Oleh Hasyim Arsal Alhabsi, lulusan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI). Pernah menjadi calon legislatif Partai Demokrat Daerah Pemilihan Kalimantan Selatan II, kini aktif di Dehills Institute sebagai Pendiri dan Direktur.

Melihat foto itu, saya mendadak teringat Elvis Presley dan lagunya, “(You’re the) Devil in Disguise”. Ada sesuatu tentang penampilan yang begitu meyakinkan sampai kita merasa sudah mengenal seluruh kenyataan di belakangnya.

Padahal baru melihat satu adegan: Jokowi membungkuk mengambil berkas di lantai ruang sidang. Batik, peci, tubuh yang merunduk, kursi yang tampak besar di sebelahnya. Sebuah komposisi yang mudah mengetuk perasaan.

Lalu terdengarlah kata yang paling cepat bekerja dalam politik kita: “Kasihan.”

Sebentar. Air matanya boleh disiapkan. Ingatannya jangan dilipat dulu.

Anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, adalah wakil presiden. Putra bungsunya, Kaesang Pangarep, memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Menantunya, Bobby Nasution, menjabat gubernur Sumatera Utara. Daftar jabatan itu cukup membuat acara kumpul keluarga terasa seperti rapat koordinasi.

Tentu orang dengan keluarga berkuasa tetap bisa sedih, lelah, atau merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi menyedihkan dalam sebuah foto dan tidak berdaya dalam peta politik adalah dua keadaan yang perlu dibaca sendiri-sendiri.

Berkasnya boleh berada di lantai. Pengaruh politik keluarganya tetap tinggi.

Di sinilah Jokowi selalu menarik untuk dipelajari. Sebagai komunikator politik, ia mempunyai kemampuan yang membuat banyak orang berkampanye dengan biaya besar tampak terlalu banyak berkeringat.

Kepiawaian Jokowi Mengolah Citra

esemka

Jokowi bisa menghadirkan kesan dekat, sederhana, bahkan ringkih, tanpa kehilangan tempat dalam percakapan nasional. Kalau pencitraan punya sabuk, orang ini sudah lama melewati hitam.

Tentu satu foto tidak memberi kita akses ke isi kepalanya. Kita tak bisa memastikan dari gambar itu apakah sebuah gerak spontan atau diperhitungkan. Yang layak diperiksa adalah bagaimana gambar tersebut bekerja pada kepala kita.

Apakah sesudah melihatnya kita masih mengingat seluruh konteks, atau perhatian kita sudah habis untuk mengasihani?

Dalam persidangan 5 November 2026 di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jokowi hadir sebagai saksi dalam perkara dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu.

Roy Suryo dan dokter Tifa berstatus terdakwa. Jokowi juga memperlihatkan dokumen ijazah dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sarjana strata 1 (S1) di persidangan.

Artinya, ketika sebagian penonton sibuk membicarakan betapa menyentuhnya sosok yang membungkuk itu, ada orang lain yang sedang menghadapi perkara pidana. Nasib Roy dan Tifa harus diputuskan melalui pembuktian serta putusan hakim.

Kita tak perlu mendahului pengadilan dengan memastikan siapa akan masuk penjara. Namun posisi masing-masing orang di ruang sidang jangan sampai ikut kabur oleh musik sedih yang dipasang di kepala penonton.

Baca Juga: Sidang "Pencemaran Nama Baik" Roy Suryo Jadi Pembuktian Implisit Keaslian Ijazah Jokowi

Seseorang bisa menjadi pusat rasa iba sekaligus tetap memiliki pengaruh politik besar. Dua hal itu dapat berlangsung dalam satu bingkai.

Coba tunjukkan foto yang sama kepada orang yang pernah mendekam di penjara pada masa pemerintahannya. Belum tentu musik latarnya sama. Pengalaman membuat orang membaca gambar dengan ingatan yang berbeda.

Ada yang melihat kesederhanaan. Ada yang teringat kekuasaan. Ada pula yang sedang bertanya mengapa ingatan publik begitu gampang kehilangan halaman setiap kali bertemu gambar yang mengharukan.

Saya sendiri bukan pembenci Jokowi, juga bukan pendukungnya. Justru karena itu saya merasa perlu menjaga jarak yang cukup agar bisa melihat.

Kekaguman berlebihan membuat kita lupa bertanya. Kebencian berlebihan membuat kita malas memeriksa. Keduanya menguntungkan orang yang sedang kita bicarakan: ia terus menjadi pusat perhatian.

Saya pernah menduga bahwa polemik ijazah ini, apa pun akhirnya, ikut memperpanjang umur kehadiran Jokowi dalam ingatan publik. Masa jabatan selesai, percakapan tentang dirinya terus mendapat episode baru.

Serupa dengan Pencitraan di Gorong-Gorong

Jokowi

Bagi seorang politikus, tetap dibicarakan adalah modal. Dalam perkara ini, bahkan perdebatan tentang ijazah dapat berkembang menjadi perdebatan tentang kesederhanaan, penghormatan kepada mantan presiden, dan siapa yang paling patut dikasihani.

Luas sekali kurikulumnya.

Lalu ingatan saya berjalan ke gorong-gorong. Pada 2012, ketika menjadi gubernur Jakarta, Jokowi masuk ke saluran air di kawasan Thamrin. Adegan itu menjadi salah satu gambar yang melekat dalam perjalanan citra politiknya.

Bertahun-tahun kemudian, melihat foto di ruang sidang ini, saya kembali memikirkan kekuatan gerak tubuh dalam politik. Merunduk, mendekat, turun ke bawah: semuanya mudah diterjemahkan sebagai kerendahan hati.

Sementara untuk mengukur pertanggungjawaban, kita harus bekerja lebih keras. Membaca keputusan. Mengingat kebijakan. Menelusuri akibatnya.

Itulah repotnya menjadi warga. Terharu cukup beberapa detik. Menilai pemimpin perlu ingatan panjang.

Saya pernah berkelakar: kalau bertemu Jokowi, hati-hati dengan ilmu sirepnya. Orang datang membawa pertanyaan tajam, bisa pulang sibuk menceritakan betapa ramah dan sederhananya beliau. Pertanyaannya tertinggal di kursi tamu.

Maka saya belajar dari foto ini: rasa iba perlu ditemani ingatan. Kesederhanaan perlu dibaca bersama kekuasaan. Keramahan perlu berjalan bersama pertanggungjawaban.

Elvis menyediakan lagunya. Politik kita menyediakan bahan renungan yang tampaknya tak pernah habis. Memang dahsyat tokoh ini. Ia membungkuk sebentar. Kita yang hampir lupa berdiri tegak.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.