Jakarta, The Stance – Klub Italia Como 1907 memberi kejutan pada matchday pertama Liga Champions Eropa (UCL) 2026/2027.

Berstatus sebagai salah satu tim debutan, I Lariani, julukan Como, menang mutlak 4-1 atas RB Leipzig, salah satu tim papan atas Liga Jerman (Bundesliga) pada laga yang berlangsung di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como Jumat 11 September 2026.

Pada musim lalu Como menggemparkan Liga Italia (Serie A) 2025/2026 dengan merebut tiket lolos ke UCL untuk pertama kali sepanjang sejarah klub. Ia finis peringkat 4 di klasemen akhir Serie A, menggeser 2 klub elite seperti AC Milan dan Juventus.

Ini merupakan pencapaian yang luar biasa karena pada masa lalu Como banyak diwarnai perjuangan keras di kompetisi strata bawah. I Lariani baru mencicipi atmosfer Serie A sebanyak 15 musim, dan sempat terlempar ke Serie D pada 2005 dan 2017.

Titik balik Como 1907 terjadi pada April 2019. Sent Entertainment Ltd., perusahaan berbasis di London yang terafiliasi dengan Djarum Group milik keluarga Hartono, mengambil alih kepemilikan klub yang hampir bangkrut untuk ketiga kalinya tersebut.

Kini, setelah mengejutkan Italia dalam beberapa tahun terakhir, klub berusia 112 tahun tersebut bersiap tampil di panggung terbesar sepak bola Eropa dengan dukungan penuh dari pemilik asal Indonesia.

Sejarah Como 1907

Hartono Bersaudara

Pencapaian Como yang berhasil finish di posisi 4 klasemen Seri A 2025-2026 menjadi sorotan karena klub tersebut sempat terpuruk hingga bermain di kasta amatir sepak bola Italia sebelum diakuisisi keluarga Hartono pada 2019.

Saat itu, Como masih berlaga di Serie D dan berada dalam kondisi sulit usai mengalami kebangkrutan beberapa tahun sebelumnya.

Como sendiri merupakan salah satu klub bersejarah di Italia. Pada era 1980-an dan 1990-an, mereka dijuluki “Pabrik Italia” karena melahirkan sejumlah pemain besar seperti Gianluca Zambrotta, Marco Tardelli, dan Stefano Borgonovo.

Klub yang didirikan pada tahun 1907 dan bermarkas di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como, Italia ini sempat bangkrut dua kali dalam 2 dekade terakhir, dan terpuruk hingga ke kasta amatir Serie D akibat tumpukan utang dan gaji pemain yang tak dibayar.

Melalui perusahaan SENT Entertainment, pada tahun 2019 keluarga Hartono membeli Como dengan nilai yang terbilang murah, yakni sekitar 850 ribu euro atau setara Rp7,5 miliar waktu itu.

Selain mengakuisisi klub, mereka juga melunasi utang Como sebesar 150 ribu euro.

Investasi tersebut mengejutkan banyak pihak, termasuk pendukung Como. Fans sempat penasaran dengan sosok keluarga Hartono yang dikenal sebagai pengusaha besar asal Indonesia di bidang perbankan dan industri rokok.

Baca Juga: Tolak Tawaran MLS dan Saudi, Mohamed Salah Gabung Klub Bola Pro Palestina di Turki

Setelah proses akuisisi selesai, keluarga Hartono menunjuk Michael Gandler untuk memimpin pengelolaan klub. Michael sebelumnya dikenal pernah bekerja di Inter Milan saat klub tersebut dimiliki Erick Thohir.

Di bawah kepemimpinan manajemen baru, Como perlahan bangkit. Klub yang berdiri sejak 1907 itu mulai memperbaiki fasilitas stadion, pusat latihan, hingga pengembangan akademi pemain muda.

Perjalanan Como menuju papan atas sepak bola Italia berlangsung cukup cepat. Setelah promosi ke Serie C, mereka naik lagi ke Serie B dan akhirnya kembali ke Serie A pada 2024, setelah 21 tahun absen.

Kebangkitan Como semakin terlihat ketika Cesc Fabregas dipercaya menangani tim. Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu sukses membawa Como memainkan sepak bola modern dengan gaya menyerang dan penguasaan bola.

Pada musim 2025-2026, Como tampil mengejutkan dengan beberapa kali mengalahkan tim besar Serie A. Konsistensi tersebut membawa mereka finis di zona Liga Champions.

Awal Mula Beli Como Untuk Konten Dokumenter

Garuda Select PSSI

Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso mengatakan sepak bola dan bisnis menjadi visi yang dibawa Djarum. Ia tak menampik jika awalnya membeli Como 1907 hanya untuk kebutuhan konten atau tayangan dokumenter untuk platform Mola TV milik Djarum.

Klub yang saat itu bermain di kasta rendah Liga Italia ini diproyeksikan sebagai rumah atau jembatan bagi program "Garuda Select" agar pemain muda Indonesia bisa meniti karier di Eropa.

"Ya. Kami pernah membuat acara tentang tim nasional junior Indonesia, yang memiliki pangsa penonton yang sangat besar," kata Mirwan.

Pebisnis asal Indonesia itu mengatakan jika awalnya Como 1907 dipakai untuk memperkenalkan sepak bola Italia kepada anak-anak di Indonesia.

"Awalnya, idenya adalah untuk memperkenalkan anak-anak pada sepak bola Italia." ujarnya. Namun, karena faktor tertentu, ia memutuskan untuk tidak melanjutkannya dan menggeser ke sisi bisnis dengan basis olahraga.

Tetapi, lanjut dia, ketika Como promosi ke Serie C, level teknis mereka menjadi tidak berkelanjutan. "Kami tidak dapat menutupi biayanya. Namun kami melihat potensi untuk bisnis olahraga," tambahnya.

Mirwan mengakui bukan perkara mudah mengelola sebuah klub kecil di tengah keterbatasan. Apalagi klub ini tidak memiliki basis pendukung yang besar. Tercatat, kota Como hanya dihuni sekitar 85 ribu orang.

"Pada awalnya, sebagian besar orang di Como mendukung tim-tim seperti seperti Inter, Milan, dan Juventus." ungkapnya.

Terinspirasi Danau Como dalam Kembangkan Bisnis

Danau Como

Menghadapi persoalan yang membelit Como, Mirwan mengaku mendapat inspirasi dari danau yang berada di pinggiran kota dan bertekad untuk membangun "Como" lebih dari sekedar klub sepak bola.

"Kami bertanya pada diri sendiri, 'Apa yang terkenal dari Como, selain sepak bola? Danau di sana, jadi mari kita bangun semuanya di sekitar itu,'" tandasnya.

Ide tersebut tampaknya berhasil dengan membangun Como menjadi kota wisata premium yang menguntungkan di luar konteks sepak bola.

"Kami memiliki 5 juta wisatawan yang datang ke danau setiap tahun. Jadi kami terjun ke bisnis ritel, produk konsumen seperti bir, pakaian, perkemahan musim panas, operator tur."

Perseroan, lanjut dia, berinvestasi untuk menciptakan perusahaan ritel yang mengembangkan merchandise berdasarkan Danau Como dan bukan hanya sepak bola Como.

Faktanya, strategi itu berjalan dan menjadi salah satu sumber pemasukan di luar merchandise klub yang dijual. "Dan ini berhasil dengan sangat baik sehingga, saat ini, jersey Como hanya mewakili 40% dari pendapatan merchandise kami."

"Kami juga menyadari bahwa divisi ritel kami, dengan Rhude sebagai mitra merek, memungkinkan kami untuk tumbuh secara global lebih cepat daripada yang bisa dilakukan Como sendiri," jelasnya.

Mirwan mencoba memperlebar pangsa pasar dengan menggandeng sejumlah klub untuk menjadi mitra bisnis di bidang ritel. Pendapatan Como pun melesat dari US$7 juta sewaktu di Seri B, menjadi US$100 juta per musimnya setelah masuk ke Seri A.

Sinergi Solid Manajemen, Pelatih, Pemain dan Suporter

Mirwan Suwarso

Keberhasilan Como bersaing di papan atas Serie A dalam 2 musim terakhir tidak lepas dari sinergi yang solid antara manajemen klub, tim pelatih, dan pemain. Selain itu, Como juga membangun hubungan yang baik dengan para suporter tim.

Puncaknya terjadi pada laga perdana UCL 2026/2027 melawan Leipzig, ketika jajaran petinggi klub memberikan kursi VIP kepada fans lansia sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas mereka mendukung Como selama ini.

Selain itu, manajemen Como terbilang tidak pelit menggelontorkan dana untuk membangun tim. Dalam beberapa musim teakhir, Como aktif merekrut pemain potensial seperti Nico Paz, Martin Baturina, Jean Butez, dan Lucas Da Cunha.

Lalu ketika bursa transfer awal musim ini, Como memperkuat kedalaman skuad dengan menggaet pemain berpengalaman seperti Robert Sanchez, Trevoh Chalobah, Moise Kean, Yan Couto, hingga Samuele Ricci.

Como memang tidak banyak memiliki pemain asal Italia, kendati main di Serie A. Selain Edoardo Goldaniga, hanya ada Mauro Vigorito (kiper) yang berstatus pemain Italia di skuad utama klub milik orang Indonesia itu.

Kebangkitan Como semakin terlihat ketika Cesc Fabregas dipercaya menangani tim. Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu sukses membawa Como memainkan sepak bola modern dengan gaya menyerang dan penguasaan bola.

Ia mampu mengombinasikan para pemain kunci lama seperti Nico Paz dengan sejumlah rekrutan baru, seperti Martin Baturina dan Assane Diao.

Selain itu, Fabregas berhasil membangun gaya bermain Como yang agresif, tetapi tetap disiplin saat bertahan. Taktik ini relatif mendobrak kultur permainan Liga Italia yang identik dengan mengandalkan skema serangan balik.

Peluang Como di Kompetisi Eropa

Como

Setelah mampu menjadi kuda hitam di Seri A Italia, kira-kira mampukah Como mempertahankan konsistensinya dan giliran mengguncang Liga Champions Eropa ?.

Menarik ditunggu, namun ujian sebenarnya baru dimulai, karena Como akan berjumpa dengan deretan lawan berat, seperti: PSG, Barcelona, juga Manchester United. Ketiga tim tersebut sudah sangat kenyang pengalaman dalam persaingan di Liga Champions.

Selain itu, Feyenoord dan Real Betis bakal menjadi lawan yang cukup tangguh bagi Como. Kedua tim tersebut berstatus sebagai kuda hitam yang punya bekal pengalaman bertanding di kompetisi Eropa dalam beberapa musim terakhir.

Peluang I Lariani untuk kembali memetik poin penuh terbuka lebar saat bertemu Lens dan AEK Athens. Kedua rival itu datang dari pot undian yang sama dengan Como, yaitu pot 4 yang berisikan tim non-unggulan.

Fabregas pun menekankan pentingnya adaptasi cepat sewaktu bersua tim-tim kuat sebagai tolok ukur kemampuan mereka. Mantan Punggawa Arsenal itu yakin timnya masih memiliki ruang untuk bisa lebih berkembang.

“Dalam beberapa fase kami adalah tim yang sangat muda dan kami masih membangun momentum dari banyak hal. Kami harus terus melangkah karena kami memiliki laga besar lainnya." ucap Cesc Fabregas dalam wawancara di laman resmi UEFA. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance