Jakarta, TheStance - Tidak semua saham berkarakter sama. Ada saham untuk berspekulasi. Ada saham untuk bertahan. Di pasar yang bergerak volatil, investor pun memburu kepastian.
Kondisi genting membuat cuan jangka pendek turun prioritas. Mereka mencari saham perusahaan dengan fundamental kuat, likuiditas solid, dan kualitas aset terjaga. Itulah mengapa muncul istilah ‘saham defensif’.
Mengutip Corporate Finance Institute, saham defensif adalah saham yang menunjukkan kinerja stabil terlepas dari kondisi ekonomi saat ini.
Saham defensif memberikan pembayaran dividen yang stabil dan harga saham yang lebih konstan, berkebalikan dari saham siklikal yang keuntungannya mengikuti siklus ekonomi antara ekspansi dan resesi.
Saham perbankan dikategorikan sebagai saham defensif, seperti halnya di Amerika Serikat (AS) di mana Bank of America jadi salah satunya. Di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dianggap sebagai saham defensif karena beberapa alasan.
Mengutip riset Panin Sekuritas bertajuk Company Update 12M25 yang dirilis 6 Februari 2026, BBCA membukukan laba bersih Rp57,5 triliun sepanjang 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan (yoy) dan sepenuhnya sejalan dengan estimasi konsensus analis.
Dengan kinerja sesuai prediksi, yang menjadi salah satu karakter saham defensif, Panin Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga Rp10.000 per saham.
Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 28% dari level penutupan saat laporan diterbitkan.
Efisiensi Jadi Penyangga Utama

Panin Sekuritas menilai kinerja BBCA tetap kuat sekalipun menghadapi tekanan margin dan lonjakan pencadangan.
“BBCA berhasil mencatatkan kinerja laba yang resilien sepanjang 2025, ditopang disiplin biaya yang berkelanjutan, meskipun menghadapi tekanan margin dan lonjakan provisi,” ujar Head of Research/Analis Panin Sekuritas Nico Laurens dalam riset tersebut.
Artinya, capaian keuangan tersebut bukan sekadar soal angka, melainkan refleksi dari model bisnis yang disiplin dan konsisten dalam menjaga kualitas pertumbuhan.
Panin Sekuritas mencatat cost-to-income ratio (CIR) BBCA turun ke level terendah historis 32,1%, didukung implementasi digitalisasi dan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga tumbuh 9,9% yoy, membantu menahan dampak moderasi margin bunga. Di tengah penguatan kontribusi pendapatan non-bunga itu, efisiensi juga menjadi penyangga utama profitabilitas.
“Tekanan margin bunga berhasil diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga yang solid, sementara implementasi digitalisasi membantu menekan beban operasional ke level terendah historis.”
Ini menjelaskan kenapa, profitabilitas BBCA tetap terjaga sekalipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turun sekitar 10 basis poin (bp) yoy menjadi 5,7%.
Kenaikan Pencadangan Cerminkan Kehati-hatian

Sorotan pasar terhadap lonjakan pencadangan juga dijawab secara lugas oleh Panin Sekuritas. Beban provisi memang naik nyaris dobel (+97,2% yoy) akibat write-off sekitar Rp7,7 triliun yang berasal dari dua eksposur korporasi dan komersial.
Namun Nico menekankan bahwa langkah itu mencerminkan kehati-hatian, bukan pelemahan struktural. Naiknya Cadangan Kerugian Penilaian Aset (CKPN) dan biaya kredit adalah konsekuensi pendekatan prudensial, bukan pemburukan kualitas aset.
“Panduan cost of credit yang lebih tinggi kami pandang sebagai sikap prudensial dan antisipatif di tengah ketidakpastian makro, bukan indikasi munculnya tekanan kredit yang struktural.”
Faktanya, kualitas aset justru membaik. Loan at Risk turun ke 4,8%, sementara pinjaman tidak lancar (non performing loan/NPL) dan kredit dalam pantauan khusus (DPK/special mention loan) di bawah 2%, masing-masing 1,7% dan 1,8%.
Baca Juga: CKPN Naik Tak Lantas Gerus Laba, BCA Adalah Buktinya!
Untuk 2026, manajemen memandu cost of credit di kisaran 0,4–0,5% sebagai buffer antisipatif.
Di sisi pendanaan, dominasi dana murah menjadi faktor kunci yang menjaga stabilitas margin. BBCA mencatat pertumbuhan CASA sebesar 13,1% yoy dengan rasio CASA mencapai 83,7%, menjaga loan-to-deposit ratio di level kuat, antara 75–76%.
“Struktur pendanaan berbasis CASA yang kuat membantu membatasi potensi penurunan NIM, ditopang oleh pertumbuhan signifikan pada giro dan tabungan.”
Sementara itu, kredit tumbuh 7,7% yoy pada 2025, terutama dari segmen korporasi dan komersial.
Untuk 2026, BBCA memandu pertumbuhan kredit 8–10%, dengan strategi yang tetap konservatif dan berfokus pada debitur berkualitas.
Kian Relevan Saat Market Volatil

Saat pasar penuh noise, investor kembali ke prinsip dasar dalam memilah saham untuk menjadi tujuan akumulasi: earnings visibility, neraca yang kuat, dan likuiditas yang solid. Saham BBCA memenuhi ketiganya.
Panin Sekuritas menegaskan bahwa ketahanan laba, kualitas aset yang membaik, serta likuiditas yang superior menjadikan BBCA berada dalam posisi defensif yang kuat, bahkan ketika bank besar lain menghadapi tekanan laba.
Sebagai perbandingan, laba bersih PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tumbuh hanya 0,93% ke Rp56,3 triliun, atau lebih lemah dari pertumbuhan profitabilitas BCA sebesar 4,9%.
Sebaliknya, laba bersih PT Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 6,6% sementara PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) belum merilis laporan kinerjanya per 2025.
Atas dasar itu, Nico menutup risetnya dengan penekanan bahwa valuasi BBCA saat ini tetap menarik untuk saham dengan profil risiko serendah ini.
Dengan laba yang konsisten, CASA yang dominan, kualitas aset yang membaik, serta strategi pertumbuhan yang terukur, tidak heran jika Panin Sekuritas menilai kinerja fundamental tersebut belum tercermin dari harga saham BBCA saat ini.
Pada penutupan Selasa (24/2/2026), saham BBCA diperdagangkan di level Rp7.250/saham atau terhitung melemah 9,1% sepanjang tahun berjalan.
Dengan potensi kinerja fundamental yang kuat sebagai saham defensif, masih ada ruang kenaikan, menyusul peer-nya seperti saham BBRI yang pada periode yang sama masih tumbuh 4%, saham BBNI (tumbuh 5%), dan BBRI (naik 6%). (bsw/ags)