
Oleh Taufiq Fredrik Pasiak, ilmuwan Otak, yang merupakan penyuka Kopi dan travelling. Kini mengabdi sebagai Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta.
Pagi ini seharusnya saya sudah di ruang rapat FK UPN Veteran Jakarta, mengikuti kegiatan Audit Mutu Internal (AMI) Program Studi (Prodi) Biomedis, memeriksa sejumlah surat yang harus didisposisi dan menghadiri pelantikan pegawai negeri sipil (PNS) baru di UPNVJ.
Nyatanya, kami masih di Penang, usai tugas negara mengunjungi Universiti Teknologi MARA (UITM), Universiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Geomatika Malaysia (UGM) Malaysia, dan Abdi Masyarakat di shelter penampungan anak anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kuala Lumpur.
Pesawat Batik Air semalam tidak bisa berangkat karena kemungkinan tidak bisa mendarat di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Koper sudah siap, tiket pulang sudah ada, dan secara sederhana pikiran saya sudah berada di Jakarta.
Namun, alam rupanya mempunyai agendanya sendiri. Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia dan terutama abu vulkanik Anak Krakatau sedang mengganggu penerbangan.
Hingga pagi ini 8 bandara dilaporkan masih terdampak penutupan, termasuk bandara yang melayani Jakarta. Mungkin ratusan bahkan ribuan jadwal penerbangan terganggu.
Pesawat kami dari Penang pun masuk ke dalam wilayah yang paling tidak disukai manusia: ketidakpastian.
Bias Ancaman di Otak Manusia

Kejadian ini membawa ingatan saya pada salah satu hukum (aturan) yang saya tulis dalam buku saya The 7 Laws of the Brain: The Threat-Biased Brain (2026).
Otak manusia mempunyai kecenderungan memberikan perhatian lebih besar kepada sesuatu yang berpotensi mengancam keselamatan.
Dalam keadaan seperti ini, kita mulai lebih sering membuka telepon, memeriksa status penerbangan, membaca berita cuaca, melihat perkembangan abu vulkanik.
Bahkan, sebuah notifikasi kecil dari maskapai terasa lebih penting daripada puluhan pesan lain. Otak sedang melakukan pekerjaan purbanya: Apakah saya aman? Apa yang akan terjadi? Apa yang harus saya lakukan?
Yang menarik, ancaman tidak selalu harus benar-benar terjadi untuk membuat otak bereaksi. Ketidakpastian (uncertainty) itu sendiri sudah cukup mengganggu.
Memang, Penerbangan belum tentu dibatalkan, tetapi kemungkinan pembatalan sudah membuat pikiran membuat berbagai skenario. Bagaimana kalau bandara ditutup? Kapan bisa pulang? Apakah harus mengubah rute?
Saat-saat begini saya kembali menyadari bahwa manusia sangat menyukai kendali. Kita membuat jadwal, membeli tiket, menentukan jam keberangkatan, menyusun agenda setelah tiba. Seakan semuanya dapat kita kendalikan.
Ada kesombongan terselubung di sini. Sangat khas manusia. Semua itu seakan memberi perasaan bahwa hari esok berada dalam genggaman kita.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Berakhir, Berikut Lima Hal Penting yang Perlu Dicatat
Lalu, sebuah gunung meletus. Abu bergerak mengikuti angin. Pesawat tidak bisa terbang seperti yang direncanakan. Mendadak kita berhadapan dengan kenyataan sederhana: ada begitu banyak hal dalam hidup yang tidak tunduk kepada rencana kita.
Menariknya, pihak berwenang bahkan menjelaskan bahwa erupsi beberapa gunung yang terjadi hampir bersamaan beberapa waktu lalu merupakan dinamika vulkanik masing-masing, bukan satu gunung memicu gunung lainnya.
Alam bekerja menurut mekanismenya sendiri, sering kali jauh di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya. Dengan kejadian ini, ilmu otak (Neurosains) membantu saya memahami mengapa saya cemas.
Namun, iman membantu saya menentukan apa yang harus saya lakukan dengan kecemasan itu. Sebagai muslim, saya sadar bahwa ujian tidak selalu datang dalam bentuk kehilangan besar.
Adakalanya, ia datang melalui rencana yang berubah, perjalanan yang tertunda, sesuatu yang tidak berjalan seperti keinginan kita.
Kita tetap harus mencari informasi, menghitung risiko, mengikuti keputusan keselamatan penerbangan, dan mencari alternatif bila diperlukan.
Tawakal bukan berhenti berpikir. Justru setelah ikhtiar dilakukan, ada satu batas ketika manusia harus mengakui: saya sudah mengerjakan bagian saya; selebihnya bukan wilayah kekuasaan saya. Allahu Akbar.
Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh (Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah) (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Iman Membantu Otak Menerima Ketakpastian

Saya pikir, di situlah letak ujian kecil seperti perjalanan hari ini memperoleh maknanya. Threat brain ingin memperoleh kepastian secepat mungkin. Ia ingin tahu kapan berangkat, lewat mana, dan pukul berapa sampai.
Iman mengajarkan kemampuan yang berbeda: tetap tenang manakala jawaban belum tersedia. Bukan karena kita tahu semuanya akan berlangsung sesuai keinginan, tetapi karena kita belajar bahwa ketidakpastian tidak identik dengan keburukan.
Sesuatu yang kita sebut “gangguan” hari ini boleh jadi justru sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui. Saya masih menunggu kepastian penerbangan dari Penang.
Sesekali tangan tetap ingin memeriksa telepon—rupanya threat brain saya tetap bekerja dengan baik. Hehehe..
Tetapi pagi ini saya memperoleh pelajaran lain. Kita memang perlu merencanakan kehidupan dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai rencana membuat kita merasa memiliki hari esok.
"We make our plans, but God determines the outcome.” Kata teman saya bule yang juga batal berangkat. Al-Quran menulis dgn anggun: "Kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki.” (QS. Al-Insan [76]: 30)
Ikhtiar membuat manusia bergerak; tawakal mengajarkan kapan kita harus menyerahkan hasilnya.
Barangkali sebagian ujian Allah bukan untuk melihat seberapa kuat kita mengendalikan keadaan, tetapi untuk mengajari kita tetap percaya ketika keadaan tidak lagi dapat kita kendalikan.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.