Jakarta, TheStance - Dalam dunia perbankan, tekanan sering kali datang lebih dini jauh sebelum pemulihan terlihat. Tapi justru di momen-momen sulit itulah kepiawaian bank mendapatkan ujian terbaiknya dan menunjukkan kelasnya.
Kisah inilah yang terbaca dari kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BCA) per 31 Desember 2025. Perseroan tetap mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik (PATMI) sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan (yoy).
Kinerja profitabilitas bank yang dikendalikan oleh kelompok afiliasi bisnis Djarum ini, 100% sejalan dengan konsensus analis, meski mereka menghadapi tekanan margin dan peningkatan pencadangan.
Sebagai perbandingan, pertumbuhan laba bersih PT Bank Mandiri Tbk hanya 0,93% ke Rp56,3 triliun. Sebaliknya, laba bersih PT Bank Negara Indonesia (BNI) turun 6,6%. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) belum merilis laporan kinerjanya per 2025.
Menurut riset Sinarmas Sekuritas bertanggal 2 Februari 2026, analis Ivan Purnama Putera menilai bahwa ketahanan laba BCA pada 2025 ditopang oleh disiplin biaya dan efisiensi operasional yang konsisten.
Cost-to-income ratio (CIR) BCA tercatat turun ke level terendah sepanjang sejarah di angka 32,1%, didukung oleh implementasi digitalisasi dan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kinerja positif ini dicapai meski margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan mengalami penurunan moderat sekitar 10 basis poin (yoy) menjadi 5,7%.
Tekanan margin tersebut berhasil diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga (fee-based income) sebesar 9,9% (yoy), yang mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan yang solid.
Nilai di Balik CKPN yang Terukur dan Transparan

Tidak dapat dipungkiri kinerja prima emiten berkode saham BBCA Ini tak lepas dari meningkatnya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), yang terkait dengan lonjakan biaya provisi sepanjang tahun lalu.
Di mata para trader, pencadangan atau provisi dianggap sebagai momok karena umumnya mengganggu suasana hati mereka yang ingin mengejar keuntungan jangka pendek dan bertumpu pada matriks laba bersih jangka pendek.
Semua yang mengganggu potensi laba bersih mendorong mereka untuk pindah ke emiten lain yang labanya terlihat kokoh, karena mereka bertumpu pada valuasi standar price to earnings ratio (PER) yang menempatkan laba bersih di atas segalanya.
Ivan mencatat bahwa beban provisi BCA, yang hampir meningkat dobel (+97,2% yoy), dipicu oleh write-off (hapus tagih) kredit senilai Rp7,7 triliun. Angka ini naik dari sekitar Rp3,5 triliun pada 2024, yang utamanya adalah kredit korporasi dan komersial.
Namun, Ivan menilai bahwa langkah—yang tak populer di mata trader jangka pendek—tersebut mencerminkan sikap prudensial, bukan sinyal memburuknya kualitas kredit secara struktural.
Sebagaimana diketahui, pencantuman pencadangan di laporan keuangan adalah bentuk itikad perseroan kepada pemegang saham dalam menjaga kualitas laba bersih, sebagaimana filosofi di balik Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 71.
Mengedepankan metode expected credit loss (ECL) yang berbasis forward looking, poin soal pencadangan justru menjadi pembeda terkait setransparan dan sejitu apa sebuah bank dibandingkan dengan bank lain.
Baca Juga: Dana Murah Tumbuh Lebih Cepat dari Kredit, Likuiditas BCA Kian Sehat
BCA mengantisipasi risiko kredit bermasalah di tahun 2025 dengan tak ragu memasukkan pencadangan, sehingga manajemen mengerti bakal sejauh mana laba bersih mereka tertekan, yang pada gilirannya membuat mereka tahu: harus sekuat dan seefisien apa mereka bekerja agar laju profitabilitasnya terjaga.
Tak heran, kualitas aset BCA membaik, dengan kredit riskan (Loan at Risk/LaR) turun ke 4,8% (dari 5,3% pada 2024) padahal kondisi ekonomi masih menantang imbas kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dan kredit perhatian khusus (Special Mention Loan/SML) masing-masing turun dari kisaran 2% ke 1,7% dan 1,8%. Angka ini jauh lebih dari batas maksimum NPL yang sehat, yakni 5%
Untuk 2026, manajemen BCA mencetak cost of credit (CoC) di kisaran 0,4–0,5%, sebuah pendekatan yang menurut Ivan adalah “buffer antisipatif di tengah ketidakpastian global dan domestik", dan tak berarti mengindikasikan memburuknya tekanan kredit.
Likuiditas Kuat dan Valuasi Menarik
Dilatarbelakangi situasi demikian, tak heran UBS Sekuritas dalam laporan First Read yang ditulis Joshua Tanja dan Ivan Reynaldo Sutheja pada 27 Januari 2026 menyoroti bahwa BCA memasuki 2026 dengan fondasi likuiditas yang sangat kuat.
Pertumbuhan kredit mencapai 8% yoy pada 2025, sementara CASA tumbuh signifikan sebesar 13% yoy, mendorong loan-to-deposit ratio (LDR) turun ke 77% pada akhir 2025.
UBS mencatat bahwa meskipun terdapat panduan penurunan NIM lanjutan sekitar 0–20 bps pada 2026, tekanan tersebut relatif terbatas berkat struktur pendanaan berbasis CASA yang dominan.
Mereka memproyeksikan BCA mencetak pertumbuhan kredit 8–10% pada 2026, terutama dari segmen korporasi dan komersial, dengan strategi pertumbuhan yang lebih mengedepankan volume dan kualitas dibandingkan agresivitas yield.
Dari sisi valuasi, UBS menilai BBCA berada pada posisi yang menarik, dengan valuasi sekitar 3,1x rasio harga saham per nilai buku (price-to-book value/PBV), mendekati level terendah enam tahun.
Sementara itu, return on equity (ROE) 2025 sebesar 21% masih berada di atas rata-rata historis 10 tahunnya. UBS mempertahankan rekomendasi BELI saham BBCA dengan target harga Rp11.000 per saham.
Dengan CKPN rasional pada tahun 2025, BCA pun dinilai lebih optimistis memasuki 2026 karena kualitas pendapatannya terjaga. Hal ini sejalan dengan konsensus Bloomberg di mana 36 analis merekomendasikan BELI dengan target harga Rp10.233.
Mengacu pada studi di Jurnal Akurasi: Studi Akuntansi dan Keuangan (Vol. 1 Nomor 1/2024), pencadangan yang tinggi justru memiliki korelasi positif dengan kualitas laba bank dalam jangka panjang.
Aspek penting inilah yang seringkali diabaikan para trader jangka pendek. (ags)