
Oleh Dicky Budiman, dosen Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia (YARSI), yang juga peneliti Planetary Health dan One Health CEPH Griffith University Australia.
Menjelang usia lima abad, Jakarta sedang berada pada persimpangan sejarah.
Di satu sisi, ibu kota terus bertransformasi menjadi kota global dengan berbagai capaian pembangunan, investasi, dan modernisasi infrastruktur.
Namun di sisi lain, Jakarta masih menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan, pencemaran udara, banjir pesisir, serta ancaman kenaikan muka air laut yang semakin nyata.
Dalam konteks inilah penanaman mangrove dosen dan mahasiswa angkatan VI Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit Universitas YARSI di TWA Angke Kapuk Selasa, 23 Juni 2026, memiliki makna jauh lebih dalam dari sekadar penghijauan.
Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi kesehatan dalam membangun ketahanan lingkungan dan kesehatan masyarakat perkotaan.
Jakarta dan Tantangan Kesehatan di Era Perubahan Iklim

Selama beberapa dekade, pembangunan kota sering kali memisahkan isu kesehatan dari isu lingkungan. Padahal bukti ilmiah global menunjukkan bahwa kualitas kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi ekosistem tempat mereka hidup.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyampaikan bahwa perubahan iklim merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan manusia pada abad ke-21.
Gelombang panas, banjir, kekeringan, penurunan kualitas udara, serta meningkatnya risiko penyakit menular dan penyakit tidak menular merupakan sebagian dampak yang telah dirasakan berbagai kota besar dunia.
Jakarta menjadi salah satu kota yang berada di garis depan tantangan tersebut.
Sebagai kota pesisir yang padat penduduk, Jakarta menghadapi risiko banjir rob, abrasi pantai, penurunan muka tanah, dan kenaikan muka laut yang diproyeksikan semakin meningkat dalam beberapa dekade mendatang.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, ancaman itu tak hanya berdampak pada kerusakan fisik lingkungan, tapi juga meningkatkan diare, leptospirosis, penyakit kulit, gangguan kesehatan mental, gangguan pernapasan, hingga gangguan ketahanan pangan masyarakat pesisir.
Karena itu, membangun kota sehat pada abad ke-21 tidak lagi cukup dengan memperbanyak rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan. Kota sehat harus dibangun melalui perlindungan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakatnya.
Bakau: Benteng Alami Kota Jakarta

Di tengah berbagai tantangan tersebut, hutan mangrove memiliki peran yang sangat strategis. Mangrove sering disebut sebagai "green infrastructure" atau infrastruktur hijau yang bekerja secara alami untuk melindungi kawasan pesisir.
Sistem akar mangrove yang kompleks mampu meredam energi gelombang laut, mengurangi abrasi, menahan sedimen, dan membantu mengurangi dampak banjir pesisir.
Bagi Jakarta, keberadaan mangrove bukan hanya isu konservasi lingkungan, tetapi juga investasi kesehatan masyarakat. Mangrove membantu melindungi masyarakat dari berbagai risiko kesehatan akibat bencana pesisir.
Ketika abrasi berkurang dan banjir dapat diminimalkan, maka risiko cedera, penyakit pascabencana, gangguan kesehatan mental, serta kerugian sosial-ekonomi masyarakat juga dapat ditekan.
Selain itu, mangrove merupakan salah satu ekosistem penyerap karbon paling efektif di dunia. Ekosistem ini mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar selama ratusan tahun melalui mekanisme yang dikenal sebagai blue carbon.
Dengan kata lain, setiap pohon mangrove yang ditanam hari ini tidak hanya melindungi garis pantai Jakarta, tetapi juga berkontribusi pada upaya global dalam mengurangi dampak perubahan iklim.
Kegiatan penanaman mangrove oleh sivitas akademika MARS Universitas YARSI juga merupakan implementasi nyata pendekatan One Health.
Konsep One Health menegaskan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Tidak mungkin mencapai masyarakat yang sehat apabila lingkungan tempat masyarakat hidup mengalami kerusakan.
Kesehatan Manusia Terkait Erat dengan Kesehatan Lingkungan

Sebagai calon pemimpin rumah sakit, manajer kesehatan, dan pengambil kebijakan kesehatan masa depan, mahasiswa MARS perlu memahami bahwa pencegahan penyakit tidak selalu dimulai dari ruang perawatan atau ruang operasi.
Banyak intervensi kesehatan yang paling efektif justru terjadi di luar fasilitas kesehatan, termasuk melalui perlindungan lingkungan dan penguatan ketahanan ekosistem.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar secara langsung bahwa keberlanjutan sistem kesehatan sangat bergantung pada keberlanjutan lingkungan.
Program Studi MARS Universitas YARSI selama ini mendorong pengembangan konsep Green Hospital, yaitu rumah sakit yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan berkualitas tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Namun tantangan kesehatan modern menuntut pendekatan lebih luas. Rumah sakit hijau harus menjadi bagian dari kota sehat (Healthy City) yang menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Jakarta yang sedang menuju usia lima abad memiliki peluang besar untuk menjadi contoh kota global yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga tangguh terhadap perubahan iklim dan berorientasi pada kesehatan masyarakat.
Pembangunan ruang terbuka hijau, perlindungan kawasan pesisir, pengendalian pencemaran udara, pengurangan emisi karbon, serta rehabilitasi ekosistem mangrove harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan kota.
Baca Juga: Mewaspadai Pujian WHO Terkait Kesuksesan One Health di Indonesia
Penanaman mangrove di TWA Angke Kapuk mungkin terlihat sebagai langkah kecil dibandingkan besarnya tantangan yang dihadapi Jakarta. Namun perubahan besar selalu dimulai dari tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
Kegiatan ini menjadi simbol bahwa dunia akademik tidak hanya berperan menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi nyata untuk menjawab tantangan zaman.
Menjelang HUT Jakarta ke-499 dan perjalanan menuju usia lima abad, harapan kita sederhana namun mendasar:
Jakarta tidak hanya menjadi kota yang semakin modern, tetapi juga menjadi kota yang lebih sehat, lebih hijau, lebih tangguh terhadap perubahan iklim, dan lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, menanam mangrove bukan sekadar menanam pohon. Kita sedang menanam perlindungan bagi pesisir, ketahanan bagi masyarakat, dan masa depan kesehatan bagi Jakarta.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.