The Stance — Raut muka Slamet (50 tahun) begitu serius membaca lembaran koran yang dipasang di majalah dinding (mading) Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah, Senin, 8 Juni 2026.
Terdapat dua mading yang tersedia di sana, di sisi timur dan sisi barat selasar Monumen Pers Nasional. Keduanya menyajikan surat kabar dari kantor berita yang berbeda, lokal maupun nasional.
Lembaran koran yang dipajang di antaranya Solopos, Radar Solo, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Jawa Pos, Fokus Jateng, Kompas, dan Suara Merdeka.
Meski posisi papan baca tepat di tepi jalan yang ramai kendaraan lalu lalang, konsentrasi Slamet tak terusik. Dia terus mencerna setiap informasi yang tersaji. Mata Slamet menelusuri kolom demi kolom yang menurutnya menarik untuk dibaca.
Puas membaca mading di sisi Barat Monumen Pers Nasional, Slamet melanjutkan membaca di sisi Timur. Surat kabar yang dipampang di mading biasanya hanya sebagian muka dari keseluruhan koran.
Apabila warga hendak membaca versi yang lebih lengkap, pihak Monumen Pers Nasional memberikan fasilitas baca di sebelah Barat pintu masuk.
Slamet bercerita hampir saban hari ia menyempatkan waktu untuk membaca surat kabar yang dipampang di mading Monumen Pers Nasional. Tajuk olahraga menjadi kesukaannya, terlebih jelang perhelatan pesta sepak bola dunia.
“Yang dijujuk itu biasanya ya kalau ada berita MotoGP terus Premier League sekarang ya piala dunia,” tutur Slamet.
Koran Mading sebagai Tradisi Literasi

Petugas Monumen Pers Nasional setiap pagi rutin mengganti lembar koran sebelum orang-orang beraktivitas. Dengan begitu budaya literasi cetak di ruang publik diharapkan tetap hidup menghampiri masyarakat, lewat media mading.
Pemandangan membaca koran mading di ruang publik seperti yang dilakukan Slamet mengingatkan kembali pada tradisi literasi di masyarakat.
Sejak era kolonial hingga 1990-an, papan baca menjadi sarana penyebaran informasi di banyak kantor pemerintahan. Memasuki era digital yang hampir semua dikemas dalam genggaman gawai, kehadiran koran mading perlahan ditinggalkan.
Meski tak segencar penyebaran informasi lewat piranti elektronik, kehadiran koran mading menjadi opsi bagi beberapa orang. Tak jarang orang menepi sejenak untuk membaca koran mading lalu mendiskusikannya bersama.
Slamet salah satu yang menikmati itu. Meski kemudahan akses informasi tersaji lewat gawai, dia lebih memilih koran mading sebagai instrumen memperoleh informasi.
Selain lebih percaya karena dicetak dari media resmi, aksesnya yang mudah karena terletak di ruang publik menjadi alasan mengapa Slamet memilih koran mading sebagai pengalaman literasinya.
“Televisi sebenarnya ada tapi malah enggak pernah nonton, jadi lebih seringnya tetap koran gini, nyandak (terjangkau) saya itu ya koran,” kata Slamet.
Napas Informasi di Monumen Pers Nasional

Dalam konsep ruang publik (public sphere) yang dikemukakan Jurgen Habermas, koran mading bisa dipahami sebagai sarana penyediakan akses informasi bersama dan membuka peluang pertukaran gagasan di tingkat komunitas.
Berbeda dari pengalaman menikmati berita melalui gawai yang cenderung personal, koran mading menjadi titik kumpul pembaca informasi yang bersifat komunal.
Bagi Monumen Pers Nasional, koran mading adlah sebagian kecil cara merawat budaya literasi masyarakat. Ia tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tapi juga sarana pembentukan ruang diskusi publik dalam skala lokal.
Sayangnya, dalam pantauan The Stance, mereka yang membaca koran mading adalah kaum dewasa dan lanjut usia. Wajah anak muda nyaris tak terlihat di refleksi kaca mading. Padahal, banyak juga pengunjung muda yang mengunjungi museum.
Menurut Felisitas Moktika, resepsionis Monumen Pers Nasional, jumlah kunjungan memuncak pada hari libur. Pada hari biasa, ruang perpustakaan menjadi tujuan utama pengunjung karena fasilitasnya yang nyaman dan adanya jaringan internet
“Hari Senin sampai dengan Jumat kita lumayan ramai di bagian perpustakaan karena orang-orang banyak mengakses untuk working space,” ujar Feli.
Monumen Pers Nasional juga membuka pintu bagi pelajar, peneliti, atau mereka yang ingin memperoleh informasi sejarah dan perkembangan media massa di Indonesia. Pihak monumen menyediakan pemandu sekiranya diperlukan.
“Kita sangat terbuka untuk kunjungan edukasi. Untuk mekanismenya bisa menghubungi WhatsApp admin nanti akan dijadwalkan,” kata Feli.
Dari Kraton Mangkunegaran untuk Indonesia

Monumen Pers Nasional semula merupakan gedung Societeit Sasana Soeka milik kerabat Mangkunegaran yang dibangun masa KGPAA Sri Mangkunegoro VII pada tahun 1918.
Nama Monumen Pers Nasional resmi disahkan lewat penandatanganan prasasti oleh Soeharto pada 9 Februari 1978. Di dalam gedung induk, pengunjung disambut oleh patung 10 tokoh perintis pers Indonesia karya pematung Saptoto dari Yogya.
Sepuluh tokoh tersebut adalah Adinegoro, Dr. Sam Ratulangi, R.M. Tirto Adhi Soerjo, R.M. Bintarti, R. Darmo Sugito, R.M. Sudaryo Cokrosworo, R. Bakri Suryoatmojo, Dr. Setiabudi, Sutopo Wonoboyo, dan Dr. Abdul Rivai.
Di Monumen Pers Nasional tersimpan koleksi yang merekam perjalanan panjang pers Indonesia seperti koran dan majalah lawas, foto jurnalistik, hingga dokumen pers yang mencatat berbagai peristiwa penting di tanah air.
Apabila hendak mengakses koleksi lawas tersebut seperti untuk kepentingan akademik atau sumber sejarah, pengunjung tak harus datang ke lokasi.
Baca Juga: Rumah Tanpa Tiang Kepercayaan
Pihak Monumen Pers Nasional telah menyediakan layanan laman Siakad yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses kebutuhan arsip digital bahkan dari zaman kolonial.
Bedanya, di gedung bergaya Jawa Eropa itu, pengunjung dapat mengakses langsung layanan museum, mulai dari membaca media cetak maupun digital, hingga mengakses jutaan arsip nasional secara fisik.
Pihak Monumen Pers Nasional akan mengarahkan pengunjung untuk melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum mengakses segala fasilitas secara gratis.
Hanya waktu yang akan menjawab kapan mading yang dibaca Slamet itu akan menghilang, berubah menjadi koleksi sejarah tentang relik industri pers, yang tersimpan dalam arsip museum tersebut. (mhf)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance