Challenge Baca Quran Berhadiah Miras (2): Setelah Mengecam Lalu Apa?
Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang. Orang yang hari ini melakukan kesalahan bisa saja suatu hari menjadi orang yang paling sungguh-sungguh bertaubat.
44 artikel ditemukan
Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang. Orang yang hari ini melakukan kesalahan bisa saja suatu hari menjadi orang yang paling sungguh-sungguh bertaubat.
Al-Qur'an memiliki kedudukan yang mulia dan sudah semestinya diperlakukan dengan penuh penghormatan. Namun, ketika melihat orang yang melantunkan Surah Ad-Dhuha dalam peristiwa tersebut, saya justru teringat kepada sebuah pelajaran dari Rasulullah.
Berdusta adalah menyangkal bukan berbohong (lying). Dusta adalah penyangkalan (denial).
Kini orang-orang menggunakan istilah sejarah jelek itu untuk menyebut orang yang tidak sejalan ideologi politik yang dibawa penguasa. Padahal, tidak semua penguasa memperjuangkan kerakyatan. Tetapi tidak semua pembawa ide luar juga baik.
Terdapat sebuah paradoks: untuk mengenal dirinya sendiri manusia perlu dikenali oleh orang lain lebih dahulu.
Saya jadi ingat Gunung Semeru. Walau tinggi, gunung itu dibentuk oleh pasir. Kenapa lumpur Lapindo tidak memunculkan gunung? Karena lemah, lunglai sehingga setiap kemunculan pemimpin selalu longsor ke bawah.
Selalu hidup sederhana, berikan lebih dari kecukupan untuk sesama, jangan mengagumi orang kaya yang layak dicurigai hasil kekayaannya dari mencuri, baik dengan cara legal maupun ilegal.
Dalam bahasa cinta, seniman sama halnya dengan pelaku spiritual karena ruang yang dia huni adalah ruang sunyi namun terang dan maha luas, namun terdapat sekat yang menjadi pembatas dengan takaran terang dan luas bagi kebanyakan orang.
Ketika seseorang kehilangan hatinya, tidak ada seorang pun bisa menunjukkan jalannya; Yang bisa dilakukan oleh orang lain adalah sekedar membantu orang itu menemukan kembali hatinya yang hilang itu.
Seiring berjalannya waktu, Setiawati menerima bahwa semua ini adalah takdir dan juga rezeki Tuhan yang dilimpahkan untuk dia dan keluarganya. Dia pun menjalaninya dengan ikhlas. Walaupun tidak mudah, dia menemukan sebuah pencerahan, yang bagi orang awam hampir musykil mendapatinya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga tentang cara kita memahami perasaan itu—dan bagaimana kita menyikapinya.Di sinilah banyak orang mulai tersesat. Sebagian orang terlalu cepat memberi. Sebagian lain terlalu takut untuk terbuka.
Sang Pemimpin berjabat tangan dengannya, berterima kasih atas kepeduliannya. Setelah Larijani pergi, beliau mengumpulkan keluarganya dan menceritakan tentang tawaran itu—sebuah tempat aman di mana mereka bisa pergi hingga perang berakhir.