Jakarta, The Stance – Perempuan cenderung memikul beban kerja lebih banyak ketimbang laki-laki setiap harinya, khususnya terkait beban domestik rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, alokasi budget, dan pengasuhan anak.

Hal itu menjadi temuan dalam kajian Populix berjudul “Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi” memperingati Hari Kesetaraan Upah Internasional.

Peneliti Sosial Kebijakan Populix Anisa Dwi Ariyani menyebut tanggung jawab yang berat tersebut salah satunya dibuktikan dengan kenyataan bahwa perempuan urban mengalokasikan 252 jam lebih banyak untuk pekerjaan domestik dalam setahun.

“Perempuan pencari nafkah utama menghadapi beban tertinggi, sementara biaya dan kualitas layanan penitipan anak masih membatasi pilihan keluarga,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima The Stance, pada Senin (21/9/2026).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026, rata-rata upah buruh laki-laki mencapai Rp3,69 juta per bulan, sementara itu perempuan memeroleh rata-rata Rp2,86 juta.

Ada selisih sekitar Rp830 ribu atau 22% secara agregat. Angka tersebut menunjukkan bahwa hasil ekonomi pekerja perempuan dan laki-laki masih berbeda.

Perempuan Bekerja Lebih Lama dari Laki-Laki

Anisa Dwi Ariyani

Anisa menuturkan, bahwa meskipun rerata perempuan menghabiskan 22 menit lebih sedikit waktu pada pekerjaan berbayar, bila diakumulasi dengan tanggung jawab domestik, setiap harinya mereka bekerja 19 menit lebih lama dibanding laki-laki.

Populix juga menyebut bahwa porsi pekerjaan domestik perempuan mencapai 3 jam 14 menit per hari, 41 menit atau 27% lebih panjang dari laki-laki yang hanya berkontribusi sekitar 2 jam 33 menit.

Sayangnya, pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan masih dianggap sebagai unpaid labor, yang luput dari hitungan ekonomi.

“Padahal bila dihitung nilai ekonomisnya, selisih waktu pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang dibebankan kepada perempuan setara 31 hari kerja dengan hitungan 8 jam kerja sehari,” ujar Anisa.

Populix mengukur beban pengasuhan melalui Gendered Care Burden Index atau Indeks Beban Pengasuhan Berbasis Gender. Indeks tersebut mencakup beban waktu, beban keputusan dan mental, serta kekurangan dukungan pengasuhan.

Secara keseluruhan, rumah tangga urban mencatat skor beban pengasuhan sebesar 45,7 dari 100 dan termasuk kategori Menengah. Sebanyak 65,1% responden berada pada kategori beban Menengah, sementara 3,4% masuk kategori Tinggi.

Studi menunjukkan bahwa sumber beban terbesar tak terletak pada durasi. Alasan kekurangan dukungan pengasuhan mencatat skor tertinggi sebesar 57,5, disusul beban keputusan dan mental sebesar 54,6. Beban waktu berada pada skor 24,9.

Temuan ini menggambarkan besarnya tantangan pengasuhan yang dihadapi keluarga urban, yang sayangnya belum bisa difasilitasi oleh layanan pengasuhan yang mumpuni.

Pengasuh Anak Mahal, Wanita Karir Jadi Korban

daycare

Biaya pengasuh anak berkualitas di Jakarta saat ini berkisar antara separuh hingga satu kali upah minimum provinsi. Dengan banyaknya kasus kekerasan pengasuh, orang tua pun mengkhawatirkan keamanan pengasuhan anak.

Kombinasi antara keterbatasan layanan, biaya yang tinggi, dan keraguan terhadap kualitas menempatkan banyak keluarga dalam pilihan yang sulit. Yang menjadi korban, pada akhirnya adalah sang ibu yang mengalah demi mengurusi rumah tangga.

“Akibatnya, sebagian perempuan harus mengurangi waktu kerja, menolak peluang karier, atau mempertimbangkan berhenti bekerja karena tidak menemukan dukungan pengasuhan yang sesuai,” jelas Anisa.

Faktor lain yang paling jelas terlihat adalah beban keputusan dan mental. Perbedaan perempuan dan laki-laki cukup signifikan. Skor perempuan mencapai 59,7 dari 100, sedangkan laki-laki 48,5. Selisihnya mencapai 11,2 poin, atau 23% lebih banyak.

Lebih rinci, 71,7% perempuan mengatur sedikitnya 60% keputusan harian rumah tangga, mencakup pekerjaan yang tak terlihat, seperti memikirkan kebutuhan keluarga, mengatur jadwal anak, merencanakan belanja, dan memastikan tagihan terpenuhi.

Beban tersebut juga tercermin dari tingkat kewalahan. Lebih dari sepertiga (34,9%) perempuan mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan karena tanggung jawab rumah tangga.

Jumlah ini hampir dua kali lipat laki-laki yang tercatat sebesar 18,4%. Hanya 3,6% perempuan menyatakan tidak pernah merasa kewalahan, dibandingkan 15,9% laki-laki yang menyatakan serupa.

Tanggung Jawab Berdasarkan Gender

transaksi

Menjadi tulang punggung keluarga tak serta merta mengurangi tanggung jawab domestik perempuan. Survei Populix menunjukkan bahwa perempuan, ketika jadi pencari nafkah utama, masih mencatat skor beban pengasuhan tertinggi yaitu 51,9.

Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan rerata keseluruhan responden sebesar 45,7. Skor beban keputusan dan mental kelompok ini bahkan mencapai 67.

Dibandingkan laki-laki yang juga menjadi pencari nafkah utama, perempuan mencatat skor beban keputusan 17,3 poin lebih tinggi dan beban waktu 9,9 poin lebih tinggi.

Bahkan sebanyak 8,2% perempuan pencari nafkah utama masuk dalam kategori beban tinggi, proporsi terbesar di antara kelompok lainnya. Beban pengasuhan juga dapat berjalan bersama tekanan ekonomi.

Sebanyak 35,2% responden masuk kelompok Double Burden, yaitu rumah tangga yang tertekan secara ekonomi sekaligus menanggung beban pengasuhan Menengah hingga Tinggi. Dari situ, 65,1% di antaranya adalah perempuan.

Data Populix juga menunjukkan bahwa perempuan sekitar 1,5 kali lebih mungkin berada dalam kelompok Double Burden dibandingkan laki-laki, yaitu 41,8% berbanding 27,2%.

Di antara rumah tangga dalam kelompok ini, 46,6% sering atau sangat sering merasa kewalahan, dan 54,3% tidak menggunakan layanan pengasuhan apa pun.

Meski tidak mengukur penyebab kesenjangan upah secara langsung, studi Populix mengungkap bagaimana perempuan masih mencurahkan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengelolaan rumah tangga yang lebih besar dari laki-laki.

“Temuan ini semakin menafikan nilai ekonomi hasil kerja perempuan, yang masih dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki,” pungkas Anisa. (par)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance