
Oleh Laksamana Sukardi, ekonom yang pernah menjadi mantan Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara Indonesia serta Menteri Negara BUMN. Kini aktif menyuarakan gagasannya melalui LS Forum.
Di sinilah persoalan menjadi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Jika rupiah tertekan terlalu dalam, Bank Indonesia (BI) mempunyai beberapa instrumen.
BI dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing, menggunakan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta menggunakan kebijakan suku bunga untuk menjaga daya tarik aset rupiah.
Dan aktivitas DNDF BI memang masih berlangsung pada 3 September. Tetapi setiap instrumen mempunyai konsekuensi.
Jika cadangan devisa digunakan terlalu agresif, bantalan eksternal berkurang. Jika suku bunga dinaikkan, rupiah mungkin memperoleh dukungan—tetapi kredit menjadi lebih mahal.
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) lebih mahal. Pinjaman modal kerja perusahaan lebih mahal. Pembiayaan investasi menjadi lebih berat. Konsumsi dapat melambat.
Baca Juga: Ketika Uang Murah Jepang Pulang (1): Dampak Penguatan Yen ke Indonesia
Jadi masalah yang awalnya muncul di pasar obligasi Tokyo akhirnya dapat sampai ke cicilan dan keputusan investasi di Jakarta. Itulah transmisi moneter global.
Ada masalah kedua: inflasi. Rupiah yang melemah membuat barang impor menjadi lebih mahal. Indonesia mengimpor minyak, bahan baku, barang modal dan berbagai komponen industri.
Pada saat yang sama, harga energi global sedang tinggi. Bahkan BI mencatat inflasi Indonesia Agustus sebesar 3,19%, masih dalam sasaran 2,5±1%, tetapi sudah berada di bagian atas kisaran tersebut.
Maka BI menghadapi kombinasi yang tidak nyaman: rupiah perlu dijaga, inflasi perlu dikendalikan, tetapi pertumbuhan ekonomi juga tidak boleh dimatikan oleh suku bunga yang terlalu tinggi.
Ini bukan persoalan memilih satu sasaran. BI harus menjaga ketiganya sekaligus. Di sinilah analisis perlu dibuat lebih seimbang. Pelemahan rupiah juga menghasilkan pemenang.
Indonesia Bukan Hanya Korban

Perusahaan yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dalam dolar Amerika Serikat (AS) tetapi mengeluarkan sebagian besar biayanya dalam rupiah dapat memperoleh keuntungan kurs.
Eksportir batu bara, crude palm oil (CPO), mineral dan beberapa komoditas lain dapat memperoleh bantalan alami. Sebaliknya, perusahaan dengan utang dolar besar tetapi pendapatan rupiah menghadapi kondisi yang jauh lebih berat.
Begitu pula perusahaan yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Karena itu dampak pelemahan rupiah tidak pernah merata. Yang menentukan bukan sekadar apakah rupiah melemah, tetapi struktur pendapatan, utang dan biaya setiap perusahaan.
Ada perubahan yang lebih besar daripada yen. Menurut saya, justru ini bagian terpenting dari seluruh cerita. Jangan terlalu terpaku pada apakah USD/JPY besok berada di 155, 158 atau 160.
Yang lebih penting adalah perubahan struktural di belakangnya. Selama beberapa dekade, Jepang adalah salah satu penyedia modal murah bagi dunia.
Kini imbal hasil obligasi Jepang meningkat. Bank of Japan (BoJ) sedang bergerak menuju kebijakan yang lebih normal. Investor Jepang mempunyai alasan yang semakin kuat untuk menempatkan modalnya di dalam negeri.
Reuters menggambarkannya sebagai perubahan arah arus modal global: Jepang perlahan mengurangi perannya sebagai pembeli marginal penting obligasi luar negeri.
Jika kecenderungan ini bertahan, dunia dapat memasuki periode ketika modal global menjadi lebih mahal dan lebih selektif. Dan bagi Indonesia, implikasinya jauh lebih besar daripada volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama beberapa hari.
Dari Tokyo hingga ke Rumah Tangga Indonesia

Indonesia harus menjadi lebih menarik karena fundamental, bukan sekadar bunga. Selama likuiditas global berlimpah, negara berkembang masih dapat menarik modal hanya dengan menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi.
Tetapi ketika AS menawarkan yield tinggi, Jepang kembali menawarkan yield yang berarti, dan risiko geopolitik meningkat, investor mempunyai lebih banyak alternatif.
Pertanyaannya berubah. Bukan lagi: “Berapa tinggi bunga yang ditawarkan Indonesia?” Tetapi: “Mengapa modal jangka panjang harus memilih Indonesia?”
Jawabannya harus datang dari produktivitas, kepastian hukum, kualitas institusi, disiplin fiskal, stabilitas kebijakan, kedalaman pasar keuangan dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Karena mempertahankan modal dengan menaikkan bunga terus-menerus mempunyai batas. Semakin tinggi bunga, semakin mahal pula harga yang harus dibayar ekonomi domestik.
Untuk masyarakat awam, seluruh rantai ini sebenarnya dapat diringkas dengan sangat sederhana:
Jepang menaikkan bunga → obligasi Jepang menjadi lebih menarik → sebagian uang kembali ke Jepang → yen menguat → carry trade berkurang → investor global mengurangi sebagian aset berisiko → pasar berkembang mendapat tekanan → rupiah dan SBN ikut terpengaruh → BI harus menjaga stabilitas → ruang penurunan bunga menyempit atau bahkan muncul risiko kenaikan bunga → kredit dan investasi menjadi lebih mahal → pertumbuhan ekonomi dapat melambat.
Tetapi rantai tersebut bukan hukum mekanis. Setiap panah bergantung pada besarnya arus modal, respons investor, kebijakan Bank of Japan (BoJ), Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat (AS), harga minyak, serta respons BI.
Karena itu, kenaikan yen tidak dengan sendirinya berarti krisis bagi Indonesia. Yang patut diperhatikan adalah jika beberapa tekanan datang bersamaan. Harga minyak tinggi. Yield AS tinggi. Yield Jepang naik.
Modal global pulang. Rupiah melemah. Inflasi domestik meningkat. Masing-masing mungkin dapat dikelola. Yang berbahaya adalah ketika semuanya datang pada waktu yang sama.
Pelajaran dari Jepang

Ada ironi menarik dalam cerita ini. Selama bertahun-tahun dunia khawatir Jepang tidak mempunyai inflasi dan tidak mampu menaikkan suku bunga.
Sekarang dunia justru khawatir karena Jepang mulai mempunyai inflasi dan dapat menaikkan suku bunga. Ini menunjukkan betapa terhubungnya sistem keuangan dunia. Keputusan yang dibuat di Tokyo tidak berhenti di Tokyo.
Ia mempengaruhi New York, London dan Singapura—kemudian sampai ke Jakarta. Bahkan dapat berakhir pada bunga Kredit Pemilikan Rumaj (KPR), kredit perusahaan dan keputusan investasi seorang pengusaha Indonesia.
Karena uang selalu mencari kombinasi terbaik antara keuntungan, keamanan dan likuiditas. Ketika kombinasi itu berubah di Jepang, peta aliran uang dunia ikut berubah.
Dan mungkin inilah pesan terpenting bagi Indonesia: Selama puluhan tahun, dunia menikmati uang murah dari Jepang. Kini uang itu mulai mempunyai alasan untuk pulang.
Pertanyaannya bagi Indonesia bukan bagaimana menghentikannya, tetapi bagaimana membuat modal tetap mempunyai alasan untuk tinggal.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance