Jakarta, The Stance – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 20,17 poin atau 0,4% ke 5.050,43 pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026), setelah pada Selasa sempat menyentuh titik terendah sejak era Pandemi.

Pada Selasa, IHSG berakhir ke level 4.904,29 atau kembali ke level di era Pandemi, yakni pada Maret 2020 ketika awal virus Covid-19 merebak dan memicu kepanikan luas.

Indeks acuan bursa tersebut kembali menembus ke bawah ambang psikologis 5.000, yang ironisnya justru menjadi kesempatan bagi investor asing untuk memborong saham-saham yang sebelumnya mereka jual secara brutal.

Pada Selasa, investor asing mencetak beli jual bersih (net sell) sebesar Rp575 miliar. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menjadi sasaran utama.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell terbesar, diikuti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Namun semua berbalik pada Jumat. Meski investor asing masih mencetak net sell, sebesar Rp65,53 miliar, secara umum pelaku pasar domestik mencetak aksi beli yang begitu besar hingga cukup untuk menetralisir dampak aksi jual asing.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling aktif diperdagangkan, di mana asing mencetak net buy senilai Rp303,9 miliar.

Pemicu Rebound Netralkan Sentimen Negatif

Pelemahan IHSG sepanjang pekan dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Di pasar global, ketakpastian geopolitik khususnya di Timur Tengah dan spekulasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) menciptakan sentimen risk-off.

Artinya, investor global cenderung menarik dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia, untuk menghindari dampak pemburukan risiko global terhadap negara emerging market tersebut.

Di dalam negeri, perhatian tertuju pada MSCI Index Review yang akan diumumkan 11 November 2026 dan berlaku 1 Desember 2026. Review ini merupakan peninjauan rutin konstituen dan bobot saham, bukan keputusan final status pasar Indonesia.

Namun, ketidakpastian terkait freeze saham Indonesia dan proses konsultasi status Emerging Market versus Standalone Market yang masih berlangsung hingga 2027 tetap membebani sentimen.

Hanya saja, sentimen buruk tersebut kalis dalam dua hari terakhir perdagangan sepekan ini menyusul rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia per kuartal III/2026 yang tercatat sebesar 5.47% secara tahunan (year on year/YoY).

Pertumbuhan ekonomi nasional, yang tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB), tercatat sebesar 5.29% pada periode sama tahun lalu, sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/11/2026) pukul 11.00 WIB.

Konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi, dengan total kontribusi keduanya mencapai 82,78%, yang diikuti pertumbuhan positif pada industri pengolahan dan ekspor.

Rupiah Pun Turut Menguat

Nilai tukar Rupiah

Pembalikan IHSG beriringan dengan penguatan rupiah. Nilai tukar rupiah pada Selasa lalu bergerak di level Rp18.145–18.160 per dolar AS. Volatilitas di pasar keuangan memicu kehati-hatian di kalangan investor ritel maupun institusi domestik.

Pada Jumat, mengikuti rilis pertumbuhan ekonomi nasional yang melaju lebih kencang, rupiah menguat 0,47% dalam sehari ke level Rp18.082/dolar AS.

Penguatan itu terjadi di tengah upaya Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menstabilkan pasar.

Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Selasa, Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terutama dipicu faktor eksternal.

BI terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, insentif pengurangan premi instrumen lindung nilai (hedging) diperluas guna menarik aliran modal masuk, termasuk skema Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk menjaga volatilitas dan memperkuat kepercayaan pasar.

Di sisi lain, OJK fokus pada aspek pengawasan dan reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, serta free float saham. Koordinasi dalam KSSK menjadi wadah utama antar-otoritas dalam merespons gejolak pasar.

Baca Juga: Menyelamatkan Pasar Modal dari Ancaman Eksodus Modal Asing

Pelemahan rupiah dan IHSG akan segera teratasi jika otoritas berhasil menjaga stabilitas rupiah dan menyampaikan komunikasi yang konsisten terkait reformasi pasar modal.

Hasil MSCI Index Review pada 11 November akan menjadi salah satu katalis penting. Jika tidak terdapat kejutan negatif, tekanan jual berpotensi mereda. Sebaliknya, jika ada sinyal yang mengecewakan, volatilitas bisa berlanjut.

Bagi investor, kondisi saat ini menuntut kehati-hatian. Fokus pada emiten dengan fundamental kuat, likuiditas baik, dan prospek jangka panjang tetap disarankan.

Secara keseluruhan, anjloknya IHSG mencerminkan kerentanan pasar terhadap aliran modal asing dan sentimen global. Namun, langkah proaktif BI bersama otoritas terkait menunjukkan komitmen menjaga stabilitas.

Keberhasilan menstabilkan rupiah dan memulihkan kepercayaan investor akan menjadi penentu apakah pasar dapat segera pulih atau masih harus melalui periode volatilitas lebih lanjut di sisa tahun 2026. (ipn/ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance