Jakarta, The Stance – Melawan stereotip soal kelemahan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang konon tak bisa diandalkan untuk perjalanan jauh, para penggiat EV independen menggebrak keraguan itu dengan "Riding Nusantara 2026".
Mereka meluncurkan ekspedisi armada motor listrik (EV) yang menempuh jarak 1.200 kilometer dari Cilegon (Jawa Barat) ke Singaraja (Bali) untuk membuktikan keandalannya. Semboyan yang diusung adalah: "1.200 KM Tanpa BBM".
Tak hanya sekadar ajang pamer produk EV lokal, ekspedisi ini tak sekadar menabuh genderang perang melainkan serangan frontal terhadap mereka yang berpikir bahwa EV tak bisa menjadi andaan mobilitas rakyat di masa depan.
Pendiri Elektrik Rakyat Indonesia (ERI), M. Dipo Kartono, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah pembuktian nyata atas keunggulan EV yang bagi sebagian masyarakat awam masih sebatas angan-angan.
"Ini adalah ajang pembuktian bahwa kendaraan listrik bukan sekadar tren, tetapi solusi mobilitas nyata untuk masyarakat Indonesia," ungkap Dipo dalam penjelasannya terkait visi ekspedisi ini kepada The Stance, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ajang Pembuktian Keandalan & Efisiensi EV

Secara terbuka, Dipo memberikan klarifikasi teknis yang krusial untuk menghindari miskonsepsi publik. Menurutnya, narasi tersebut bukan berarti kendaraan mampu menempuh jarak sejauh itu dalam satu kali pengisian daya tunggal tanpa henti.
"Maksudnya adalah ekspedisi ini menempuh total 1.200 km tanpa setetes bensin, murni menggunakan energi listrik," jelas Dipo.
Kendaraan-kendaraan yang diterjunkan menggunakan teknologi baterai Lithium-ion dan LiFePO4 yang dilengkapi dengan Battery Management System (BMS) canggih.
Sistem ini berfungsi vital untuk menjaga stabilitas suhu, tegangan, dan keamanan baterai saat menghadapi medan ekstrem Nusantara, mulai dari jalan datar hingga tanjakan terjal dan panas menyengat.
Dipo menambahkan bahwa yang diuji dalam perjalanan ini bukan hanya ketahanan fisik motor, melainkan keandalan sistem monitoring suhu secara real-time, efisiensi controller, hingga manajemen gaya berkendara (riding style) yang tepat.
Ekspedisi ini juga berupaya membongkar mitos bahwa kendaraan listrik adalah barang mewah yang mahal operasionalnya. Dipo memaparkan perbandingan biaya yang kontras antara motor BBM dan motor listrik hasil konversi maupun pabrikan yang dipakai.
Berdasarkan kalkulasi tim ERI, biaya BBM motor biasa rata-rata Rp250/kilometer. Sementara itu, motor EV yang mengonsumsi 35–45 watthour (Wh) per kilometer dengan tarif listrik PLN Rp1.700/kWh, hanya memakan biaya Rp60-Rp80 per kilometer.
"Artinya, kendaraan listrik bisa 3 hingga 4 kali lebih hemat. Untuk perjalanan 1.200 km, motor BBM menghabiskan sekitar Rp300.000, sementara motor listrik hanya Rp80.000 hingga Rp100.000," papar Dipo.
Selisih biaya ini sangat penting bagi masyarakat kecil yang kian tercekik harga BBM.
Juga Sebagai Ajang Pengujian Infrastruktur EV

Namun, keberhasilan transisi tidak bisa hanya mengandalkan unit motor yang tangguh. Ekspedisi pada 14 Juni 2026 ini juga memiliki misi terselubung, yakni: menguji kesiapan infrastruktur pengisian daya nasional.
Rute Cilegon–Singaraja akan menjadi laboratorium berjalan untuk memetakan ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) milik PT PLN (Persero), titik pengisian daya alternatif, hingga waktu pengisian aktual di lapangan.
"Kami ingin melihat secara langsung seberapa siap Indonesia mendukung transisi kendaraan listrik secara massal," ujar Dipo.
Berdasarkan jadwal acara, perjalanan selama 4 hari ini melewati titik-titik krusial seperti Cirebon, Semarang, dan Surabaya sebelum menyeberang ke Bali. Setiap etape dirancang untuk menguji respons infrastruktur terhadap perjalanan jarak jauh.
Sisi menarik dari "Riding Nusantara 2026" adalah keterlibatan subjek yang tidak biasa dalam ajang otomotif besar. Dipo sengaja tidak hanya melibatkan tokoh publik, tetapi juga mekanik bengkel, pelaku UMKM, anak muda, dan masyarakat umum.
Hal ini bertujuan untuk meruntuhkan "tembok mental" yang menganggap EV adalah properti kaum elite. "Ketika masyarakat melihat orang biasa mampu turing 1.200 km dengan motor listrik, maka hambatan mental akan runtuh," tegas Dipo.
Melalui komunitas ERI dan Orang Senang Garage, ia mendorong konsep konversi motor BBM ke listrik dengan biaya yang lebih terjangkau sebagai langkah nyata elektrifikasi dari akar rumput.
Meski dikemas dengan semangat kolaborasi, Dipo tidak menampik bahwa ekspedisi ini adalah bentuk advokasi konstruktif kepada pemerintah. Ia menekankan bahwa komunitas dan teknologi sudah siap, namun regulasi masih perlu dipercepat.
Alur Ekspedisi Selama 4 Hari

Perhelatan akbar ini diawali dengan Hari 0 atau pada 13 Juni 2026 yang difokuskan pada pemantapan administrasi dan aspek keselamatan di titik awal keberangkatan, Cilegon. Ratusan peserta memadati area registrasi hingga malam hari.
Mereka mengambil ID, stiker, dan merchandise. Tak sekadar urusan administratif, panitia juga menerapkan pemeriksaan ketat (scrutineering) terhadap kondisi motor listrik dan perlengkapan berkendara peserta.
Menginjak pukul 20.00 WIB, peserta diberi pembekalan intensif melalui technical meeting dan brifing keselamatan yang memaparkan detail rute dan titik krusial pengisian daya dari PLN, sebelum akhirnya ditutup dengan sesi dokumentasi bersama.
Keesokan paginya pada Hari 1 atau pada 14 Juni 2026, atmosfer antusiasme memuncak saat rute Cilegon menuju Cirebon resmi dibuka. Tepat pukul 08.00 WIB, seluruh peserta mengikuti apel pagi, doa bersama, diikuti sambutan dari panitia pelaksana.
Satu jam berselang, bendera Flag Off dikibarkan sebagai tanda dimulainya perjalanan Riding Nusantara. Pada etape pertama ini, rombongan bergerak menyisir jalur strategis dan melakukan pengisian daya di sejumlah pos penting milik PLN.
BUMN kelistrikan ini membuka pos dari PLN ULP Cilegon, PLN UP3 Cikokol, PLN UP3 Bekasi, PLN Karawang, PLN Subang, PLN Indramayu, hingga bersandar di titik finish hari pertama, PLN UP3 Cirebon, pada pukul 23.00 WIB untuk evaluasi dan istirahat.
Memasuki hari ke-2, perjalanan berlanjut dengan rute Cirebon-Semarang. Setelah melakukan persiapan kendaraan sejak pukul 07.00 WIB, para pengendara kembali memacu motor listrik mereka tepat pukul 08.00 WIB guna menyusuri jalur Pantura.
Pada etape ini, ketahanan motor listrik diuji di bawah cuaca yang menantang dengan melewati pos pengisian daya di PLN Brebes, PLN Pemalang, PLN Pekalongan, PLN Kendal, dan masuk ke jantung kota Jawa Tengah di PLN UP3 Semarang.
Baca Juga: Antisipasi Kenaikan Harga BBM Tahun 2027
Pada hari ke-3, jalur bergeser ke arah Selatan dan Timur, menuju Surabaya via Salatiga dan Solo. Memulai perjalanan tepat pukul 08.00 WIB setelah persiapan pagi, para peserta diuji dengan kontur jalan yang bervariasi.
Rombongan secara beruntun melewati titik pengisian daya di PLN Salatiga, PLN UP3 Surakarta, PLN Ngawi, PLN Madiun, PLN Nganjuk, PLN Jombang, PLN Mojokerto, hingga menyentuh garis finish di PLN UP3 Surabaya Selatan pada pukul 19.00 WIB.
Etape pamungkas pada hari ke-4 menjadi ujian terberat sekaligus paling menarik karena peserta menempuh rute panjang dari Surabaya, menyeberang selat, hingga berakhir di Singaraja, Bali.
Mengingat estimasi waktu yang panjang, peserta harus melakukan start lebih awal pukul 06.00 WIB. Rute darat di Jawa Timur dilibas dari PLN Pasuruan, PLN Probolinggo, PLN Situbondo, dan PLN Banyuwangi sebelum memasuki Pelabuhan Ketapang.
Usai melakukan penyeberangan laut menggunakan kapal feri menuju Pelabuhan Gilimanuk, peserta langsung disambut trek eksotis Bali, menyusuri pos PLN Gilimanuk, PLN Negara, PLN Seririt, hingga Grand Finish di PLN Singaraja pada malam hari.
Sorak sorai pecah saat rombongan berhasil mencapai lokasi dengan seremonial puncak Grand Finish. Selain penyampaian apresiasi dan sambutan dari pihak mitra serta sponsor, panitia menyerahkan Sertifikat Finisher kepada peserta.
Acara ditutup dengan penganugerahan penghargaan khusus untuk beberapa kategori terbaik, di antaranya Rider Terjauh, Rider Terinspiratif, Motor Paling Efisien, Konten Terbaik, dan Tim Terkompak.
Melalui pengawalan ketat dan lima pilar utama banyak titik cas, aman & terpantau, support teknisi, dokumentasi profesional, serta kolaborasi ajang yang digaungkan melalui tagar #RidingNusantara2026 ini berakhir dengan sukses.
Mendorong Percepatan Konversi

Melalui ekspedisi tersebut, ERI berupaya mendorong poin-poin penting, di antaranya percepatan subsidi konversi, insentif bagi industri lokal, perluasan jaringan SPKLU, serta standardisasi teknis yang lebih memudahkan bagi rakyat.
"Kami tidak datang hanya dengan kritik. Kami datang dengan pembuktian," cetus Dipo.
Slogan "Bersama Melaju Menuju Indonesia Emas 2045" yang terpampang dalam ekspedisi ini mengandung makna yang filosofis bagi Dipo. Baginya, masa depan Indonesia harus dicirikan oleh kemandirian energi dan teknologi.
Riding Nusantara adalah simbol perubahan besar sebuah transisi dari ketergantungan pada energi fosil yang polutif menuju energi masa depan yang lebih bersih, hemat, dan berdaulat.
Ekspedisi ini diharapkan mampu mengubah rasa takut atau ketidakpastian masyarakat menjadi sebuah keyakinan. Ketika pelepasan (flag off) di Cilegon pada 14 Juni 2026, ERI mencetak sejarah memulai ekspedisi motor listrik pertama di Indonesia.
Masyarakat pun dapat memantau perjalanan ini secara transparan melalui laporan real-time mengenai konsumsi energi dan kondisi kendaraan di setiap checkpoint.
"Riding Nusantara 2026 bukan sekadar turing. Ini adalah pembuktian untuk menghapus satu ketakutan terbesar masyarakat: bahwa motor listrik cuma cocok untuk jarak dekat," tutup Dipo dengan optimis.
Dengan rute sepanjang 1.200 km yang melintasi Pulau Jawa hingga Pulau Bali, ekspedisi ini menjadi pembuktian bahwa infrastruktur motor listrik bagi rakyat Indonesia sudah siap, guna mewujudkan era baru transportasi berkelanjutan. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance