertahankan modal. Di sinilah masalah Jepang berubah menjadi masalah kita.

Jalur pertama: pasar obligasi. Investor asing merupakan salah satu sumber permintaan terhadap Surat Berharga Negara.

Jika investor global mengurangi risiko atau investor Jepang mengembalikan dana ke negaranya, sebagian aset emerging markets dapat dijual.

Harga obligasi turun. Ketika harga obligasi turun, yield naik. Artinya, pemerintah harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik pembeli. Pada akhirnya, biaya uang bagi pemerintah Indonesia dapat meningkat.

Dan dampaknya tidak berhenti pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Yield SBN merupakan salah satu acuan penting bagi harga uang dalam perekonomian.

Jika biaya pendanaan pemerintah naik, biaya pendanaan perusahaan dan perbankan juga dapat ikut menghadapi tekanan.

Baca Juga: Sinyal Bakom Tunjukkan ke Arah Mana Bank Indonesia Setelah Perry Mundur

Jalur kedua: rupiah. Investor yang menjual aset rupiah biasanya kemudian mengubah hasil penjualannya menjadi dolar atau mata uang lain. Permintaan dolar meningkat. Rupiah mendapat tekanan.

Indonesia sudah memasuki episode ini dengan ruang yang tidak terlalu longgar. Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di 5,75% pada Agustus, setelah menaikkannya dari 4,75% pada awal tahun.

BI secara eksplisit menyatakan stabilisasi rupiah di tengah volatilitas global sebagai salah satu pertimbangan kebijakannya.

⁠Cadangan devisa per akhir Juli tercatat sekitar US$145,3 miliar, sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 1 September berada di Rp17.727 per dolar.

⁠Dengan demikian, penguatan yen bukan berarti rupiah otomatis jatuh. Tetapi ia menambah satu sumber tekanan baru terhadap mata uang Indonesia pada saat kondisi global memang sudah sulit. (Bersambung)***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance