Jakarta, TheStance – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump begitu percaya diri untuk mencaplok Greenland, mengancam tarif baru ke negara Uni Eropa jika menolak menjualnya untuk AS. Dia bukan yang pertama di sejarah AS.
Di sela forum World Economic Forum (WEF) Davos kemarin, Trump membungkus ulang retorika soal Greenland, menyebutnya "begitu penting bagi proyek Golden Dome AS."
Sempat mengancam tarif 10% pada Denmark dan tujuh negara Eropa lain, dia akhirnya mengumumkan sudah ada kerangka kerja dengan Uni Eropa terkait Greenland, sehingga gertakan tarif itu--yang sedianya berlaku per 1 Februari--tak jadi berlaku.
TheStance melacak jejak kronologi ambisi Trump terhadap pulau seluas 2,17 juta kilometer persegi (km2), atau terluas di dunia.
Trump pertama kali mengungkap ambisinya saat menjabat sebagai presiden AS periode pertama, di tahun 2018, dalam rapat internal.
Adalah Wall Street Journal yang pertama kali melaporkan minat Trump ini pada 10 Agustus 2019. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Trump telah membahas ide tersebut—dengan berbagai tingkat keseriusan—dengan para penasihatnya.
Ketika pertama mengungkap gagasannya menganeksasi Greenland, pada 2018, Trump bilang bahwa area itu pada pokoknya akan menjadi "kesepakatan real estate yang besar."
Dalam buku The Divider: Trump di Gedung Putih 2017–2021, karya Peter Baker dan Susan Glasier, Greenland disebut menarik perhatian Trump sebagai: “kesepakatan real estat besar.”
Kesepakatan itu memungkinkannya memberinya “tempat dalam sejarah Amerika seperti pembelian Alaska oleh William Seward.”
Dari Real Estate ke Keamanan

Ide yang awalnya ditanggapi absurd itu, kini berkembang. Trump dan punggawanya menyitir argumentasi soal pentingnya Greenland bagi "keamanan nasional AS dan bahkan keamanan dunia."
Ketika terpilih lagi, Trump terang-terangan dalam pidato di depan Kongres AS menyatakan ambisinya untuk mencaplok Greenland demi "keamanan nasional."
Dia mengeklaim AS butuh Greenland untuk menjamin "keamanan nasional dan bahkan keamanan internasional" dan tengah bekerja sama dengan semua pihak terkait untuk mendapatkannya.
"Kita benar-benar membutuhkannya untuk keamanan dunia internasional. Dan saya pikir kita akan mendapatkannya. Dengan satu atau lain cara, kita akan mendapatkannya," tuturnya saat itu, dua bulan setelah memenangi pemilihan presiden
Dalam beberapa kesempatan, Trump menegaskan semua opsi sudah dia siapkan di atas meja, meski dia menolak berkomentar apakah akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland, ketika diwawancarai NBC News.
Trump bilang bahwa kehadiran China dan Rusia yang berseliweran di Greenland, entah bagaimana, dianggap bisa mengancam keamanan AS. Laiknya argumen pemukim zionis ketika mencuri rumah warga Palestina, Trump bilang:
"Jika AS tak mengambil alih Greenland, maka Rusia & China yang akan melakukannya," katanya.
Benarkah itu?
Menampik klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Rasmussen kepada Fox News menegaskan kapal perang China tak pernah terlihat dekat Greenland "sekitar 1 dekade" termasuk "jejak China & investasinya."
Ekspansi Wilayah AS Terbesar Sejak Abad 19
Pencaplokan Greenland itu menjadi proyek ekspansi AS terbesar sejak abad ke-19, sebanding dengan Pembelian Louisiana pada tahun 1803 yang saat itu melambangkan "zaman keemasan" Amerika.
Momentumnya juga sangat tepat, karena tahun 2025 menandai peringatan penting di AS yakni peringatan 250 tahun berdirinya imperium di era modern tersebut.
Ketertarikan Trump untuk mengakuisisi Greenland dimotivasi empat hal, kata mantan Letnan Kolonel Angkatan Darat AS Earl Rasmussen kepada media Rusia, Ria Novosti seperti dikutip Nampa.
Pertama, prospek kehadiran yang lebih kuat di Arktik; kedua, akses ke cadangan mineral pulau tersebut; ketiga, kendali atas jalur perdagangan; dan keempat, penempatan senjata dan rudal strategis.
Kepada NBC, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengakui Greenland "sangat penting bagi keamanan nasional AS," sehingga Trump siap "pertempuran di Arktik" dan bersumpah untuk tidak "mengalihkan keamanan hemisfer AS ke luar negeri."
Terakhir, akuisisi wilayah AS yang signifikan terjadi pada tahun 1917, ketika George Washington membeli Kepulauan Virgin dari Denmark seharga US$25 juta (Rp423 miliar).
Pulau-pulau tersebut St. Thomas, St. Croix, dan St. John yang diperoleh selama Perang Dunia I karena nilai strategisnya dalam melindungi jalur laut Karibia dan jalan menuju Terusan Panama. Pulau-pulau tersebut hingga kini tetap menjadi wilayah AS.
Namun dari sisi luas wilayah yang dianeksasi, Louisiana yang berluas 2,14 juta km² sejauh ini menjadi area terbesar yang pernah diambil alih AS. Louisiana dibeli dari Prancis seharga US$15 juta.
Sebagai perbandingan, Texas yang dianeksasi pada tahun 1845 setelah memisahkan diri dari Meksiko, memiliki luas 1,01 juta km², sedangkan Alaska yang dibeli tahun 1867 memiliki luas 1,53 juta km².
Dengan luas 2,17 juta km², Greenland bakal menjadi aneksasi wilayah terbesar dalam sejarah AS, setelah belum mencaplok wilayah besar selama hampir 1 abad.
Baca Juga: 5 Negara Jadi Target Trump Setelah Venezuela, Indonesia Pilih Jadi 'Anak Baik'
Melihat jejak tersebut, bisa dilihat bahwa aneksasi Greenland adalah bagian tak terpisahkan dari entitas ekspansionis AS. Para politisi mereka kompak mendukung rencana tersebut tanpa ada oposisi yang berarti dari perangkat politik resmi yang ada.
Para pemimpin AS yang sukses mencaplok wilayah milik negara lain di antaranya adalah James K. Polk (1845–1849), yang sukses mencaplok Texas, Oregon, dan wilayah luas setelah perang dengan Meksiko.
Selain itu ada William McKinley (1897–1901) yang menguasai Puerto Rico, Guam, dan Filipina, mengubah AS menjadi kekuatan kolonial.
Trump bahkan pernah melegitimasi ambisinya mencaplok Greenland dengan mengacu pada Presiden Harry Truman, yang pada tahun 1946 sempat memunculkan ide menbayar Denmark senilai US$100 juta dalam bentuk emas, untuk membeli Greenland.
Saat itu rencana Truman tak berjalan. Kali ini jika Trump bisa mencaplok Greenland, maka entitas neo-kolonial tersebut akan menjadi negara dengan wilayah daratan terbesar di dunia, menggeser Kanada. (ags)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance