Jakarta, TheStance  – Harga emas terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, kenaikannya telah melampaui rekor selama ini.

Kamis, 29 Februari 2026, harga emas Antam mencetak rekor baru, setelah menembus Rp3.003.000 per gram di pasar domestik. Lonjakan harga tersebut terjadi seiring harga emas dunia menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di kisaran USD 5.500 atau sekitar Rp84,9 juta per ons.

Selama ini, emas memang dikenal sebagai salah satu instrumen investasi populer di dunia. Alasannya beragam, termasuk karena statusnya sebagai aset pelindung nilai (safe haven) yang nilainya relatif stabil ketika instrumen investasi lain mengalami tekanan.

Bukan cuma stabil, seiring waktu harganya juga semakin naik. Bahkan, banyak pakar menilai tren ini akan terus berlanjut dan tidak akan mengalami penurunan signifikan.

"Perkiraan kami untuk tahun ini adalah harga emas akan mencapai US$6.400 per ons dengan rata-rata US$5.375," kata analis independen Ross Norman, menyoroti potensi kelanjutan reli harga emas sepanjang 2026, seperti dikutip Reuters.

Para analis menilai kombinasi faktor geopolitik yang memanas, kebijakan moneter yang longgar di AS, pembelian besar oleh bank sentral, termasuk China, dan aliran masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) menjadi pendorong utama kenaikan emas yang berkelanjutan.

Lantas, apa saja penyebab harga emas terus mengalami kenaikan ?

Trump Tarif

Berikut beberapa alasan yang melatari kondisi tersebut yang dirangkum TheStance dari berbagai sumber.

1. Kebijakan Moneter AS

Salah satu faktor dominan kenaikan harga emas adalah kebijakan moneter AS, khususnya oleh Federal Reserve (Fed). Kini, Fed telah memutuskan untuk menahan suku bunga acuan meskipun inflasi masih berada di atas target bank sentral.

Kebijakan tersebut kemudian memperkuat narasi debasement trade. Kepercayaan investor akan uang kertas mulai tergerus. Para investor lalu beralih dari valuta ke aset riil, seperti emas.

2. Meningkatnya permintaan sebagai safe haven

Salah satu alasan utama kenaikan harga emas adalah permintaannya yang juga terus bertambah. Dalam hal ini, para pembeli bukan sekadar ingin memiliki, namun juga menjadikannya sebagai safe haven.

Saat pasar saham bergejolak, bisa muncul sentimen risiko global yang membuat para investor cenderung masuk ke mode risk-off. Sebagai solusi praktis, emas menjadi salah satu tujuan utama aliran dananya. Dari sini, kemudian terjadi lonjakan permintaan emas yang turut berkontribusi membuat harganya terus naik.

3. Pelemahan Dolar AS

Situasi di pasar uang kini terguncang usai Presiden AS Donald Trump menyebut dolar "berkinerja baik" dan tidak melemah berlebihan. Banyak investor mengartikannya dengan tafsir yang lain.

Sebelumnya, dolar AS telah merosot ke level terendah dalam empat tahun terakhir pada awal pekan ini. Dolar AS kini mencatatkan penurunan nilai harian tercuram sejak peluncuran tarif tahun lalu.

Perlu diketahui, emas global diperdagangkan dalam satuan dolar AS. Jadi, ketika nilai dolar AS melemah, hal tersebut cukup berpengaruh terhadap harga emas dunia. Singkatnya, apabila dolar AS melemah terhadap mata uang lain, para investor global bakal lebih tertarik untuk beralih membeli emas karena nilainya lebih stabil dalam jangka panjang.

Contoh kasusnya bisa dilihat dari kondisi seperti krisis utang, defisit anggaran hingga penurunan peringkat kredit Amerika Serikat oleh lembaga pemeringkat seperti Standard & Poor’s (S&P) yang membuat kepercayaan investor terhadap ekonomi AS menurun. Akibatnya, banyak investor global, termasuk negara-negara dengan cadangan devisa besar beralih menyimpan aset mereka dalam bentuk emas.

Emas dianggap lebih aman dan stabil ketimbang dolar AS yang nilainya terus tergerus oleh gejolak ekonomi. Lagi, naiknya permintaan ini akan menyebabkan harga emas turut melambung.

4. Ketegangan geopolitik dunia

Faktor lain kenapa harga emas naik terus adalah konflik geopolitik global, baik berupa perang dagang hingga ancaman perang. Mendapati kondisi seperti itu, investor bakal menghindari aset berisiko seperti saham dan lebih memilih emas yang aman.

Jika melihat ke belakang, sudah sering terjadi ketegangan geopolitik besar yang kemudian membuat harga emas mengalami kenaikan signifikan. Contoh terbaru bisa dilihat belakangan ini terkait eskalasi konflik antara Amerika Serikat dengan Uni Eropa perihal pencaplokan Greenland. Alasannya simpel, emas dipilih karena dirasa bisa mempertahankan nilainya meski dunia dalam situasi kacau.

Ketegangan antarnegara mendorong investor dan pemerintah mencari instrumen paling aman untuk menjaga nilai cadangan nasional.

5. Meningkatnya permintaan dari industri

Pada perkembangannya, emas juga menjalani peran besar dalam industri perhiasan. Di negara-negara tertentu, emas bahkan dianggap sebagai simbol kemakmuran dan menjadi bagian penting dari tradisi atau budaya.

Jadi, selain untuk investasi, ada permintaan dari sektor non-investasi yang ikut membuat harganya mudah terdorong naik. Situasi ini menjadi alasan kenapa harga emas naik terus.

6. Negara Besar Ikut Menimbun Emas Dunia

Perang Rusia dan Ukraina memicu perubahan strategi setelah cadangan devisa Rusia diblokir negara Barat. Rusia merasa kesulitan karena cadangan mereka ditahan, sehingga akhirnya mereka beralih mencari cadangan devisa lain yang lebih aman, yaitu emas. Langkah Rusia membeli emas dalam jumlah besar kemudian memengaruhi keseimbangan permintaan di pasar global.

Kebijakan Rusia diikuti China, India, dan negara lain yang meningkatkan cadangan emas secara agresif. Aksi pembelian masif tersebut memicu fenomena gold rush yang mengerek harga emas dunia secara serentak. Kondisi global tersebut berdampak langsung ke Indonesia karena harga emas domestik mengikuti pasar internasional.

Lantas, perlukah masyarakat beli emas sekarang juga?

antre emas

Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Nurul Istiqomah mengatakan grafik harga emas yang terus meroket ke atas belakangan ini tak luput dari meningkatnya permintaan pasar.

Fenomena lonjakan permintaan pasar juga dipengaruhi oleh dampak psikologis di tengah masyarakat Indonesia yang panik ingin membeli emas.

"Apalagi bersliweran di media sosial bagaimana chaos-nya orang-orang yang mau membeli emas, menyebabkan orang ketakutan dan mulai ikut untuk membeli emas," jelas Nurul. dikutip dari Kompas.com.

Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena emas memang menjadi salah satu investasi yang mempunyai tingkat likuiditas tinggi.

Seiring dengan melonjaknya harga emas, Nurul mengatakan bahwa masyarakat punya banyak pilihan jika ingin berinvestasi pada aset ini.

Kini, ada banyak lembaga keuangan yang memberi pilihan kepada masyarakat untuk tetap berinvestasi emas tanpa harus terbebani dengan harga yang fantastis. Contohnya, tabungan atau cicilan emas yang memungkinkan masyarakat untuk berinvestasi secara bertahap.

"Sekarang ini banyak lembaga keuangan yang menawarkan untuk menabung emas, sehingga mungkin harga emas yang tinggi pun bisa dibeli dengan tabungan atau cicilan emas," jelas Nurul.

Meski demikian, Nurul mengingatkan bahwa pembelian emas dengan tujuan jangka pendek berisiko memunculkan kekecewaan. Mengingat, pergerakan emas tidak terjadi dalam periode yang pendek. Dan emas merupakan bentuk investasi jangka panjang.

"Tetapi jika membeli untuk mencari keuntungan sesaat dari fluktuasi harga emas, sepertinya akan mengalami kekecewaan jika harga yang diprediksi tidak tercapai," katanya. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance