Jakarta, The Stance – Indonesia menghadapi ancaman kesehatan masyarakat serius, yang sering disebut sebagai "pandemi senyap" penyakit tidak menular (PTM). Penyebabnya? Kopi kekinian berkomposisi gula aren.
Di tengah menjamurnya tren gaya hidup moderen, konsumsi minuman kekinian khususnya kopi susu gula aren telah menjadi rutinitas harian yang dianggap lumrah, bahkan sering kali dilabeli sebagai pilihan yang lebih "sehat".
Imaji ini didorong oleh anggapan bahwa gula aren adalah alternatif alami yang lebih baik dari gula pasir putih. Namun, di balik imaji tersebut, tersimpan risiko metabolik yang dapat melumpuhkan sistem kesehatan nasional.
Minuman kopi gula aren modern bukan sekadar kopi biasa, melainkan sebuah kombinasi bahan yang merusak metabolisme jika dikonsumsi rutin.
Alami Tak Berarti Bebas Gula

Gula aren memang berasal dari nira pohon aren yang diproses secara tradisional dengan pemurnian minimal, sehingga menyisakan sedikit mineral seperti kalium dan magnesium.
Namun kandungan nutrisi ini sangat kecil dan tak memberikan manfaat kesehatan signifikan jika dibandingkan dengan kandungan gulanya, menjadi keamanan palsu bagi konsumen, menurut pakar keamanan kesehatan global Dicky Budiman.
"Ini cenderung kepada false sense of security. Meskipun memang publik secara luas mempercayai bahwa gula aren itu dikatakan memiliki indeks glikemik rendah,” ujarnya saat dihubungi The Stance, Rabu 10 Juni 2026.
Hanya saja, studi terbaru menunjukkan fakta lain. Merujuk pada studi terbaru di jurnal American Nutrition (2022), Dicky menyebut indeks glikemik gula aren bisa mencapai 98,71, atau tidak berbeda secara signifikan dari gula pasir.
Dicky menyebut minuman ini sebagai "koktail risiko metabolik multi komponen". Di tiap gelasnya, terkandung 30-60 gram gula, atau melampaui batas aman konsumsi gula harian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).
Bahayanya tidak berhenti pada gula saja. Penggunaan krimer nabati atau susu tinggi lemak menciptakan lonjakan trigliserida pascaprandial yang memicu risiko dislipidemia dan penyakit jantung koroner.
Selain itu, dosis kafein yang tinggi dapat meningkatkan kadar kortisol akut yang menyebabkan resistensi insulin transien.
Kombinasi gula tinggi, lemak jenuh, dan kafein ini menghasilkan beban inflamasi sistemik yang jauh lebih besar daripada komponen-komponennya secara terpisah, yang berujung pada obesitas sentral hingga perlemakan hati.
Waspada Lonjakan Penderita Diabetes

Data menunjukkan penderita diabetes di Indonesia pada 2024 mencapai 20,4 juta jiwa dengan prevalensi 11,3%. Meski penderita didominasi usia di atas 45 tahun, gaya hidup kopi gula aren dan sejenisnya justru memperpanjang prevalensi tersebut.
"Paparan risiko di usia 20-an akan bermanifestasi klinis di usia 40-50-an. Ini inti dari bom waktu yang saya sampaikan di awalnya. Tren kopi gula aren adalah salah satu sumbu yang sedang dinyalakan sebetulnya,” ujar Dicky.
Tanpa intervensi efektif, lanjut dia, jumlah penderita diabetes di Indonesia diperkirakan melonjak menjadi 28,6 juta orang pada 2045. Sistem kesehatan Indonesia saat ini dinilai belum memadai untuk memikul "pandemi penyakit tidak menular ini."
Penyakit katastrofik seperti diabetes menjadi penyedot terbesar anggaran BPJS Kesehatan. Biaya cuci darah akibat komplikasi ginjal diabetes tercatat melonjak dari sekitar Rp6 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024.
Beberapa tips praktis yang bisa dilakukan secara mandiri, mulai dari meminta opsi "less sugar" atau tanpa gula sama sekali saat memesan minuman agar beban glikemik menurun drastis.
Selain itu membatasi frekuensi konsumsi, maksimal 3 atau 4 kali per minggu, dan tidak menjadikannya kebiasaan harian. Selanjutnya menghindari tambahan krimer, sirup, atau topping berlebih yang merupakan "bom kalori".
Masyarakat juga harus membiasakan aktivitas fisik seperti jalan cepat minimal 30 menit per hari untuk membantu metabolisme glukosa setelah makan dan rutin mengecek gula darah, terutama jika memiliki riwayat konsumsi rutin minuman manis.
Dicky mengingatkan masyarakat Indonesia memprioritaskan kesehatan jangka panjang di atas kenikmatan sesaat rasa manis kopi kekinian.
Gula Aren Bukan Solusi Cegah Diabetes

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa sekadar mengganti konsumsi gula bukanlah solusi utama diabetes.
"Sekarang kan suka ada tren ya, mengganti gula pasir menjadi gula aren. Nah itu sebenarnya tidak ada bedanya. Yang penting itu kurangi gula, bukan mengganti gula,” ujarnya sebagaimana dikutip Detik.
Secara kimiawi gula aren tetap mengandung sukrosa dan fruktosa tinggi yang mampu meningkatkan kadar gula darah secara drastis.
Sementara itu Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Roy Valiant Salomo, menilai bahwa cukai terhadap produk minuman berpemanis seharusnya diperluas untuk menjaga ketahanan sistem kesehatan.
“Gula adalah salah satu penyebab utama berbagai penyakit kronis. Dana BPJS saat ini banyak digunakan untuk mengobati penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” ujarnya saat dihubungi The Stance.
Dia menilai masih ada kelemahan struktural di sistem kesehatan Indonesia karena terlalu berorientasi pada tindakan kuratif daripada preventif. Biaya menangani 1 pasien diabetes dengan komplikasi bisa mencapai 8-10 kali lipat dari biaya pencegahan.
Untuk itu, pemerintah mengenakan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) pada semester II 2025 yang diproyeksikan dapat mencegah 3,1 juta kasus baru diabetes dalam 1 dekade dan menghemat beban ekonomi Rp40,6 triliun.
Baca Juga: Label Peringatan Kadar Gula di Produk: Pemerintah Jangan Netral
Namun, kebijakan ini mendapatkan penolakan keras dari pelaku usaha. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengeklaim cukai tersebut akan memicu kenaikan harga produk hingga 30%.
"Kami sudah menjelaskan ke pemerintah bahwa MBDK itu tidak tepat untuk mengatasi NCD (penyakit tidak menular)," paparnya.
Gula aren memang bukan bahan yang otomatis berbahaya selama dikonsumsi dengan bijak. Namun seperti gula pasir, ia tak lantas menjadi "tiket gratis" untuk mengonsumsi rasa manis tanpa kendali.
"Dosis harian kopi gula aren yang dikonsumsi jutaan anak muda Indonesia saat ini sudah berada di zona bahaya. Jadi bukan saatnya kita menunggu krisis untuk bertindak,” papar Dicky.
Pemerintah menegaskan kebijakan MBDK diambil mengikuti kesuksesan negara lain seperti Meksiko dan Inggris yang berhasil menurunkan konsumsi minuman manis secara signifikan setelah penerapan pajak serupa.
Sembari menunggu regulasi lebih kuat, masyarakat harus melakukan langkah mandiri mengontrol asupan gula.
Kemenkes mendorong edukasi dengan sistem Nutri-Level yakni penandaan warna di kemasan untuk membantu konsumen lebih bijak memilih produk. Produk dengan label merah menunjukkan kandungan gula tinggi yang harus dibatasi konsumsinya. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance