Oleh Suroto, praktisi dan pengamat perkoperasian yang kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES).

Rezim fasis Mussolini di Italia menurut hasil penelitian serius kolega scholar saya Tito Menzani dari Bologna University melakukan tekanan serius terhadap koperasi karena alasan ideologis dan pragmatis.

Pertama, koperasi dianggap sebagai model lembaga perlawanan terhadap otoritarianisme. Kedua, koperasi dianggap memiliki hubungan dengan budaya ideologi-ideologi yang antifasis.

Ketiga, salah satu kelompok pendukung fasisme adalah para pemilik usaha kapitalis yang dianggap bertentangan dengan koperasi.

Perlawanan terhadap koperasi dilakukan melalui empat strategi penting: Pertama adalah kampanye pers yang mencemarkan dan merendahkan koperasi.

Kedua, melakukan fitnah dengan hancurkan nama baik aktifis koperasi; Ketiga adalah mengesahkan serangkaian undang-undang yang merugikan koperasi.

Baca Juga: Benefit Oriented versus Profit Oriented

Propaganda anti-koperasi juga dilakukan oleh kelompok liberal dan konservatif karena keberhasilan ekonomi koperasi menimbulkan ketakutan dan kebencian di kalangan sejumlah kelompok kelas menengah kelas.

Mereka berupaya menyudutkan bahwa koperasi merupakan model ekonomi yang anti pasar. Mereka menyebarkan pandangan tentang isu “gurita koperativisme milik negara”.

Salah satu tokoh yang terlibat dalam kontroversi tersebut adalah intelektual terkenal Maffeo Pantaleoni.

Dalam korespondensinya dengan Charles Gide, ia menulis bahwa para ekonom tidak menyukai koperasi karena menurutnya koperasi telah mengambil uang negara yang sangat besar dari negara dan melakukan praktik yang sangat buruk di dunia bisnis.

Modus operandi perlawanan terhadap koperasi di Indonesia saat ini sepertinya tidak jauh berbeda.

Ada jalin kelindan kepentingan antara kapitalis global yang tidak ingin negara kita maju dan terus mereka kangkangi, dan kepentingan kapitalis konglomerat nasional yang anti demokrasi ekonomi, kapitalis birokrat yang terganggu permainan mereka, serta skolar kelas liberal yang kerjanya memperluas pengaruh dan legitimasi panggung.***

Untuk menikmati berita di berbagai dunia, ikuti kanal The Stance di Whatsapp dan Telegram.