Oleh Budi Laksono, dikenal sebagai “Dokter Jamban” setelah mencetak rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) atas dedikasinya membangun jamban berkelanjutan terbanyak di Indonesia, melalui yayasannya Wahana Bakti Sejahtera. Dosen Disaster Management Universitas Diponegoro (Undip) ini kerap jadi relawan di daerah bencana.

Ketika Belanda menjajah Indonesia, kita tahu, di sana penduduk tak banyak. Mereka membayar orang londo dari Luksemburg, Prancis, Jerman dll sehingga londo putih semua sempurna menguasai nusantara.

Itupun masih kurang, maka diangkat lah orang pribumi dan diangkat derajatnya seakan lebih baik dengan nama barat, atau pakaian atau gaya hidup yang kemudian disebut Ambtenar.

Orang Pribumi sebut LONDO IRENG karena kulit, mata, dan semua perasaan sama, tetapi jabatan membuat mereka antek penjajah londo.

Sebagian lagi orang kerajaan yang sama mendapat hak sekolah. Darinya lahir orang yang terpelajar dan tahu hak azasi manusia dan kemudian menginspirasikan kemerdekaan.

Ketika merdeka, pribumi perang melawan londo dan londo ireng juga. Ketika pribumi bersatu, maka pasukan londo dan londo ireng kalah. Merdeka lah kita.

Tetapi bangsa kita yang penuh maaf dan santun menerima londo ireng, bekas antek kolonial jadi bagian Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Tentara Nasional Indonesia (TNI) zaman dulu.

Praktis tak ada beda. Hanya saja, mereka tak dapat hak makam pahlawan jika meninggal.

Lupakan Pertikaian, Perjuangkan Rakyat

keragaman budaya

Sebaiknya kita cepat melupakan pertikaian dan bersama membangun Indonesia. LONDO IRENG SUDAH HABIS RIWAYAT.

Kini orang-orang menggunakan istilah sejarah jelek itu untuk menyebut orang yang tidak sejalan ideologi politik yang dibawa penguasa.

Padahal, tidak semua penguasa memperjuangkan kerakyatan. Tetapi tidak semua pembawa ide luar juga baik. Kadang mereka cuma cari makan. Persis saat londo ireng dahulu cari makan.

Kini dengan ilmu, kita tahu mana yang benar berjuang untuk rakyat. Seperti kata Deng Xiao Ping, tak penting kucing hitam atau coklat, yang penting perjuangkan rakyat.

Maka, isu londo ireng atau nasionalis bisa kita lihat dengan tahu seberapa yang dibuat untuk bangun bangsa ini:

Apakah seseorang termasuk bagian penjahat koruptor, maling, yang walaupun berpeci dan bicara sopan santun bahasa daerah tetapi adalah pengkhianat bangsa.

Baca Juga: Mewujudkan Negara Agung, dari Mana Memulainya?

Isue londo ireng cuma kata untuk konsumsi orang awam yang bodoh karena kita sudah jadi terpelajar yang bisa membedakan pejuang dan pengkhianat.

Istilah londo ireng mencuat lebih bengis ketika kita terpapar istilah Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kapitalis. Jutaan rakyat mati sia-sia. Apakah kita bangga dengan perpecahan tak berguna itu?

Kini kita tahu, pengkhianat bangsa bukan sebutan buruk yang kita lontarkan, tetapi siapa saja yang mendapatkan harta secara tak adil dan berlebihan hingga tak tahu bagaimana menggunakan uangnya.

Sementara itu, rakyat mikir besok makan apa.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance