Jakarta, The Stance – Perang tidak hanya berlaku di panggung politik tapi juga bisa berimbas pada bidang kebudayaan.

Salah satunya seperti yang dilakukan Ukraina yang memutuskan menjatuhkan sanksi terhadap serial animasi populer Rusia, Masha and the Bear karena dinilai sebagai alat "propaganda" Rusia dan mengancam keamanan nasional mereka.

Menteri Kebudayaan Ukraina Tetyana Berezhna menyatakan bahwa sanksi telah dijatuhkan terhadap produser kartun dan para distributor tayangan tersebut. Kini, kartun tersebut diblokir di Ukraina.

“Ukraina telah menjatuhkan sanksi terhadap produser dan distributor serial animasi Rusia Masha and the Bear,” tulis keterangan Berezhna di X pada Jumat 21 Agustus 2026 lalu.

Untuk diketahui, Masha and the Bear merupakan serial animasi yang pertama kali tayang pada 2009, dan mengisahkan seorang gadis kecil yang usil dan seekor beruang pensiunan sirkus ini merupakan tayangan klasik yang sangat digemari di Rusia.

Serial ini telah ditonton lebih dari 37 miliar kali hanya di YouTube saja dan disiarkan di sekitar 100 negara. Indonesia termasuk negara dengan stasiun televisi yang menayangkan acara tersebut.

Dianggap Propaganda Rusia

animasi Rusia

Tayangan kartun ini menuai kritik dari Ukraina dan sekutunya, termasuk Inggris dan Estonia, karena dianggap menampilkan citra positif Rusia dan menjadi instrumen soft power Moskow.

"Hal ini menciptakan dasar hukum untuk memblokir konten tersebut di Ukraina dan melibatkan platform internasional guna membatasi monetisasi serta distribusinya," ujar Berezhna.

Pemberian sanksi ini menjadi langkah awal pemerintah Ukraina menuju pelarangan total serial animasi hit asal Rusia tersebut. "Propaganda Rusia tidak memiliki tempat di layar tontonan anak-anak," tegasnya.

Sanksi ini telah disetujui oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Dalam dokumen yang ditandatangani Zelenskyy, Pemerintah Ukraina menjatuhkan sanksi terhadap pencipta dan distributor, termasuk studio penciptanya, Animaccord.

Kepada sutradara, penulis skenario, dan produser acara tersebut telah disanksi. Hal ini dilakukan setelah para pejabat Ukraina menuduh acara tersebut menyebarkan propaganda Kremlin sembari menghasilkan pendapatan dari penayangannya.

“Kita harus menanggapi propaganda Rusia secara terpisah, terutama ketika ditujukan kepada anak-anak dan disebarkan melalui platform internasional yang besar,” kata penasihat Zelenskyy, Vladyslav Vlasyuk.

Sebelumnya, anggota parlemen Verkhovna Rada Ukraina, Yaroslav Yurchyshyn, secara terbuka menuntut penjatuhan sanksi terhadap kartun tersebut demi membatasi akses tontonan anak-anak di negaranya.

Melalui saluran Telegram pribadinya, Yaroslav Yurchyshyn mengungkapkan rasa geramnya atas situasi tersebut.

"Proyek Masha and the Bear yang pro-Kremlin masih belum dikenai sanksi... Kita memiliki Telegram, yang melaluinya anak-anak membeli narkoba dan menanam bahan peledak," tulis Yurchishin.

Atas dasar kekhawatiran tersebut, sang anggota parlemen mengusulkan untuk menjatuhkan sanksi pada kartun Masha and the Bear dan produk Rusia lainnya, serta menetapkan batasan usia untuk penggunaan jejaring sosial.

Respon Kremlin

Dmitry Peskov

Menanggapi sanksi tersebut, perwakilan Animaccord Studios, Melanie Bonvicino, menyebut klaim Ukraina itu sebagai “palsu dan fitnah”.

Menurutnya, studio tersebut selama ini beroperasi secara independen dan tidak menerima pendanaan dari pemerintah Rusia.

Sementara itu, Kremlin melalui Juru Bicara Dmitry Peskov, turut mengutuk sanksi tersebut. Menurut Pemerintah Rusia, sanksi itu justru telah “menunjukkan keburukan rezim Kyiv”.

"Fakta bahwa Ukraina juga melancarkan perang terhadap kartun kemungkinan besar menjadi bukti lain dari sifat buruk otoritas Ukraina," kata Peskov kepada para wartawan.

Sebelumnya, pada bulan juni, Ukraina juga memprotes langkah Netflix untuk mengakuisisi hak siar musim-musim terbaru Masha and the Bear.

Sejak Kremlin melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022, produk budaya Rusia semakin jarang ditemui di Ukraina akibat boikot dan pembatasan resmi.

Menariknya, menurut media Ukrainska Pravda, pada Agustus 2025, saluran YouTube Ukraina untuk Masha and the Bear menempati peringkat teratas saluran anak-anak paling populer di negara yang dilanda perang tersebut.

Saat ini, saluran tersebut memiliki lebih dari 18 juta pelanggan.

Bukan Kali Pertama Diboikot

kartun masha

Meski sangat populer dan digemari banyak penonton, sejumlah episode Masha and the Bear pernah dikecam di beberapa negara. Bahkan, pernah dilarang tayang di Iran.

Dikutip dari dari berbagai sumber, berikut daftar negara yang pernah mengecam serial Masha and the Bear:

1. Iran

Pada 2015, pemerintah Iran melarang Masha and the Bear ditayangkan di televisi pemerintah. Karakter Masha yang dikisahkan begitu aktif dan dipenuhi rasa penasaran dianggap memberi contoh buruk bagi anak-anak.

Pemerintah Iran ketika itu menganggap karakter Masha begitu aktif, tidak patuh kepada orang dewasa, hingga gemar melanggar aturan.

Hal itu dinilai sebagai contoh buruk bagi anak-anak. Perilaku Masha dianggap berbahaya bagi negara Iran yang dikenal menjunjung tinggi budaya kesopanan.

2. Amerika Serikat

Kritik serupa juga pernah diberikan sejumlah orang tua di Amerika Serikat. Para orang tua mengkritik bahwa karakter Masha jadi "mendorong ketidakpatuhan" bagi anak-anaknya.

Meskipun tidak ada larangan resmi terkait penayangan animasi populer tersebut, beberapa seruan muncul di media sosial untuk menghapus kartun tersebut dari saluran anak-anak.

Sementara itu, para psikolog di AS menilai bahwa sejatinya anak-anak dapat membedakan kartun dengan kenyataan. Mereka juga menilai humor adalah bagian dari pendidikan.

3. Kanada

Kecaman juga sempat diberikan penonton Kanada saat animasi Masha and the Bear menayangkan adegan dukun dalam episode Distant Relative (2015).

Episode itu menimbulkan banyak keberatan. Penonton menilai adanya stereotip tertentu tentang masyarakat setempat hingga berujung pada hilangnya episode tersebut dari katalog Netflix Kanada.

Menanggapi polemik tersebut, tim kreatif Masha and the Bear menjelaskan bahwa adegan yang dipersoalkan sebenarnya parodi yang terinspirasi dari cerita rakyat Rusia dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kelompok masyarakat tertentu.

Popularitas Masha Justru Makin Meningkat

badut masha

Menariknya, berbagai kontroversi dan upaya pembatasan tayangan justru membuat nama Masha and the Bear semakin dikenal di tingkat global.

Sebagai contoh di Iran. Setelah larangan di Iran mencuat, jumlah pengikut media sosial serial tersebut dilaporkan meningkat sekitar 30%.

Fenomena serupa juga pernah terjadi pada beberapa serial animasi lain seperti dan yang sempat dibatasi atau dilarang di sejumlah wilayah.

Pada 2018 Guinness World Records menobatkan episode ke-17, Recipe for Disaster (Masha + Kasha) sebagai video kartun/animasi yang paling banyak ditonton di YouTube.

Video yang diunggah Get Movies tersebut kini menembus 4,6 miliar penonton dan masuk dalam daftar video nonmusik paling banyak ditonton di dunia.

Seiring berjalannya waktu, serial ini berkembang menjadi enam musim dengan total 117 episode. Tayangan tersebut juga berhasil menembus pasar internasional dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Popularitas yang terus meningkat membuat karakter Masha semakin mudah dikenali sebagai sosok anak yang aktif, berani, dan penuh rasa ingin tahu. Karakter Masha yang aktif, berani, dan gemar melanggar aturan justru menjadi daya tarik utamanya.

Baca Juga: Doa Upin-Ipin dan Fenomena SEAblings dalam Solidaritas Demo Indonesia

Bagaimana dengan di Indonesia ?

Hingga saat ini, serial animasi tersebut masih dapat disaksikan melalui berbagai platform digital dan tetap menjadi salah satu tontonan anak yang cukup populer di Tanah Air.

Meski demikian, seperti tayangan anak lainnya, orang tua tetap disarankan mendampingi anak saat menonton agar dapat memberikan penjelasan mengenai perilaku yang baik dan yang tidak patut ditiru dalam kehidupan sehari-hari. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance