Oleh Bayu Bintoro, aktivis dakwah, mantan Ketua Himpunan Mahasiswa islam (HMI) Cabang Malang Bidang Penelitian dan Pengembangan. Kini aktif sebagai Direktur PT Book Mart Indonesia yang menggeluti dunia kripto dan blockchain.

Setelah kecaman itu, apa yang kita lakukan untuk umat?

Pertanyaan ini menurut saya justru lebih penting. Mungkin peristiwa ini dapat menjadi momentum bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan para ulama untuk semakin memperkuat dakwah di tengah umat Islam sendiri.

Bukan hanya hadir ketika sebuah persoalan sudah viral, tetapi hadir sebelum persoalan itu terjadi.

Mengajarkan kembali kepada generasi muda apa itu khamar, mengapa Islam mengharamkannya, bagaimana bahayanya bagi akal dan kehidupan, serta bagaimana seorang Muslim seharusnya menjaga dirinya dari lingkungan yang mendorong kepada kemaksiatan.

Demikian pula dengan Al-Qur'an. Jangan sampai perhatian kita terhadap Al-Qur'an hanya muncul ketika ada orang yang dianggap tidak menghormatinya. Mari membuat umat semakin dekat dengan Al-Qur'an.

Anak-anak tidak hanya diajarkan menghafal Surah Ad-Dhuha, tetapi juga diajak memahami pesan di dalamnya.

Mereka tidak hanya diajarkan membaca Al-Qur'an dengan baik, tetapi juga mengenal bagaimana Al-Qur'an seharusnya membentuk akhlak dan kehidupan mereka.

Sebab mungkin salah satu cara terbaik untuk menjaga kehormatan Al-Qur'an adalah membuat semakin banyak umat Islam mencintai, memahami, dan mengamalkannya.

Harapan kepada MUI

MUI

Di sinilah saya berharap MUI dan para ulama dapat mengambil pelajaran lebih luas. MUI tentu perlu bersuara ketika terjadi sesuatu yang dianggap merendahkan nilai agama. Itu bagian dari tanggung jawab moral.

Namun dakwah tidak seharusnya hanya bersifat reaktif. Dakwah juga perlu hadir di saat keadaan tenang.

Di sekolah, kampus, masjid, pesantren, komunitas anak muda, media sosial, YouTube, TikTok, dan ruang-ruang digital tempat generasi muda hari ini membentuk cara pandang mereka terhadap kehidupan.

Sebab jika kita hanya datang setelah sebuah video menjadi viral, mungkin kita hanya berhasil merespons satu peristiwa.

Tetapi jika dakwah hadir jauh sebelumnya, membangun pemahaman dan akhlak generasi muda, mungkin kita dapat mencegah jauh lebih banyak persoalan. Dan di sinilah saya melihat relevansi teladan Rasulullah SAW.

Beliau tidak membiarkan kemungkaran menjadi benar. Tetapi beliau juga tidak membiarkan seorang pelaku kemungkaran kehilangan identitasnya sebagai saudara sesama Muslim.

Ketegasan terhadap dosa dan kasih sayang kepada manusia berjalan bersama. Kita dapat berkata, "Perbuatan itu salah," sekaligus tetap menyimpan harapan, "Semoga orang itu suatu hari kembali kepada Allah."

Baca Juga: Challenge Baca Quran Berhadiah Miras (1): Bagaimana Nabi Menghadapi Pemabuk?

Kita dapat mengatakan bahwa khamar itu haram, tanpa merasa berhak menentukan akhir perjalanan hidup seseorang. Kita dapat menjaga kehormatan Al-Qur'an, sekaligus mengajak mereka yang masih jauh darinya untuk kembali mendekat.

Dan kita dapat meminta proses hukum berjalan, tanpa melakukan tindakan main hakim sendiri.

Mungkin inilah salah satu sikap yang perlu kita pelajari dari Rasulullah SAW: jangan sampai kebencian kita terhadap kemaksiatan berubah menjadi kebencian yang membuat seseorang semakin jauh dari Allah.

Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang. Orang yang hari ini melakukan kesalahan bisa saja suatu hari menjadi orang yang paling sungguh-sungguh bertaubat.

Nasib Seseorang Hanya Allah yang Tahu

Kakbah

Orang yang hari ini jauh dari masjid bisa saja suatu hari menjadi orang yang menghidupkan masjid. Orang yang hari ini masih bergulat dengan kemaksiatan bisa saja suatu hari justru menjadi orang yang mengingatkan orang lain untuk meninggalkannya.

Hidayah adalah urusan Allah. Tugas kita adalah menyampaikan, mengingatkan, dan berusaha membantu sesama agar menemukan jalan kembali.

Karena itu, daripada hanya bertanya, "Mengapa dia bisa melakukan hal seperti itu?", mungkin kita juga bisa bertanya kepada diri sendiri: "Apa yang sudah kita lakukan agar saudara kita semakin dekat dengan Allah sebelum ia jatuh lebih jauh?"

Dan kepada para ulama serta lembaga dakwah, mungkin pertanyaan yang lebih luas adalah: "Sudahkah dakwah kita cukup dekat dengan umat sebelum mereka membutuhkan teguran?"

Sebab menjaga kemuliaan Al-Qur'an bukan hanya dengan marah ketika Al-Qur'an diperlakukan tidak semestinya. Menjaga Al-Qur'an juga berarti menghadirkannya dalam kehidupan umat: dibaca, dipahami, dicintai, diamalkan, dan dijadikan petunjuk.

Mungkin peristiwa ini tidak perlu hanya berakhir sebagai sebuah kontroversi. Semoga ia menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemungkaran memang perlu diingkari, tetapi manusia tetap perlu dirangkul untuk kembali.

Itulah dakwah yang tegas terhadap dosa, tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada manusia. Dan mungkin, dengan sikap seperti itu, kita semakin mendekati cara Rasulullah SAW memperlakukan umatnya.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.