Jakarta, TheStance – Lonjakan tajam kasus influenza menyebabkan jumlah pasien rawat inap di Inggris melesat, memaksa Layanan Kesehatan Nasional (National Health Security/NHS) bersiap "memasuki skenario terburuk" sejak Desember 2025.
Mereka mengantisipasi skenario terburuk tersebut karena data terbaru menunjukkan bahwa dalam kurun waktu hanya 1 pekan, angka rawat inap akibat flu melonjak lebih dari 50%. Bagaimana situasinya di Indonesia?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penyebaran influenza A(H3N2) subclade K di Tanah Air masih terkendali dan tak menunjukkan pemburukan tingkat keparahan dibandingkan clade atau subclade influenza lain hingga akhir Desember 2025.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes Prima Yosephine mengatakan peningkatan kasus influenza A(H3) secara global mulai terpantau di Amerika Serikat (AS) sejak pekan ke-40 tahun 2025, seiring dengan dimulainya musim dingin.
Subclade K pertama kali teridentifikasi oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control & Prevention/CDC) AS pada Agustus 2025 dan hingga saat ini telah dilaporkan keberadaannya di lebih dari 80 negara.
“Berdasarkan penilaian WHO [World Health Organization] dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” ujar dr. Prima dikutip pada Jumat (2/1/2026).
Di kawasan Asia, subclade K telah terdeteksi di sejumlah negara, antara lain China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Gejalanya serupa dengan flu musiman seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala dan nyeri tenggorokan.
Meski influenza A(H3) menjadi varian paling dominan, perkembangan kasus di negara-negara tersebut menunjukkan kecenderungan penurunan dalam dua bulan terakhir.
Banyak Ditemui dan Cenderung Menurun
Di Indonesia, data surveilans mengonfirmasi bahwa influenza A(H3) masih menjadi varian yang paling banyak ditemukan. Namun tren kasus influenza secara nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.
Berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K telah teridentifikasi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di 8 provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelasnya.
Dari total 843 spesimen influenza yang dinyatakan positif, sebanyak 348 sampel telah menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan beredar secara global dalam sistem surveilans WHO.
Kemenkes menegaskan komitmen untuk terus memperkuat upaya surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan dalam merespons dinamika perkembangan situasi influenza.
Namun sebagai upaya pencegahan, masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebugaran dan daya tahan tubuh.
Dia menyarankan vaksinasi influenza tahunan terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Vaksin influenza diyakini tetap efektif mencegah gejala berat, kebutuhan rawat inap, dan risiko kematian.
Selain itu, masyarakat juga diminta tetap di rumah saat mengalami gejala flu, memakai masker, menerapkan etika batuk dan mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika kondisi memburuk atau tidak membaik dalam waktu lebih dari 3 hari.
Istilah 'Super Flu' Dibikin oleh Media
Epidemiolog sekaligus ahli keamanan kesehatan global dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa sebutan 'Super Flu' muncul dari pemberitaan untuk menggambarkan varian influenza yang cepat menyebar dan berdampak lebih berat.
“Secara ilmiah, yang dimaksud dengan 'super flu' itu adalah subklade atau subvarian dari virus Influenza A H3N2. Namun karena istilah ini digunakan secara luas oleh media, masyarakat di berbagai belahan dunia kemudian ikut mengenalnya sebagai super flu,” kata Dicky kepada TheStance.
Dicky menyebut salah satu alasan virus ini disebut “super” adalah karena kemampuannya memicu wabah lebih cepat dari siklus influenza musiman biasa, yakni sekitar 1 bulan lebih awal.
“Biasanya influenza meningkat pada musim dingin, terutama di negara-negara belahan bumi utara sekitar akhir Oktober atau awal November. Namun pada subklade K ini, wabah sudah muncul 1 bulan atau 2-3 minggu sebelum musim dingin,” paparnya.
Selain penyebarannya yang lebih cepat, Dicky mengatakan gejala yang ditimbulkan juga cenderung lebih menonjol dan berat meliputi batuk yang lebih lama, dahak lebih banyak, nyeri tenggorokan yang terasa lebih perih, serta rasa lemas yang signifikan.
“Keluhannya mirip COVID-19, dan ini terutama dirasakan oleh kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak di bawah lima tahun,” katanya.
Selain itu, infeksi 'super flu' pada kelompok rentan juga memicu rawat inap dengan durasi lebih lama, rata-rata antara 7-14 hari. “Inilah yang membuatnya dianggap lebih serius, meskipun secara medis istilah super flu sendiri sebenarnya tidak resmi.”
Oleh karenanya, menyebut varian ini sebagai flu biasa juga tak sepenuhnya tepat, karena bisa berdampak fatal jika menyerang kelompok rentan.
Varian Virus Flu yang Perlu Diwaspadai

Dicky menjelaskan, virus influenza terdiri atas empat tipe, yakni Influenza A, B, C, dan D. Dari keempatnya, yang selama ini bersirkulasi secara musiman pada manusia. Yang kerap menyebabkan wabah adalah Influenza A dan Influenza B.
Pada Influenza A, terdapat dua subtipe utama yang banyak menginfeksi manusia. Salah satunya adalah H1N1, yang pernah memicu pandemi global pada 1918–1920.
“Saat ini H1N1 sudah menjadi endemik dan terus bersirkulasi dengan banyak sekali turunan, karena karakter virus influenza yang sangat cepat bermutasi,” ujar Dicky.
Subtipe lain yang juga dominan menginfeksi manusia adalah H3N2 yang cenderung menimbulkan gejala lebih berat ketimbang H1N1. “Salah satu turunan dari H3N2, yakni subklade K, inilah yang kemudian populer disebut sebagai super flu.”
Virus subklade K pertama kali terdeteksi pada Juni 2025 di sejumlah negara, termasuk di Eropa dan Jepang.
Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa secara global angka kematian akibat virus ini belum menunjukkan lonjakan signifikan. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar tiga juta kasus infeksi, dengan ratusan ribu kasus bergejala berat.
“Tingkat kematiannya masih jauh lebih rendah dibandingkan COVID-19 pada awal pandemi,” ujarnya.
Namun, persoalan utama di banyak negara, termasuk Indonesia, adalah rendahnya vaksin influenza akibat keterbatasan akses dan minimnya literasi masyarakat. Hal ini berisiko membuat dampak Super Flu menjadi lebih buruk bagi kelompok rentan.
Kelompok rentan yang dimaksud adalah lansia di atas 65 tahun, penderita penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung, orang dengan gangguan imunitas, ibu hamil, serta bayi, khususnya anak di bawah dua tahun.
“Rendahnya vaksinasi menyebabkan kekebalan komunal tidak terbentuk dengan baik, sehingga virus lebih mudah bersirkulasi dan menginfeksi,” tegasnya.
Baca Juga: Pneumonia, Pembunuh Balita Nomor Satu Dunia
Dicky menyoroti rendahnya literasi kesehatan dan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan dini. Banyak yang datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah parah, sehingga memperluas risiko penularan dan keparahan.
Situasi ini menjadi semakin krusial pada akhir dan awal tahun, ketika musim hujan bertepatan dengan tingginya mobilitas masyarakat akibat liburan.
“Tidak menutup kemungkinan sekitar 80–90% kasus flu di Indonesia pada periode ini disebabkan oleh subklade K,” katanya.
Karena itu, Dicky mengimbau agar lansia di atas 65 tahun, terutama yang memiliki penyakit penyerta, segera melakukan vaksinasi influenza.
“Vaksinasi masih sangat bermanfaat meskipun dilakukan sekarang, karena bisa mencegah keparahan, menurunkan risiko rawat inap, dan mengurangi kemungkinan kematian,” ujarnya.
Untuk masyarakat umum, ia juga menekankan pentingnya langkah pencegahan sederhana, seperti menjaga kebersihan, memakai masker saat sakit, serta membatasi kontak dengan kelompok rentan.
“Lindungi anggota keluarga yang berisiko seperti kakek-nenek, bayi, dan orang dengan komorbid. Jika sedang sakit, sebaiknya beristirahat di rumah dan menghindari kontak langsung dengan mereka,” pungkas Dicky. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance