
Oleh Harun Al-Rasyid Lubis. Guru Besar Rekayasa Sistem Transportasi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Whoosh menjadi ujian penting karena proyek ini berada di persimpangan antara investasi korporasi dan infrastruktur strategis.
Restrukturisasi tenor yang sangat panjang dapat membantu menurunkan tekanan pembayaran tahunan, tetapi memperpanjang tenor tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan struktur.
Utang yang lebih panjang tetap membutuhkan aset yang terkelola baik, operator yang efisien, mekanisme pembayaran yang jelas, dan pertanggungjawaban fiskal yang konsisten.
Lebih jauh, pembenahan Whoosh seharusnya menjadi momentum untuk menyempurnakan hubungan negara dengan jaringan kereta konvensional.
Pada jaringan eksisting pun hubungan antara negara sebagai pemilik banyak prasarana perkeretaapian dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator yang sekaligus menjalankan tugas perawatan masih perlu dibuat semakin transparan.
Baca Juga: Posisi Danantara dan APBN dalam Whoosh (1): Pentingnya Pemisahan Aset, Operasi dan Risiko Fiskal
Public service obligation (PSO), infrastructure maintenance and operation (IMO), dan track access charge (TAC) seharusnya bukan sekadar terminologi regulasi, tetapi menjadi sistem akuntansi dan kontrak kinerja yang benar-benar bekerja.
Dengan demikian, ada dua reformasi yang dapat berjalan sekaligus. Pertama, reformasi struktur Whoosh: pisahkan dengan jernih aset prasarana, operasi kereta, dan kewajiban pembiayaan.
Kedua, reformasi tata kelola perkeretaapian nasional: buat pola hubungan pemilik aset, pengelola prasarana, operator, dan pemerintah lebih konsisten di jaringan cepat maupun konvensional.
Untuk memastikan reformasi tersebut kredibel, valuasi aset dan kewajiban sebaiknya dilakukan secara independen. Nilai buku, nilai ekonomi, dan nilai strategis tidak selalu sama.
Infrastruktur berumur panjang dapat mempunyai manfaat sosial yang besar walaupun arus kas finansialnya terbatas. Sebaliknya, label “strategis” tidak boleh menjadi alasan untuk meniadakan disiplin biaya.
Karena itu evaluasi perlu membedakan kelayakan finansial operator, kelayakan ekonomi prasarana, dan justifikasi dukungan fiskal.
Pemisahan tiga ukuran ini akan membantu menghindari perdebatan yang selama ini sering mencampurkan manfaat ekonomi dengan kemampuan membayar utang.
Transparansi Menjadi Isu Sentral

Transparansi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik dan investor. Danantara membutuhkan kredibilitas sebagai pengelola investasi, Kementerian Keuangan membutuhkan kredibilitas fiskal, dan operator membutuhkan disiplin komersial.
Ketiganya justru akan lebih kuat bila tanggung jawab tidak tumpang tindih.
Garis pemisah yang jelas bukan berarti lembaga-lembaga tersebut bekerja sendiri-sendiri; sebaliknya, ia membuat koordinasi lebih sehat karena setiap pihak mengetahui mandat, risiko, dan ukuran keberhasilannya.
Langkah ini menjadi semakin penting sebelum perpanjangan ke Surabaya diputuskan.
Perpanjangan tidak seharusnya dimulai dengan pertanyaan siapa yang akan membangun jalurnya, tetapi dengan pertanyaan struktur kelembagaan seperti apa yang kita inginkan untuk jaringan kereta cepat Jawa.
Tentang visi kereta cepat Pulau Jawa dapat dibaca di link berikut.
Setiap tahap baru perlu diuji secara independen dari sisi permintaan, manfaat ekonomi, eksposur fiskal, risiko valuta asing, lingkungan, ketersediaan lahan, dan integrasi dengan transportasi regional maupun pengembangan perkotaan dan kota-kota baru di Pulau Jawa.
Restrukturisasi Whoosh Perkuat Visi Kereta Cepat Jawa

Membenahi Whoosh sebelum memperpanjangnya bukan berarti mengurangi visi kereta cepat Jawa. Justru sebaliknya, restrukturisasi yang baik akan membuat visi tersebut lebih kredibel.
Kita perlu mengetahui secara transparan siapa memiliki aset, siapa merawatnya, siapa menjalankan kereta, siapa menggunakan jalur, siapa membayar siapa, dan kapan uang negara memang diperlukan.
Kasus Whoosh akhirnya bukan hanya tentang satu proyek kereta cepat. Ia adalah uji tata kelola bagi arsitektur ekonomi baru Indonesia. Negara perlu instrumen investasi yang kuat seperti Danantara, tetapi juga membutuhkan disiplin fiskal yang jelas.
Negara dapat memiliki infrastruktur strategis, tetapi operatornya harus tetap dinilai secara profesional. Negara dapat mendukung proyek berumur panjang, tetapi dukungan tersebut harus terlihat dalam neraca, kontrak, dan indikator kinerja.
Restrukturisasi utang mungkin membantu menyelesaikan tekanan neraca hari ini.
Restrukturisasi kelembagaan—memisahkan prasarana, operasi, dan risiko fiskal—dapat memberi fondasi yang jauh lebih kuat untuk membangun perkeretaapian nasional beberapa generasi ke depan.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.