Jakarta, The Stance – Babak perempat final Piala Dunia FIFA 2026 telah bergulir. Namun, fenomena mengejutkan terjadi di pasar tiket di mana harga tiket untuk salah satu laga babak gugur terbesar dilaporkan merosot tajam.
Hal ini disinyalir akibat tersingkirnya tim tuan rumah Amerika Serikat (AS) serta megabintang Cristiano Ronaldo yang berjuang di bawah bendera Portugal.
Seperti diketahui, Portugal harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Spanyol pada babak 16 besar. Kekalahan itu sekaligus menandai berakhirnya kiprah Cristiano Ronaldo di turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Selain itu, langkah sang tuan rumah AS juga harus terhenti setelah digilas Belgia dengan skor telak 4-1. Padahal, kehadiran tim tuan rumah di fase ini mendongkrak permintaan tiket hingga berkali-kali lipat.
Harga Tiket Anjlok Drastis

Skenario ideal yang mempertemukan AS dan Portugal di perempat final awalnya digadang-gadang akan menjadi magnet terbesar turnamen ini, yang diharapkan melambungkan harga tiket ke level tertinggi.
Apalagi, ajang Piala Dunia kali ini merupakan penutup lembaran karier ikonik Cristiano Ronaldo, sekaligus menjadi salah satu daya tarik global terbesar turnamen. Namun, semuanya berantakan karena kedua negara harus tersingkir.
Berdasarkan data dari pasar sekunder TickPick, harga tiket masuk termurah (get-in price) untuk pertandingan perempat final antara Spanyol dan Belgia anjlok drastis.
Tiket yang semula dibanderol sekitar US$2.950 (sekitar Rp53 juta) kini turun menjadi hampir US$1.200 (Rp21 jutaan) pada Selasa siang waktu setempat. Artinya, harga tiket anjlok hingga nyaris 60%.
Kekalahan AS dari Belgia dengan skor 1-4 juga dinilai ikut mengurangi minat penonton lokal. Namun, sejumlah pengamat meyakini absennya Ronaldo menjadi faktor utama yang membuat daya tarik babak gugur menurun.
Ronaldo selama ini dianggap bukan hanya menghadirkan kualitas di atas lapangan, tetapi juga memiliki nilai komersial yang sangat besar.
Kehadirannya mampu menarik penonton datang langsung ke stadion maupun meningkatkan perhatian global terhadap turnamen.
Laga Tuan Rumah Mampu Dongkrak Pendapatan Bar

Selain faktor Ronaldo, kekalahan tiga tuan rumah bersama membuat harga tiket turun drastis. Kekalahan Meksiko dari Inggris pada Minggu 5 Juli 2026 lalu memicu penurunan harga tiket hingga 45%.
Tiket yang awalnya dibanderol paling murah US$4.000 atau sekitar Rp72,2 juta, kini bisa didapatkan hanya dengan harga US$2.000 atau sekitar Rp36,1 juta.
Co-CEO TickPick Brett Goldberg mengakui tingginya harga awal tiket perempat final memang didasarkan pada asumsi AS dan Meksiko akan lolos ke babak selanjutnya. Namun, hasil pertandingan kedua tim berkata lain.
"Ketika mereka kalah dalam dua hari berturut-turut di babak 16 besar, terjadi penurunan permintaan yang langsung dan signifikan untuk pertandingan perempat final masing-masing," kata Goldberg kepada CNN.
Gugurnya Kanada, AS, dan Meksiko sekaligus menyudahi eksistensi tiga negara tuan rumah di turnamen ini.
Kondisi ini tak hanya berdampak terhadap anjloknya harga tiket, tetapi juga terhadap pendapatan bar. Salah satunya jaringan Tom's Watch Bar yang memiliki 18 cabang.
Laga yang menampilkan AS dan Meksiko selalu menjadi pendongkrak utama omzetnya. Pasca gugurnya kedua tim, ia memprediksi pendapatan bar pada hari pertandingan Piala Dunia akan merosot hingga 50%.
FIFA Justru Untung Besar

Mengutip dari berbagai sumber, FIFA selaku penyelenggara Piala Dunia 2026 diproyeksikan mengantongi pendapatan sekitar US$8,9 miliar atau sekitar Rp160,16 triliun sampai Rp300 triliun (asumsi kurs Rp17.996 per dolar AS).
Sebaliknya, 11 kota tuan rumah di AS justru diperkirakan menghadapi defisit kolektif alias tekor lebih dari US$250 juta atau sekitar Rp4,5 triliun.
Hal ini disebabkan perubahan model bisnis FIFA. Seperti diketahui, untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA mengelola langsung turnamen, tanpa komite penyelenggara lokal.
Organisasi tersebut menguasai hampir seluruh sumber pendapatan mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, paket hospitality, hingga merchandise.
Sebaliknya, pemerintah kota dan negara bagian menanggung biaya keamanan, transportasi, renovasi stadion, administrasi, hingga penyelenggaraan kawasan fan zone.
Ekonom olahraga Victor Matheson dari College of the Holy Cross mengatakan sebagian besar uang yang dibelanjakan penonton untuk membeli tiket tidak berputar di ekonomi lokal karena langsung masuk ke kantong FIFA.
"Ketika saya membayar US$400 untuk tiket Piala Dunia, seluruh uang itu masuk ke FIFA. Uang itu tidak masuk ke pelaku usaha lokal, sehingga juga tidak berputar kembali di ekonomi setempat," ujarnya.
Baca Juga: Kontroversi AS di Piala Dunia: Diskriminasi di Bandara Hingga Pencekalan Wasit
Matheson juga menilai banyak proyeksi dampak ekonomi Piala Dunia terlalu optimistis.
Menurutnya, wisatawan Piala Dunia sering kali hanya menggantikan wisatawan reguler yang seharusnya datang pada periode yang sama, sehingga tambahan aktivitas ekonomi tidak sebesar yang digaungkan.
Hal ini juga sejalan dengan Survei American Hotel and Lodging Association yang menunjukkan sekitar 80% hotel di 11 kota tuan rumah melaporkan tingkat pemesanan kamar masih berada di bawah proyeksi awal.
Hambatan visa dan ketidakpastian geopolitik disinyalir menjadi salah satu penyebab masih rendahnya kunjungan wisatawan asing ke Amerika Serikat.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian University of Toronto yang menunjukkan 12 dari 14 edisi Piala Dunia terakhir justru menghasilkan kerugian ekonomi bersih bagi wilayah penyelenggara.
Peneliti menemukan bahwa manfaat ekonomi ajang olahraga berskala besar kerap lebih kecil dibanding proyeksi karena sebagian besar pendapatan mengalir ke penyelenggara, sementara biaya tetap ditanggung pemerintah daerah.
FIFA Andalkan Tuah Messi

Setelah Cristiano Ronaldo tersingkir, sorotan kini mengarah kepada Lionel Messi. Kapten Timnas Argentina itu menjadi ikon sepakbola yang masih bertahan di Piala Dunia 2026 dan diharapkan menjaga antusiasme publik hingga laga final.
Dan, tentu saja diharapkan bisa terus menambah pundi-pundi FIFA. Pengaruh Messi terhadap industri sepak bola terbukti sejak bergabung dengan Inter Miami AS.
Kehadirannya di Major League Soccer (MLS) berhasil meningkatkan jumlah penonton, penjualan tiket, hingga aktivitas komersial di berbagai kota yang dikunjunginya.
Karena itu, skenario terbaik bagi FIFA terjadi apabila Argentina mampu melaju hingga partai puncak. Langkah Messi menuju final diyakini mempertahankan minat penonton sekaligus menjaga pendapatan dari penjualan tiket dan aktivitas bisnis lainnya.
Hal ini pula yang memunculkan narasi dan banyak kalangan menyebut Messi dan Argentina sebagai 'Anak Emas' FIFA. Para pencinta sepak bola yang skeptis mulai mencium adanya "karpet merah" sejak bagan fase gugur dirilis.
Argentina yang sejak awal berlaga tanpa menghadapi 10 negara terkuat tim sepakbolanya, dengan mudah menyapu bersih fase grup dengan 9 poin (menang 3-0 atas Aljazair, 2-0 atas Austria, dan 3-1 atas Yordania).
Argentina pun melenggang mulus hingga babak perempat final dengan kontroversi dugaan pemihakan wasit, dalam dua laga terakhirnya melawan Cape Verde dan Mesir.
Terakhir, usai laga 16 besar, pelatih timnas Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka melontarkan kecurigaan bahwa ada faktor eksternal yang ingin menjaga Argentina, khususnya Lionel Messi, tetap melaju di turnamen.
“Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia tetap berada di turnamen, mungkin mereka ingin Messi tetap memiliki peluang melanjutkan perjalanan,” ujarnya dalam konferensi pers pascapertandingan setelah timnya disingkirkan Argentina 3-2.
Tuduhan ini memicu perdebatan panas di media sosial mengenai apakah FIFA sengaja mengistimewakan bintang besar demi kepentingan komersial turnamen.
Di luar pro kontra yang berkembang, fenomena tersebut kembali menunjukkan besarnya pengaruh pemain bintang terhadap industri olahraga modern. Turnamen sebesar Piala Dunia tidak hanya ditentukan kualitas pertandingan tapi juga pemainnya. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance