Jakarta, The Stance – Olahraga kebugaran Hyrox sedang naik daun di Indonesia. Apalagi kompetisi kebugaran ini untuk pertama kalinya digelar di Indonesia pada 27-28 Juni 2026.

Sebanyak 11.500 peserta ambil bagian dalam fitness race ini, menjadikannya sebagai Hyrox race dengan jumlah peserta terbanyak di Asia Pasifik.

Selain biaya persiapan dan pendaftaran hyrox, keikutsertaan sejumlah selebriti di ajang ini membuat Hyrox jadi perbincangan.

Alhasil, algoritma media sosial pun dibanjiri dengan konten-konten seputar Hyrox sampai muncul candaan di masyarakat yang menyebut kompetisi fitness racing ini sebagai olahraga kuli versi fancy alias mewah.

Oleh netizen, gerakan dalam perlombaan ini dinilai menyerupai aktivitas fisik pekerja alias kuli bangunan. Sandbag lunges misalnya, dianggap mirip dengan gerakan memikul sak semen.

Meski demikian, dibalik visual-visual yang relatif menarik, sejumlah pihak melihat adanya potensi FOMO alias ikut-ikutan di kalangan pesertanya.

Meskipun bermanfaat, pakar kesehatan mengingatkan bahwa olahraga berat ini memerlukan persiapan fisik dan mental yang matang. Karena tidak semua orang langsung siap untuk mengikuti kompetisi kebugaran intensitas tinggi.

Awal Mula Olahraga Hyrox

Hyrox

Hyrox merupakan format kompetisi kebugaran global yang memadukan dua unsur utama. Unsur tersebut adalah olahraga lari dan latihan fungsional.

Hyrox seolah hadir sebagai jawaban buat pecinta olahraga kebugaran yang haus akan kompetisi functional fitness yang sesungguhnya.

Format kompetisi ini diterapkan secara seragam di seluruh dunia. Para peserta wajib berlari sepanjang 1 kilometer yang kemudian diikuti dengan satu jenis latihan fungsional.

Pola tersebut harus diulang sebanyak 8 kali oleh peserta. Secara keseluruhan, kompetisi ini menyajikan total lari 8 kilometer dan 8 macam latihan kekuatan.

Terdapat 8 tantangan latihan fungsional yang wajib diselesaikan secepat mungkin oleh peserta. Tantangan tersebut meliputi SkiErg, Sled Push, Sled Pull, dan Burpee Broad Jumps.

Olahraga ini pertama kali diperkenalkan di Hamburg, Jerman, pada 2017 oleh Moritz Fürste pada 2017, pemain hoki Olimpiade Jerman paling berprestasi. Ia membangun bisnisnya dari satu tempat latihan ke tempat latihan lainnya.

Semua dengan pembiayaan dari kantong pribadi, hingga berhasil mengubah Hyrox menjadi salah satu merek olahraga yang paling banyak dibicarakan di dunia.

Hyrox kini telah berkembang ke lebih dari 80 kota di dunia dengan ratusan ribu peserta setiap tahunnya.

Gaya Hidup Baru Masyarakat Urban

Hyrox Jakarta

Masuknya Hyrox ke Indonesia tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tapi juga mencerminkan pergeseran gaya hidup masyarakat urban, yang semakin sadar akan pentingnya kebugaran fisik.

Dengan kombinasi latihan yang terukur dan komunitas yang terus berkembang, Hyrox berpotensi menjadi salah satu olahraga populer di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi banyak peserta, ajang ini bukan sekadar perlombaan, melainkan juga target pribadi untuk mencapai kondisi fisik yang lebih optimal setelah rutin latihan kebugaran di gym.

Popularitas Hyrox dipicu oleh sejumlah faktor. Pertama, sebagai booster kesehatan pascapandemi dimana orang lebih sadar pentingnya stamina dan kekuatan.

Kedua, komunitas besar & suportif, dimana banyak gym mengadopsi program HYROX-style. Ketiga, Hyrox cocok untuk semua level dimana ada 4 kategori, yakni Open, Pro, Relay, hingga Doubles.

Di Asia Tenggara, khususnya Jakarta, tren ini begitu nyata. Kompetisi-kompetisi lokal bertemakan functional fitness selalu penuh sesak, membuktikan bahwa hybrid athleticism bukan sekadar tren.

Mengutip CNBC, Hyrox memperkirakan dapat menghasilkan pendapatan tahun ini sekitar US$270 juta (Rp4,86 triliun). Hasil ini akan diperoleh dari penyelenggaraan 121 acara di 34 negara dengan target sebanyak 1,5 juta peserta.

Baca Juga: Nasib Warga, Mau Sehat tapi Fasilitas Olahraga Dipajaki 10 Persen

Animo terhadap kompetisi ini cukup tinggi. Beberapa pekan sebelum pertandingan dimulai, kuota tiket pertandingan sudah ludes. Padahal, kocek yang perlu dirogoh untuk mengikuti pertandingan mencapai jutaan rupiah.

Biaya pendaftaran untuk ikut kompetisi Hyrox juga tak murah, di kisaran Rp1,8 juta-2,5 juta per orang. Peserta juga harus merogoh kocek cukup dalam untuk persiapan yang telah dirancang berbulan-bulan sebelumnya.

Ada biaya keanggotaan gym, program latihan khusus, sepatu, hingga nutrisi yang jika ditotal dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.

Meski demikian, Andien (42), salah satu peserta Hyrox kategori Mixed Doubles Open tak menganggapnya sebagai beban. Baginya, pengeluaran tersebut sepadan dengan hobi yang ia tekuni sekaligus investasi untuk menjaga kesehatan.

"Memang dasarnya saya hobi olahraga, jadi enggak masalah keluar budget buat Hyrox. Beli sepatu, tiket, latihan, dan lain-lain. Yang penting happy, hobinya tersalurkan, sekalian bikin sehat juga," ujarnya.

Sebelum mengikuti Hyrox, dia rutin berolahraga seperti fitness, maraton, hingga trail run. Bekal itu membuatnya hanya perlu menjalani persiapan sekitar dua bulan sebelum akhirnya berdiri di garis start.

Berbeda dari sebagian peserta yang mengejar catatan waktu tertentu, Dedi memilih menikmati prosesnya. "Enggak ada target waktu. Yang penting bisa finish strong. Buat saya ini lebih ke selebrasi setelah latihan," ungkapnya.

Benarkah Hyrox Olahraga Kuli ?

dr Andhika Raspati, SpKO

Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andhika Raspati, SpKO mengatakan gerakan-gerakan yang ada di Hyrox mengadopsi prinsip functional training.

Sesuai namanya, gerakan-gerakan dalam functional training merupakan gerakan yang 'fungsional' dalam aktivitas sehari-hari, seperti duduk-berdiri, mengangkat barang, dan meloncat.

Berbeda dari bodybuilding konvensional yang mengisolasi satu otot dan persendian (seperti biceps curl), latihan fungsional cenderung melatih tubuh sebagai satu kesatuan. Dalam satu gerakan, ada beberapa kelompok otot dan persendian yang terlibat.

"Hyrox dia lebih hybrid, dia bagus buat melatih secara bersamaan baik si kardio respirasinya atau jantung-paru, tapi di saat itu juga melatih otot," kata dr Dhika. "Di satu latihan bisa mendapat dua benefit. Kardio dapet, strength training dapet."

Disinggung soal stigma Hyrox sebagai olahraga kuli, Dhika mengatakan meskipun kedua aktivitas memiliki gerakan-gerakan yang mirip, tentu saja tidak bisa serta merta membandingkan Hyrox dengan aktivitas pekerja bangunan.

"Gerakannya mirip-mirip, tapi kan namanya latihan fisik nggak bisa disamain dengan kerjaan. Kalau kuli kan melempar sak semen, kan seperlunya saja. Artinya, yang dibutuhkan dua sak semen, ya dua sak semen," ujar dr dhika.

"Kalau latihan sirkuit kayak Hyrox itu kan jelas ada repetisinya, bebannya juga harus ditentukan, ngejar berapa repetisi, berapa setnya kan semuanya terukur dan terstandarisasi," tambahnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan bahwa meski terbuka bagi semua orang, Hyrox merupakan olahraga berat yang perlu persiapan matang, baik itu dari segi fisik maupun mental.

Risiko Heatstroke dan Jantung Kolaps

Ilustrasi olahraga

Salah satu risiko yang mungkin terjadi bagi para peserta Hyrox adalah ancaman heatstroke.

Dokter spesialis olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO, SubspALK(K) menyebutkan, meski olahraga tersebut dilakukan di dalam ruangan berpendingin, olahraga ini memacu gerak tubuh yang bermuara pada dehidrasi.

Dari kasus ini, panas tubuh yang tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup akan mendorong ke situasi heatstroke.

"Dari persepsi saya, meskipun itu kejadian di dalam ruangan, tetap saja risiko heat stroke itu ada. Kemarin ada beberapa kasus heat stroke atau heat-related ilness, di mana suhunya sangat tinggi," kata dr Andi.

Risiko lain adalah jantung kolpas. dr Andi menjelaskan risiko ini akan muncul pada orang-orang yang hanya tergiur tren tanpa melihat kekuatan diri sendiri.

Peserta yang jarang melakukan olahraga bahkan penganut gaya hidup sedenter benar-benar diperingatkan oleh para ahli untuk memikirkan kembali jika ingin ikut acara tersebut.

"Olahraga ini akan memacu tubuh dengan olahraga intensitas tinggi yang otomatis mendorong jantung bekerja lebih keras," jelasnya. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance