Jakarta, The Stance – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai influenza, terutama influenza A, yang memiliki kemampuan bermutasi dan menular dengan cepat.

Hal ini menyusul meningkatnya kasus influenza A di wilayah Surabaya Jawa Timur. Menurut IDAI, Influenza A dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan selesma atau common cold.

Kelompok yang berrisiko mengalami gejala berat akibat flu jenis ini adalah anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penanganan lonjakan kasus Influenza A di sejumlah daerah, termasuk wilayah Jawa Timur, tetap terkendali secara nasional.

Pemerintah kini memperketat pemantauan di titik-titik sentinel fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi potensi penularan yang lebih luas. Hasil surveilans mencatat kelompok anak usia dini menjadi yang paling rentan terdampak pada kenaikan kali ini.

Kasus Influenza A Meningkat di Surabaya

Billy Daniel Messakh

Sebelumnya, kasus influenza dikabarkan meningkat di Surabaya, Jawa Timur, hingga menyebabkan ruang anak dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Husada Utama (RSHU) Surabaya penuh oleh pasien sekitar sepekan terkhir.

"[Influenza] Anak-anak, kasusnya memang meningkat ya. Sampai penuh, tempat saya pediatric ward, ruang anak penuh. [IGD] sama penuh juga," kata Dirut RSHU Surabaya, dr Didi D. Dewanto, Selasa 15 September 2026 dikutip dari Kompas.com.

Didi mengatakan, lonjakan pasien influenza terjadi sejak sepekan. Mayoritas pasien di RSHU adalah anak-anak. Pihak rumah sakit bahkan sampai menambah ruangan.

"Hampir semua rumah sakit kayaknya ya, mohon coba dicek ya yang lain. Ada satu lantai ada 44, jadi sampai kita oper-oper ke lantai lain. (Mayoritas) anak-anak, tapi dewasa juga sama, sana ambruk, sini ambruk," jelasnya.

Meski demikian, Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyebut peningkatan kasus demam dan influenza di Kota Surabaya masih dalam kondisi yang wajar.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan data per Januari-Agustus 2026 menyebutkan 40 ribu lebih warga mengidap influenza, yang kemudian meningkat pada Juli-Agustus dan Agustus-September.

"Kalau lihat sih angkanya sekitar 10% peningkatan jumlah kasus, tapi ringan. Jadi bergejala, gejalanya ada panasnya, terus badannya lemas, ada batuknya. Nah, ini yang lebih cenderung ke influenza A," katanya di Surabaya, Jumat 18 September 2026.

Menurutnya, perubahan cuaca dan meningkatnya aktivitas masyarakat dapat memengaruhi kondisi kesehatan. Karena itu, masyarakat diimbau tetap menjaga daya tahan tubuh dan tidak perlu merasa cemas secara berlebihan.

IDAI: Influenza A Bermutasi dan Menular Lebih Cepat

Anggraini Alam

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai influenza, terutama influenza A, yang memiliki kemampuan bermutasi dan menular dengan cepat.

Anggota UKK Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), mengatakan influenza A dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan selesma atau common cold.

Kelompok yang memiliki risiko mengalami gejala berat antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Pada anak, risiko tersebut menjadi perhatian karena influenza dapat menyebabkan perawatan di rumah sakit. Anggraini menyebut sekitar 5% anak yang mengalami influenza berisiko membutuhkan rawat inap.

Dari kelompok anak yang dirawat, sekitar 80% berusia di bawah 2 tahun dan sekitar setengahnya merupakan bayi berusia kurang dari 6 bulan.

"Sehingga tidak heran, balita, kemudian yang memiliki komorbid terutama neurologi, atau yang butuh rawatan lama, atau anak-anak di daycare karena padat termasuk juga di area yang padat itu berisiko untuk reinfeksi oleh influenza," jelasnya dalam konferensi pers secara daring, Jumat 18 September 2026.

Anggraini menjelaskan influenza juga lebih cepat menular dibandingkan Covid-19. Pada anak, risiko mengalami influenza bergejala mencapai dua kali dari orang dewasa karena daya tahan tubuh terhadap influenza belum terbentuk secara optimal.

Gejala Influenza A dan Pencegahannya

ilustrasi Anak sakit

Anggraini, yang juga Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, menjelaskan bahwa gejala influenza umumnya muncul dengan cepat, antara lain demam, sakit kepala, nyeri badan, sakit tenggorokan, batuk kering, lelah, dan mudah merasa capek.

Gejala biasanya mencapai puncak pada hari keempat hingga kelima sebelum memasuki fase penyembuhan. Meski demikian, rasa tidak nyaman dapat bertahan hingga lebih dari dua minggu.

Influenza juga dapat menimbulkan komplikasi, terutama pada saluran pernafasan. Pada anak yang memiliki asma, influenza dapat memicu kekambuhan. Selain itu, infeksi influenza juga dapat berkaitan dengan gangguan kardiovaskular.

Dia menekankan influenza berbeda dengan selesma yang umumnya memiliki gejala lebih ringan dan berkembang secara bertahap. "Pada influenza, demam, sakit kepala, nyeri badan, dan rasa lelah cenderung muncul lebih cepat dan lebih berat."

Sebagai pencegahan, vaksinasi influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan. Masyarakat dianjurkan menerapkan etika batuk, memakai masker ketika sakit, mencuci tangan, menghindari menyentuh mata, hidung, mulut, dan menjaga ventilasi ruangan.

Influenza dapat menular melalui droplet maupun secara tidak langsung melalui permukaan yang terkontaminasi. Anggraini mengatakan virus dapat bertahan di luar sehingga kebersihan tangan dan lingkungan menjadi bagian penting dari pencegahan.

"Antivirus yang dapat digunakan adalah oseltamivir dengan dosis yang disesuaikan usia dan berat badan. Namun, penggunaan obat pada anak memiliki batasan tertentu dan sebaiknya dilakukan sesuai arahan dokter," ungkap Anggraini.

Baca Juga: Heboh Istilah 'Super Flu' dengan Gejala Mirip COVID-19; Seberbahaya Apa?

Antibiotik tidak direkomendasikan untuk mengatasi influenza karena penyakit tersebut disebabkan oleh virus. Anak-anak yang terinfeksi influenza dapat menularkan virus lebih lama dibandingkan orang dewasa.

Secara umum, penularan dapat berlangsung sejak 24 jam sebelum munculnya gejala hingga sekitar lima hari setelah gejala muncul. Pada anak, periode penularan dapat berlangsung hingga sekitar 10 hari.

"Kalau dirasa, dikatakan adalah 24 jam tidak demam tanpa obat. Dan ingat ya, tidak batuk-batuk atau lemes begitu, ya kalau seperti itu jangan dulu bekerja," kata Anggraini.

Influenza A memang menjadi perhatian karena dapat mengalami mutasi, termasuk melalui interaksi dengan hewan. Menurutnya, mutasi tertentu berpotensi memicu penyebaran yang lebih luas.

"Flu A ini yang kita harus hati-hati karena dia ini hobinya cepat sekali mutasi, tidak hanya manusia, hewan pun juga dan terutama menjadi perhatian kita adalah babi," ujar Anggraini.

Kemenkes: Kasus Influenza A Secara Nasional Masih Terkendali

Aji Muhawarman

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penanganan lonjakan kasus Influenza A di sejumlah daerah, termasuk wilayah Jawa Timur, tetap terkendali secara nasional.

Pemerintah kini memperketat pemantauan di titik-titik sentinel fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi potensi penularan yang lebih luas.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menyebut tren peningkatan kasus virus pernapasan menjelang akhir tahun merupakan siklus musiman yang wajar.

Namun, hasil surveilans mencatat kelompok anak usia dini menjadi yang paling rentan terdampak pada kenaikan kali ini.

"Kasus influenza yang terdeteksi tersebut mayoritas terjadi pada kelompok usia 0-4 tahun, dengan proporsi mencapai 33 persen," ujar Aji dalam keterangannya, Kamis 17 September 2026.

Meski terjadi kenaikan kunjungan pasien di beberapa rumah sakit daerah, Aji menegaskan, kondisi fasilitas kesehatan nasional dipastikan tetap aman dan tidak mengalami overcapacity.

"Kenaikan tersebut juga diperkirakan tidak akan menjadi lonjakan signifikan," tambahnya.

Aji menyebut tingkat aktivitas influenza secara nasional saat ini masih berada dalam kategori rendah dan situasi masih terkendali dimana tidak terdapat peningkatan proporsi kasus influenza pada pekan ini.

Masih Terkategori Aktivitas Rendah

hujan

Berdasarkan pemantauan Kemenkes, tingkat aktivitas influenza juga telah masuk dalam kategori aktivitas rendah.

"Tingkat Aktivitas Influenza Rendah: tidak ada peningkatan proporsi kasus influenza di minggu ini dan tingkat aktivitas influenza sudah masuk dalam kategori aktivitas rendah, situasi masih terkendali," ujar Aji.

Data surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) Kemenkes menunjukkan aktivitas influenza secara nasional pada minggu ke-34 atau periode hingga 5 September 2026 berada pada level rendah.

Berdasarkan data tersebut, positivity rate influenza berada di angka 28%, masih di bawah puncak musim influenza pada 2025.

Pada periode 2024-2026, ada dua puncak musiman influenza yakni pada Desember 2024-Januari 2025 dengan positivity mencapai 53% dan September-Oktober 2025 yang mencapai 51%.

Pada minggu ke-34 2026, subtipe yang paling dominan terdeteksi adalah influenza A(H1N1)pdm09.

Secara keseluruhan distribusi kasus influenza A(H3N2) Subclade K di Indonesia didominasi Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, yang masing-masing menyumbang 24% kasus, diikuti Jakarta sebesar 14,8%.

Di tengah laporan peningkatan kasus influenza di sejumlah daerah, Kemenkes mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mengonsumsi makanan bergizi, dan mencukupi kebutuhan istirahat.

Bagi masyarakat yang sedang sakit, Kemenkes mengimbau pemakaian masker guna mengurangi risiko penularan. Jika kondisi sakit semakin berat, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance