
Oleh Muhammad Fawaid, seorang akademisi pemerhati sosial dan ekonomi, dosen di Institut Sains dan Teknologi NU (STINUBA) Denpasar, yang juga Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. Kini aktif menciptakan konten melalui akun Tiktok @m..fawaid.al.
Seruput dulu kopi pahitnya, Bli…
Ada kalimat yang seharusnya paling indah didengar seorang ayah dari anaknya: “I love you, Daddy.”
Kalimat sederhana. Kalimat penuh cinta. Namun di sebuah bungalow di kawasan Legian, Bali, pada September 2026, kalimat itu justru menjadi salah satu bagian paling memilukan dari sebuah tragedi keluarga.
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun berlari ketakutan. Di belakangnya, ayahnya mengejar. Anak kecil itu mungkin belum memahami apa yang sedang terjadi.
Ia hanya tahu bahwa suasana di tempat yang seharusnya menjadi rumah itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Dan di tengah kepanikan itu, ia berteriak: “I love you, Daddy. I love you, Daddy.”
Seolah-olah ia sedang mengingatkan ayahnya: “Aku sayang Daddy. Jangan sakiti aku.”
Tetapi anak kecil itu akhirnya kembali dibawa ke dalam kamar. Beberapa saat sebelumnya, menurut rekaman CCTV yang dianalisis polisi, terdengar suara keributan dan jeritan seorang anak laki-laki.
Anak itu adalah ADS, berusia 7 tahun. Adiknya kemudian ditemukan dalam kondisi yang sama-sama mengenaskan. Ayah mereka, SDJ (57), warga negara Australia, juga ditemukan telah meninggal dunia dalam kondisi tergantung.
Baca Juga: Aditya, Mahasiswa Indonesia yang Ditahan Akibat Kebijakan Imigrasi Trump
Tragedi itu terjadi di bungalow di Jalan Three Brothers, Legian Tengah, Kecamatan Kuta, Badung, Bali. Minggu pagi, 13 September 2026, sekitar pukul 10.14 Wita, semuanya terbongkar.
Tiga nyawa telah pergi. Dua di antaranya adalah anak-anak yang masih begitu kecil.
Anak yang mungkin masih membutuhkan tangan ayah untuk menyeberang jalan, masih ingin dibacakan cerita sebelum tidur, masih percaya bahwa ayah adalah tempat paling aman di dunia.
Tetapi hari itu, dunia mereka berakhir di tempat yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Yang membuat tragedi ini semakin menyayat hati adalah keberadaan sang ibu, TY (32). Ia sedang berada di Jakarta.
Pada 10 September, sekitar pukul 09.00 Wita, ia meninggalkan Bali untuk menemui orang tuanya. Dari kejauhan, ia masih dapat memantau bungalow melalui CCTV yang terhubung ke ponselnya.
Ia kemudian menghubungi kepala lingkungan dan pemilik bungalow. Namun ketika semuanya diperiksa, kenyataan yang ditemukan jauh lebih mengerikan daripada yang mungkin pernah dibayangkan seorang ibu.
Polisi menyebut dari analisis CCTV, keterangan saksi, serta pemeriksaan luar jenazah, terdapat dugaan bahwa SDJ melakukan kekerasan terhadap kedua anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri.
Polisi juga mengungkap bahwa sekitar sebulan sebelumnya, SDJ pernah mencoba bunuh diri, tetapi gagal.
Polisi Hentikan Penyidikan

Kini penyidikan terhadap dugaan pembunuhan tersebut akan dihentikan melalui mekanisme hukum karena orang yang diduga sebagai pelaku juga telah meninggal dunia.
Namun bagi seorang ibu, tidak ada istilah Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuk rasa kehilangan. Tidak ada surat yang mampu menghentikan kesedihan. Tidak ada gelar perkara yang bisa mengembalikan dua anak ke pelukannya.
Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, satu kalimat akan tetap tinggal di dalam ingatannya: “I love you, Daddy.”
Kalimat terakhir seorang anak yang mungkin hanya ingin mengatakan kepada ayahnya bahwa ia mencintainya.
Anak itu tidak tahu tentang masalah orang dewasa, tentang kecemasan, tentang kemarahan, tentang keputusan-keputusan gelap yang mungkin sedang terjadi di kepala orang dewasa.
Kadang tragedi terbesar bukanlah ketika seseorang pergi. Tetapi ketika seorang anak pergi sebelum sempat tumbuh dewasa, sebelum mengenal luasnya dunia, dan sebelum sempat mengatakan kepada ibunya: “Mama, aku sudah besar.”
Hari itu, dua anak kecil meninggalkan dunia. Dan sebuah keluarga kehilangan masa depannya. Semoga tragedi ini menjadi pengingat bahwa ketika seseorang sedang berada dalam tekanan berat, jangan biarkan ia menghadapi semuanya sendirian.
Sebab satu pertolongan yang datang tepat waktu, kadang bukan hanya menyelamatkan satu kehidupan. Tetapi bisa menyelamatkan seluruh keluarga.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.