Jakarta, The Stance – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak Jumat pekan lalu dan dinyatakan berakhir pada Minggu dini hari.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan "gempa erupsi menerus" telah berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

"Berdasarkan rekaman instrumental kami, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB," ujar Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, dalam konferensi pers, Minggu (6/9).

Setelah erupsi menerus tersebut berhenti, PVMBG mencatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.

"Erupsi tersebut untuk sementara diinterpretasikan sebagai penanda akhir dari episode erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung," ujar Siti.

Sebagai salah satu gunung api teraktif di Indonesia, Krakatau selalu menarik perhatian masyarakat luas, tak cuma di Indonesia melainkan juga di mancanegara. Berikut lima catatan penting yang perlu diperhatikan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau.

Terkait dengan Letusan Purba 1883

krakatau

Pertama, untuk memahami karakteristik Gunung Anak Krakatau, kita harus menengok sejarah kelahirannya dari peristiwa geologi masa lalu. Gunung Anak Krakatau lahir setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau purba pada 26–27 Agustus 1883.

Tercatat sejarah sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia, letusan pada tahun 1883 itu menghasilkan gelombang tsunami setinggi 30 meter lebih di sepanjang Selat Sunda, membunuh 36.000 jiwa lebih.

Dampak letusan 1883 bahkan mempengaruhi iklim dunia. Debu dan gas sulfur dioksida yang terlempar hingga ke lapisan stratosfer menutupi sinar matahari, menyebabkan penurunan suhu rata-rata global selama beberapa tahun.

Akibat letusan dahsyat itu pula, tubuh Gunung Krakatau purba hancur dan runtuh ke dalam laut, menyisakan sebuah kaldera bawah laut yang sangat luas.

Sekitar 44 tahun setelah kehancuran tersebut, tepatnya pada Desember 1927, para nelayan dan peneliti mulai melihat adanya hembusan asap dan kemunculan daratan baru dari dasar kaldera laut tersebut.

Daratan baru inilah yang kemudian tumbuh menjadi Gunung Anak Krakatau. Secara geologis, Anak Krakatau adalah manifestasi dari saluran magma aktif yang terus berupaya membangun kembali kerucut gunung api.

Karena usianya yang masih sangat muda, gunung ini memiliki karakter pertambahan tinggi yang cepat—berkisar 3 hingga 5 meter per tahun—akibat akumulasi endapan material vulkanik dari letusan-letusan kecil yang terjadi secara berkala.

Karakteristik Erupsi & Peningkatan Aktivitas

erupsi

Kedua, soal karakter letusan. Karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau cenderung bertipe strombolian dan vulkanian.

Erupsi strombolian ditandai dengan letusan-letusan kecil namun sering, memuntahkan lava pijar, bom vulkanik, dan lapili ke udara yang menciptakan pemandangan layaknya kembang api raksasa di tengah malam.

Sementara itu, tipe vulkanian ditandai dengan letusan yang memuntahkan kolom abu pekat berwarna abu-abu hingga hitam berskala sedang hingga tinggi, disertai lontaran material padat yang terhempas jauh dari kawah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) membagi tingkat aktivitas gunung api di Indonesia ke dalam empat tingkatan: Normal (Level I), Waspada (Level II), Siaga (Level III), dan Awas (Level IV).

Ketika Anak Krakatau memasuki fase erupsi yang intens, PVMBG menetapkan status aktivitasnya pada Level III (Siaga). Peningkatan status ini didasarkan pada instrumen pemantauan seismik dan pemantauan visual.

Karakteristik gelombang seismik seperti gempa hembusan, gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal, dan tremor menerus menjadi petunjuk utama bahwa magma dari kedalaman sedang bergerak naik menuju permukaan.

Pemantauan deformasi menggunakan global positioning system (GPS) dan tiltmeter juga dilakukan untuk mengukur inflasi (pembengkakan) atau deflasi pada tubuh gunung yang mengindikasikan tekanan tekanan magma di dalam saluran utama.

Analisis Bahaya: Erupsi Langsung vs Potensi Tsunami

Citra satelit

Ketiga, jenis bahaya. Secara teknis, bahaya dari erupsi Gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu bahaya primer (akibat langsung erupsi) dan bahaya sekunder (dampak turunan terhadap lingkungan sekitar).

Bahaya primer meliputi lontaran material pijar (bom vulkanik dan lapili), aliran lava, awan panas (pyroclastic flow), serta guguran puing-puing batu panas.

Luapan material ini memiliki suhu yang sangat tinggi dan kecepatan luncur yang luar biasa, sehingga kawasan di dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif dinyatakan sebagai zona bahaya mutlak yang tidak boleh dimasuki oleh manusia.

Berbeda dari gunung api daratan, gunung api kepulauan seperti Anak Krakatau memiliki risiko khusus terkait potensi tsunami.

Salah satu pemicu tsunami vulkanik adalah longsoran lereng tubuh gunung (flank collapse) ke dalam laut atau runtuhnya sebagian kaldera secara tiba-tiba.

Ini pernah terjadi pada Desember 2018, di mana runtuhnya lereng anak gunung api ini ke dalam Selat Sunda memicu gelombang tsunami tanpa didahului oleh gempa bumi tektonik.

Oleh karena itu, selain memantau letusan di udara, lembaga terkait seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan PVMBG kini mengoperasikan sistem peringatan dini tsunami.

Mereka memantau potensi tsunami di Selat Sunda dengan berbasis sensor muka air laut (water level sensor) dan radar pantai untuk memantau perubahan bentuk fisik pulau secara seketika.

Dampak Lingkungan, Penerbangan, dan Kesehatan Masyarakat

Gunung Anak Krakatau

Keempat, dampak yang ditimbulkan. Ketika Gunung Anak Krakatau meletus dengan kolom abu yang membumbung tinggi, dampaknya dapat dirasakan hingga ke wilayah yang jauh dari titik kawah.

Sebaran abu vulkanik (volcanic ash plume) sangat berbahaya bagi mesin pesawat terbang.

Butiran abu yang mengandung silika murni dapat meleleh di dalam ruang pembakaran mesin jet dan menyumbat aliran udara, yang berpotensi mematikan mesin saat penerbangan berlangsung.

Ketika sebaran abu meluas, pihak otoritas penerbangan (AirNav) akan mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) untuk mengalihkan rute penerbangan atau bahkan menutup sementara operasional bandara terdekat demi keselamatan penerbangan.

Partikel abu vulkanik berukuran sangat halus (kurang dari 10 mikron) dan sangat tajam. Jika terhirup manusia, partikel ini dapat memicu infeksi saluran pernafasan, bronkitis, serta memperburuk asma. Abu vulkanik juga menyebabkan iritasi mata dan kulit.

Meskipun dalam jangka panjang endapan abu vulkanik akan menyuburkan tanah karena kaya akan mineral (seperti kalium, fosfor, dan kalsium), dalam jangka pendek hujan abu lebat dapat merusak tanaman warga.

Abu vulkanik dapat mencemari sumber air bersih dan mengganggu aktivitas perikanan di perairan Selat Sunda.

Baca Juga: Enam Bandara Ditutup Akibat Erupsi Anak Krakatau, Berikut Ini Rute Alternatif Penerbangan

Kelima, mitigasi yang bisa dilakukan masyarakat. Menghadapi potensi ancaman dari Gunung Anak Krakatau, pemerintah telah menyusun serangkaian protokol keselamatan yang wajib dipatuhi oleh seluruh masyarakat.

Jangan pernah mencoba mendekati Pulau Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius bahaya yang telah ditetapkan PVMBG (biasanya 5 kilometer dari kawah). Nelayan, nakhoda kapal, dan wisatawan wajib mematuhi zona larangan melintas ini.

Jika daerah pemukiman kita terpapar hujan abu vulkanik, selalu gunakan masker (seperti N95 atau masker medis rapat) saat di luar rumah. Pakailah kacamata pelindung dan pakaian berlengan panjang untuk menghindari iritasi pada kulit dan mata.

Tutup rapat tempat penampungan air bersih, sumur, dan bahan makanan agar tidak terkontaminasi oleh debu asam vulkanik.

Di saat kondisi darurat, sering kali beredar informasi bohong atau prediksi yang menakutkan mengenai tsunami besar atau letusan susulan.

Selalu verifikasi informasi yang Anda terima melalui kanal-kanal resmi seperti akun media sosial atau situs web resmi BMKG, PVMBG, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Bagi warga di pesisir Selat Sunda, penting untuk selalu menyiapkan Tas Siaga Bencana berisi dokumen penting, pakaian ganti, obat-obatan pribadi, lampu senter, dan makanan siap saji yang dapat dibawa sewaktu-waktu jika ada perintah evakuasi. (ipn/ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance