Oleh Imam B. Prasodjo, sosiolog dan dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Peraih gelar M.A. dari Kansas State University dan gelar Ph.D. dari Brown University di Rhode Island, Amerika Serikat ini mendirikan Yayasan Nurani Dunia dan aktif berbagi pemikirannya di Facebook.

Kemarin, 29 Agustus 2026, tim dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang tergabung dalam POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) berkunjung ke Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta.

Sayangnya, pimpinan POGI, Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG, MPH, Subsp. FER., mendadak tak bisa hadir.

Syukurlah, Dr. dr. Arietta Pusponegoro, SpOG(K), yang menjabat sebagai Ketua Kolaborasi Internasional POGI dapat hadir bersama Akhmad Yogi Pramatirta, Dr., dr., SpOG., Subsp.K.Fm., M.Kes, Ketua POGI Cabang Jawa Barat.

Selain itu juga hadir para dokter ahli kebidanan dan kandungan dari Purwakarta.

Kunjungan ini adalah penjajakan kerjasama antara POGI dan Yayasan Nurani Dunia untuk menjadikan Kampung Ilmu di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, menjadi kampung dengan sistem perlindungan kesehatan perempuan holistik.

Secara lebih rinci, program unggulan POGI dinamai Gerakan SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia) yang terfokus pada berbagai fase siklus hidup perempuan untuk menekan angka kematian ibu (AKI) dan meningkatkan kesehatan reproduksi.

Baca Juga: Cara Menghindari Rasa Kesal

Cakupan program meliputi Program Remaja (pencegahan anemia, suplementasi zat besi/multiple micro-nutrient (MMN), deteksi dini kesehatan remaja, hingga pelatihan peer educator/kader sebaya.

Program Dewasa & Pra-Konsepsi meliputi edukasi kesehatan seksual, perencanaan keluarga, kesadaran menstruasi (termasuk Polycystic Ovarian Syndrome/PCOS), serta gaya hidup sehat.

Lalu, Program Kehamilan (suplementasi multi-mikronutrien, program kawal kehamilan, aplikasi pregnancy tracker, hingga kelas ibu hamil plus), dan Persalinan & Nifas (Perawatan komprehensif untuk menjamin keselamatan ibu dan bayi pasca-melahirkan).

Program pra-Menopause & Menopause meliputi pencegahan osteoporosis (kesehatan tulang) dan pemeliharaan kualitas hidup perempuan lanjut usia.

Penanganan Kesehatan Berbasis Komunitas

Dalam diskusi dengan para dokter ahli ini, tercetus niatan membangun model percontohan sistem penanganan kesehatan inovatif berbasis komunitas.

Sistem tersebut mengintegrasikan partisipasi masyarakat dan berbagai ahli terkait lain (ahli lingkungan, ahli teknologi informasi, ahli pendidikan, ahli sosial, ahli gizi dll) dalam melakukan beragam tindakan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif guna meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.

Dalam diskusi ini, muncul gagasan untuk segera membangun sistem database di Kampung Ilmu yang mampu mendata profil demografis seluruh warga dengan dilengkapi kondisi status kesehatan yang khusus dapat diakses oleh para dokter.

Dalam diskusi ini, pendataan alat konektivitas (handphone) sangat diperlukan agar upaya promotif berbasis IT dapat dikembangkan.

Juga, pemetaan sosial berbasis geo-mapping harus dikembangkan sehingga lokasi rumah masing masing warga dapat terdeteksi. Perangkat global positioning system (GPS) dan Google map dapat digunakan dalam pemetaan.

Teknologi informasi ini diharapkan akan sangat berguna manakala langkah langkah darurat diperlukan, misalnya menjemput ibu hamil yang akan melahirkan, atau warga sakit yang harus mendapatkan bantuan penanganan segera.

Ke depan, penggunaan teknologi ini juga dapat diintegrasikan dengan penggunaan dron sebagai alat transportasi untuk mengantar beragam keperluan kesehatan seperti obat dan peralatan tanggap darurat.

Dalam diskusi disadari sepenuhnya bahwa akses warga desa terhadap dokter ahli kebidanan dan kandungan sangat terbatas. Selain kendala jarak, jumlah dokter spesialis bidang ini yang dapat melayani warga desa, terutama desa terpencil, tak banyak.

Layanan Dokter Kebidanan Berbasis Online

Online Booking

Oleh karena itu, muncul gagasan penting membangun layanan dokter spesialis kebidanan dan kandungan berbasis internet (online).

Bila sistem ini dapat dikembangkan, para dokter spesialis yang tergabung dalam POGI secara bergantian dapat memberikan pelayanan online bagi semua warga Kampung Ilmu.

Bila sistem pelayanan ini berhasil dijalankan, kelak dapat dikembangkan di seluruh desa desa lain di Indonesia.

Bagaimana pembiayaannya? Tentu, bila Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dapat mengalokasikan dana untuk program ini akan sangat baik.

Namun, untuk langkah awal, cukuplah semangat kesukarelawanan dari para dokter menjadi modal utama.

Selain itu, tentu banyak perusahaan akan bersedia membantu program percontohan ini melalui corporate social responsibility (CSR) asalkan program dirancang secara jelas, transparan, jujur dan bertanggung-jawab.

Warga desa sendiri pasti bersedia urunan sukarela ala kadarnya untuk sedikit membantu operasional program ini. Warga pasti tak keberatan bila program ini benar benar menjamin kemudahan pelayanan kesehatan lebih baik dari yang selama ini tersedia.

Kapan program dimulai? Semoga saja para pengurus POGI segera merancang aksi lebih rinci untuk ditindaklanjuti dengan aksi. Sebagus apapun talking action (omon-omon), baru akan berdampak bila dilanjutkan dengan taking action (langkah nyata).

Agaknya dalam situasi negeri tengah menghadapi tantangan berat di bidang kesehatan, langkah terobosan perlu dilakukan!***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.