Jakarta, The Stance – Atlet asal Australia, Joanna Wietrzyk, disorot lantaran buang air besar di celana saat ajang Ulike HYROX Beijing, China, Sabtu, 12 September 2026. Padahal, dia adalah atlet yang menempati peringkat satu dunia kategori tunggal putri.
Dalam foto-foto dan video yang beredar, tinja terlihat melumuri lengan dan kaki Joanna. Namun, Perempuan berusia 22 tahun yang bertanding di kategori Women's Pro itu memilih terus melanjutkan pertandingan dan akhirnya keluar jadi pemenang.
Kejadian itu kemudian memicu perdebatan di media sosial. Sebagian mempertanyakan keputusan atlet untuk tetap melanjutkan pertandingan, sementara kritik lainnya ditujukan kepada penyelenggara karena pertandingan tidak langsung dihentikan.
Publik menilai keputusan Joanna maupun penyelenggara untuk meneruskan pertandingan berpotensi membahayakan peserta lain. Joanna terdokumentasi menyelesaikan semua misi, meski kotoran mengenai paha, kaki hingga lengan.
Feses yang mengotori karpet hingga perangkat olahraga lainnya itu dianggap menyebarkan kuman dan menimbulkan penyakit serius. Kekhawatiran ini muncul meski pihak HYROX mengeklaim segera mengganti karpet dan membersihkan peralatan.
HYROX pun langsung melakukan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan acara dan mengubah buku peraturan setelah insiden tersebut.
Dalam aturan terbaru, race director berhak menghentikan peserta jika darah, muntahan, urin, atau feses menimbulkan risiko keselamatan atau kontaminasi bagi dirinya maupun peserta lain.
Minta Maaf dan Serahkan Gelar Juaranya

Akibat insiden ini, Joanna memilih untuk melepaskan gelarnya. Dia secara resmi menyampaikan permohonan maaf dan menyatakan mundur secara retroaktif dari kompetisi Hyrox di Beijing.
Dirinya mengakui seharusnya mengambil keputusan berbeda saat kejadian berlangsung.
"Saya tahu tindakan saya berdampak lebih dari sekadar diri saya sendiri, dan saya dengan tulus meminta maaf kepada semua orang yang terdampak," ujar Joanna dalam pernyataan resminya, pada Kamis 18 September 2026.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf khusus kepada masyarakat Tiongkok, sesama kompetitor, penonton, dan penyelenggara Hyrox.
Melalui unggahan di media sosialnya, Joanna menjelaskan bahwa dirinya merasa "sehat dan bugar sepenuhnya" saat memulai balapan dan tidak memiliki alasan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan apa pun.
Namun, situasi tak terduga terjadi di tengah lintasan. "Saya menyesali keputusan untuk tidak segera keluar dari lintasan. Saya menyadari bahwa saya seharusnya membuat pilihan yang berbeda," ujarnya.
Dia pribadi bertanggung jawab atas keputusan untuk melanjutkan lomba dan sangat menyesal atas ketidaknyamanan serta gangguan yang ditimbulkan.
Kecirit atau BAB saat mengikuti Hyrox secara medis memang mungkin terjadi. Seperti halnya maraton dan triatlon, Hyrox termasuk olahraga dengan intensitas tinggi yang menuntut tubuh bekerja keras hingga batas kemampuan.
Hyrox Terbitkan Aturan Baru bagi Peserta BAB

Organisasi kebugaran indoor HYROX langsung gerak cepat setelah menerima gelombang kritik seusai insiden cepirit Joanna yang tetap melanjutkan lomba saat ajang Ulike HYROX Beijing, China, Sabtu 12 September 2026.
Co-founder HYROX Moritz Furste menyampaikan permintaan maaf atas penanganan insiden tersebut. la mengakui pihaknya semestinya segera turun tangan ketika kejadian berlangsung.
"Pada akhirnya, merupakan tugas saya untuk mengantisipasi kemungkinan insiden seperti ini, dan saya tidak melakukannya," kata Furste dilansir laman ESPN, Kamis 17 September 2026.
Dia menambahkan HYROX telah melakukan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan acara dan mengubah buku peraturan setelah insiden tersebut.
Dalam aturan terbaru, race director berhak menghentikan peserta jika darah, muntahan, urin, atau feses memicu risiko keselamatan atau kontaminasi bagi dirinya maupun peserta lain.
Peserta yang dihentikan atas dasar medis akan tercatat dalam klasemen dengan status tidak menyelesaikan lomba (did not finish/DNF).
HYROX World mengatakan prosedur medis dan penanganan kontaminasi biologis sebenarnya sudah tersedia sebelum insiden di Beijing. Namun, organisasi mengakui terjadi kebingungan dalam penerapannya.
"Protokol yang dirancang untuk kompetisi elite dan partisipasi massal menjadi kabur, sehingga menimbulkan ketidakjelasan mengenai bagaimana protokol tersebut diterapkan dan dipahami," kata HYROX World.
Baca Juga: Demam Hyrox di Indonesia, Olahraga Kuli Versi Fancy Masyarakat Urban
HYROX juga mengumumkan pengembalian biaya pendaftaran bagi atlet yang terdampak oleh insiden di ajang itu. Refund berlaku bagi peserta yang sudah mulai berlomba sebelum pukul 14.40, tetapi belum menyelesaikan lomba ketika insiden terjadi.
Refund juga diberikan kepada seluruh atlet yang heat-nya dimulai antara pukul 14.40 hingga 20.40.
Sebelumnya, Keputusan panitia yang membiarkan Joanna melanjutkan perlombaan memicu kritik karena kotoran yang berceceran berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi.
Terlebih, HYROX menggunakan lintasan dan sejumlah peralatan yang sama secara bergantian oleh para peserta.
Hyrox China mengeklaim pihaknya langsung membersihkan dan disinfeksi area perlombaan yang terkena kotoran. Alat yang terkena kotoran juga dikeluarkan dari area perlombaan, dan limbah ditangani sesuai prosedur pengelolaan sampah setempat.
Olahraga Intensitas Tinggi, BAB Saat Hyrox Bisa Mungkin Terjadi

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Kasim Rasjidi, mengatakan insiden Joanna tersebut dipengaruhi sejumlah faktor salah satunya konsumsi kopi sebelum perlombaan.
Kopi dapat memicu gerakan usus sehingga pada kondisi tertentu membuat seseorang lebih mudah buang air besar ketika Hyrox.
"Hyrox itu termasuk olahraga yang cukup berat atau intensitas tinggi. Apalagi dalam ajang race seperti ini, semua orang ingin mencatatkan waktu terbaiknya, jadi badan dia di-push untuk hasil terbaik," kata dr Kasim saat dihubungi The Stance.
Faktor lain adalah konsumsi makanan berserat dalam jumlah besar. la mengatakan porsi besar salad maupun sayuran lain sebelum lomba dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami dorongan untuk buang air besar ketika race.
"Apalagi kalau sebelumnya minum kopi yang memicu gerakan usus, makan berserat secara masif sehingga ketika lari akan mudah terdorong ke bawah," kata dr Kasim.
Kemungkinan lainnya adalah peserta sedang mengalami infeksi yang gejalanya baru muncul saat race. Karena itu, dr Kasim menyarankan peserta Hyrox untuk melakukan antisipasi dengan mengenali kondisi tubuhnya masing-masing.
Salah satunya, dengan tidak mengonsumsi kopi sebelum perlombaan. Peserta juga disarankan menghindari makanan berserat seperti salad atau sayuran dalam jumlah besar.
"Menu pedas dan makanan tinggi lemak juga sebaiknya dihindari. Hal itu perlu diperhatikan apabila seseorang sedang mengonsumsi obat penghambat penyerapan lemak yang saat ini sedang tren," kata dr Kasim.
Tidak lupa, Ia juga menyarankan agar peserta sebaiknya keluar dari arena jika mengalami insiden cepirit atau ingin BAB. "Yang perlu dilakukan kalau mengalami diare saat HYROX, tidak ada cara lain kecuali keluar dari arena," kata dia.
Puma Hapus Koleksi Olahraga Joanna

Seusai insiden tersebut, Puma mengambil langkah mengejutkan dengan menghapus koleksi hasil kerja sama dengan atlet HYROX Joanna Wietrzyk dari toko online global mereka.
Sejumlah produk yang menggunakan nama Joanna, termasuk pakaian olahraga dan sepatu performa tinggi, juga dilaporkan sudah tidak tersedia.
Langkah Puma sebagai merek sportswear yang mensponsori Joanna diambil setelah sang atlet jadi sorotan dunia akibat insiden dalam kompetisi HYROX Pro Beijing.
Seperti diberitakan The Daily Mail, produk yang menggunakan nama Joanna sudah tidak ditemukan di toko online PUMA sejak Rabu 16 September 2026. Belum ada keterangan resmi dari PUMA maupun Joanna mengenai alasan penghapusan koleksi itu.
Namun kuat dugaan penghapusan koleksi olahraga ini terkait insiden BAB Joanna di ajang Hyrox Beijing, yang membawa brand Puma. Beredar meme di media sosial yang menyindir dengan menyarankan puma memproduksi pampers penahan BAB.
Sebagai informasi, HYROX adalah kompetisi kebugaran indoor yang menggabungkan 8 kali lari sejauh satu kilometer dengan 8 stasiun latihan dalam 1 lintasan. Para atlet menggunakan peralatan yang tersedia di setiap stasiun secara bergantian.
Berbeda dari lomba halang rintang maupun CrossFit, HYROX menggunakan format dasar yang sama dalam penyelenggaraan di berbagai negara.
Format tersebut memungkinkan peserta amatir dan atlet elite membandingkan catatan waktu mereka. Kompetisi HYROX pertama kali digelar di Hamburg pada 2017 dan sejak saat itu berkembang pesat. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance