Jakarta, The Stance – Gianni Infantino resmi membatalkan rencana menjual sebagian hak komersial Piala Dunia ke investor swasta setelah proposal tersebut memicu penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dan koleganya.
Melalui akun X Federasi Sepakbola Internasional (Fédération Internationale de Football Association/FIFA), Presiden FIFA tersebut mengatakan proposal itu takkan dilanjutkan karena menimbulkan perpecahan yang bertentangan dengan tujuan awal FIFA.
FIFA menekankan bahwa proposal terkait penjualan sebagian saham hak komersial Piala DUnia tersebut tergantung dukungan mayoritas negara anggota FIFA, dengan proses konsultasi bersama dengan Dewan FIFA, para konfederasi, dan stakeholder.
"Setelah mendengarkan dengan saksama seluruh pandangan yang ada, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari seberapa besar dukungan yang ada, tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai," kata Infantino, pada Sabtu Pagi 1 Agustus 2026.
Dia pun mengaku kini berniat "menyatukan kembali semua pihak yang berkepentingan" dalam "semangat kepentingan bersama" bagi sepak bola.
Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia ke Swasta

Sebelumnya, FIFA di bawah Infantino sempat melontarkan ide kontroversial dengan rencana penjualan saham ke pihak swasta.
FIFA berencana membentuk perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola seluruh hak komersial turnamen FIFA, termasuk hak siar, sponsor, lisensi, hingga penjualan tiket Piala Dunia.
Melalui perusahaan tersebut, FIFA ingin melepas sekitar 20% saham ke investor eksternal guna menghimpun dana sebesar US$4,2 miliar atau sekitar Rp75,6 triliun (kurs Rp18.000 per dollar AS).
Skema itu menempatkan valuasi FFE di angka US$20 miliar. Yang bikin tambah kontroversial, investor utama rencana tersebut adalah Thrive Capital, perusahaan investasi yang dipimpin Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Recananya, dana hasil investasi itu akan digunakan untuk meningkatkan anggaran pengembangan sepak bola global menjadi lebih dari US$10 miliar atau sekitar Rp180 triliun dalam empat tahun.
Infantino bahkan menetapkan deadline persetujuan dari negara anggota FIFA pada September. Ia mengiming-imingi dana bantuan pengembangan sepak bola sebesar US$40 juta mulai Januari 2027 bagi negara yang setuju dengan proposal ini.
Nilai itu meningkat dua kali lipat dibanding tawaran awal sebesar US$20 juta.
Siapa negara yang setuju dan tergiur dengan tawaran Giantino tersebut? Salah satunya adalah Indonesia, yang diwakili Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Erick Thohir Dukung Proposal Infantino

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan akan mendukung proposal Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Pernyataan tersebut keluar di tengah meningkatnya penolakan terhadap proposal FIFA dari sejumlah federasi, termasuk UEFA dan 55 asosiasi anggotanya.
Erick mengeklaim skema baru itu bisa memberikan manfaat besar bagi perkembangan sepak bola Indonesia melalui peningkatan pendanaan. Dana dari proyek itu bisa membantu negara-negara berkembang meningkatkan kualitas sepak bolanya.
"Peringkat tim nasional naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini, kami membutuhkan pendanaan," kata Erick dalam sebuah wawancara dengan Sky News pada Jumat 31 Juli 2026.
Eks-menteri BUMN ini juga mengingatkan bahwa tahun lalu PSSI dan FIFA telah menandatangani kesepakatan pembentukan FIFA Hub di Jakarta yang disebut sebagai langkah penting bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara dan Asia Timur.
"Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Kami telah melakukan pembenahan," tambahnya.
Erick menilai model serupa telah diterapkan di berbagai kompetisi domestik di banyak negara. Meski demikian, Erick menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan 211 asosiasi anggota FIFA melalui mekanisme pemungutan suara.
"Jika anggota FIFA menyetujuinya, itu menunjukkan memang ada kebutuhan agar kesepakatan ini terlaksana," ujar Erick yang merupakan pemilik klub Liga Inggris, Oxford United, tersebut.
Federasi Masih Andalkan Pendanaan FIFA Forward

Dukungan terhadap proposal Infantino juga datang dari Rogers Byamukama, Presiden Federasi Sepak Bola Uganda. Ia berpendapat bahwa setiap jalan yang dapat mengarah pada lebih banyak sumber daya bagi negaranya harus dieksplorasi.
"Pertama dan terpenting, Anda perlu memahami bahwa sepak bola adalah usaha yang sangat mahal, terutama di benua Afrika di mana sumber daya tidak mudah didapatkan," katanya kepada BBC World Service.
Ia pun mencontohkan di Uganda, jumlah proyek infrastruktur telah didanai oleh FIFA dari sumber daya yang dihasilkan oleh FIFA, terutama di Piala Dunia, baik dari penjualan tiket maupun sponsor.
"Selain itu, ada banyak program akar rumput yang telah didanai oleh FIFA, termasuk sekolah-sekolah untuk sepak bola." ungkapnya.
Baca Juga: Kontroversi Spanduk Malvinas Argentina di Piala Dunia, Mengapa Begitu Sensitif?
Sebelumnya FIFA melalui FIFA Forward memberikan program bantuan dan pendanaan global yang diluncurkan oleh FIFA sejak tahun 2016 untuk mendukung dan memajukan perkembangan sepak bola di seluruh asosiasi anggota FIFA di seluruh dunia.
Dua siklus pertama program pengembangan FIFA Forward, hingga tahun 2022, US$2,8 miliar telah dialokasikan untuk investasi di 211 asosiasi anggota.
Bantuan pendanaan tersebut digunakan untuk membantu membangun atau merenovasi fasilitas sepak bola seperti lapangan latihan, pusat pelatihan, dan kantor federasi.
Selain itu, juga mendukung pembiayaan operasional asosiasi sepak bola nasional serta penyelenggaraan kompetisi lokal di berbagai usia. Fifa Forward 3.0 yang mencakup tahun 2023 hingga 2026 telah mencatat peningkatan pendanaan sebesar 30%.
FIFA telah menyediakan tambahan US$5 juta untuk setiap asosiasi anggota, dengan tambahan US$60 juta dibayarkan kepada setiap konfederasi untuk proyek mereka sendiri.
Negara Maju Cenderung Menolak

Tekanan terhadap Infantino membesar ketika muncul ancaman dari Badan Sepakbola Eropa (UEFA). Mereka secara terbuka menyatakan akan memboikot penyelenggaraan piala dunia putra maupun putri jika proposal tersebut tetap dijalankan.
Penolakan juga datang dari Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Keduanya menyatakan tidak mendukung rencana tersebut, meski belum sampai menyerukan aksi boikot.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) meminta FIFA memberi penjelasan lebih rinci. Dalam pernyataannya, CONMEBOL menegaskan bahwa keputusan komersial tak boleh mengesampingkan nilai-nilai utama sepakbola.
Penolakan terhadap ide penjualan saham oleh FIFA juga datang dari internal FIFA sendiri. Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour mengeluarkan pernyataan keras yang menyebut rencana tersebut bukan merupakan proyek organisasi.
Ia menuding telah ditipu Infantino karena tidak terbuka kepada para staf FIFA selama proses penyusunan proposal. "Ini adalah proyek satu orang," kata Lamour.
Penasihat senior FIFA Carlos Cordeiro memilih mengundurkan diri setelah menyebut proposal Infantino tersebut adalah "kesepakatan buruk bagi sepak bola" dan akan "menggadaikan masa depan sepak bola".
Kritik juga datang dari luar FIFA. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menilai Infantino tidak lagi layak memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance