Jakarta, The Stance – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memuji kemajuan Indonesia menjalankan pendekatan One Health untuk mengurangi risiko kesehatan dari penyakit zoonosis.
Pujian itu muncul dalam momen peringatan Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day) yang tahun ini mengambil tema “Bersama untuk Kesehatan. Berpihak pada Sains”.
Dikutip dari Economic Times, WHO yang lahir pada 7 April 1948 itu mencanangkan 7 April sebagai World Health Day dua tahun setelah beroperasi.
Dalam peringatan kali ini, WHO menganalisis kinerja setiap negara anggotanya khususnya dalam menjalankan One Health.
Perwakilan WHO untuk Indonesia. Dr. Navaratnasamy Paranietharan, menilai realisasi One Health di Indonesia telah menjadi kesatuan terpadu dalam memperhatikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terhubung erat.
Penyakit zoonosis merupakan infeksi menular antara hewan dan manusia, yang kerap melalui kontak dekat atau lingkungan yang terkontaminasi. Secara global, zoonosis menyerang lebih dari 2 miliar orang dan merenggut 2 juta nyawa setiap tahunnya.
WHO menemukan bahwa lebih dari 60 persen penyakit menular yang diketahui dan 75 persen penyakit yang baru muncul belakangan berasal dari hewan.
Risiko Zoonosis di Indonesia Meningkat

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko zoonosis yang meningkat terkait dengan bencana akibat perubahan iklim, perubahan lingkungan, serta interaksi yang erat antara manusia, hewan, dan alam.
Namun, Paranietharan menilai Indonesia menunjukkan aksi lintas sektoral yang terkoordinasi untuk mengurangi risiko penyakit zoonosis dengan bekerja di berbagai sektor kesehatan, pertanian, kedokteran hewan, dan lingkungan.
"Indonesia memperkuat deteksi dini, meningkatkan respons, dan melindungi masyarakat yang menghadapi paparan tertinggi,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima The Stance, Selasa (7/4/2026).
One Health di Indonesia berfokus pada penyakit zoonosis prioritas seperti flu burung, leptospirosis, antraks, dan rabies. Pada tahun 2025, WHO mendukung uji coba surveilans flu burung One Health yang terintegrasi di lima provinsi Indonesia.
Surveilans tersebut didorong dengan beberapa strategi, mulai dari leptospirosi dengan surveilans terpadu, penilaian risiko bersama, deteksi dini, dan pengobatan cepat.
WHO menilai tingginya kesadaran masyarakat telah membantu kolaborasi lintas sektoral, memperkuat kesiapan sistem kesehatan, dan mengurangi angka kematian di daerah rawan banjir.
Dalam kasus antraks, pelatihan bagi petugas kesehatan lini depan dan pemantauan kejadian akut sangat berperang mengurangi dampak penyakit ini di Indonesia.
Demikian juga untuk kasus rabies, yang ditangani dengan melakukan surveilans, manajemen kasus, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
Antara Diplomasi dan Realitas

Pujian WHO terhadap kemajuan program One Health di Indonesia bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia adalah pengakuan atas kerja keras lintas sektora, tetapi secara bersamaan berisiko menjadi "nina bobo" diplomatik yang melenakan.
Epidemiolog sekaligus Pakar Keamanan Kesehatan Global dari Griffith University, Dicky Budiman menilai pujian WHO harus dibaca dalam dua bingkai besar, yakni diplomasi dan substansi.
WHO bukanlah lembaga audit independen, melainkan aktor diplomatik dalam tata kelola kesehatan global yang dikenal memiliki pendekatan "praise first, correct later" (puji dulu, koreksi kemudian) untuk menjaga hubungan baik dengan anggota.
"Pujian ini conditionally valid, tapi bukan berarti sistem kita sudah kuat secara sistemik. Secara kritis, saya menyebutnya partially yes, but strategically premature," tegasnya saat dihubungi The Stance, Senin 7 April 2026.
Sejarah mencatat bahwa pujian diplomatik seringkali tidak sejalan dengan ketangguhan sistem di lapangan. Kasus Liberia dan Sierra Leone pada 2014 menjadi pelajaran pahit.
Sistem kesehatan kedua negara tersebut sempat dinilai meningkat oleh WHO, sebelum akhirnya kolaps diterjang wabah Ebola yang menewaskan lebih dari 11.000 jiwa.
Secara substansial Indonesia mencatat kesuksesan mikro seperti vaksinasi rabies di Bali dan interoperabilitas data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Namun pada level sistem makro, Indonesia menurut Dicky masih di zona merah risiko tinggi (red zone) untuk emerging zoonosis.
Baca Juga: Kasus Campak Melonjak 147%, Epidemiolog Soroti Rendahnya Cakupan Imunisasi
Ada beberapa faktor krusial yang membuat Indonesia tetap rentan. Pertama yaitu determinan ekologis, dalam hal ini deforestasi masif dan urbanisasi cepat tanpa ecological buffer yang memicu risiko spillover (loncatan patogen) dari hewan ke manusia.
Kedua, hotspot patogen, di mana Indonesia merupakan titik panas untuk avian influenza (H5N1, H9N2), virus serupa Nipah, hingga Leptospirosis.
Ketiga, kelemahan sistemik. Menurut Dicky, koordinasi lintas sektor masih bersifat person-dependent (bergantung pada individu) ketimbang system-driven. Pembiayaan pun masih terfragmentasi dan sangat bergantung pada donor asing.
Jangan Terjebak Pujian Diplomatis

Bahaya terbesar dari pujian internasional adalah jika ia ditafsirkan secara politis di dalam negeri sebagai bukti keberhasilan mutlak bisa memicu overconfidence kebijakan atau under-investment pada penguatan sistem kesehatan.
"Jangan terjebak dalam diplomatic comfort zone. Ada risiko naratif 'success bias' yang membuat kita merasa sudah memadai, padahal secara sistemik kita bahkan belum sampai pada tahap aman," ujar Dicky.
Dia menekankan perlunya reformasi struktural, bukan sekadar programatik, mulai dari institusionalisasi One Health, yakni mengubah kerja sama lintas sektor menjadi struktur legal yang permanen, bukan sekadar kepanitiaan sementara.
Lalu, Surveilans Prediktif yang mengubah pola respons dari reaktif menjadi predictive intelligence. Selanjutnya, kemandirian pembiayaan dengan mengalokasikan dana khusus zoonosis dari APBN agar tak terus-menerus bergantung pada bantuan global.
Dicky mengusulkan Community-Based One Health, di mana masyarakat dilibatkan penuh sebagai garda terdepan deteksi dini penyakit zoonosis dengan mengintegrasikan Puskesmas dan penyuluh kesehatan hewan.
Karenanya pujian WHO harus dijadikan sinyal awal untuk memacu perbaikan, bukan sebagai garis finis untuk merayakan kesuksesan yang belum sepenuhnya teruji secara sistemik. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance