Jakarta, TheStanceID – Kasus campak di Indonesia masih terus menjadi perhatian menyusul terjadinya lonjakan signifikan kasus campak di awal tahun 2026.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga minggu ketujuh tahun ini, tercatat sebanyak 8.224 kasus suspek dengan 572 kasus terkonfirmasi laboratorium dan empat kematian.

Kondisi ini membuat Indonesia berstatus “merah” kejadian luar biasa (KLB) campak dan berada di peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus terbanyak, tepat di bawah Yaman.

Sebaran KLB di 11 Provinsi

Andi Saguni

Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 13 Kejadian Luar Biasa (KLB) yang terkonfirmasi laboratorium di 17 kabupaten/kota.

Penemuan kasus suspek pada periode Januari-Februari 2026 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 dan 2025.

"Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi," ucapnya.

Adapun lima provinsi dengan laporan KLB terbanyak pada awal 2026 meliputi Sumatra Barat, Sumatra Selatan, DIY, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Lonjakan ini disebut berkaitan erat dengan ketimpangan cakupan imunisasi di tingkat daerah selama beberapa tahun terakhir. Andi menegaskan bahwa campak adalah penyakit yang sangat menular sehingga memerlukan kewaspadaan dan respons cepat.

"Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Karena itu, setiap peningkatan kasus harus direspons dengan cepat melalui surveilans yang kuat dan pelaporan yang tepat waktu," ujarnya.

Melonjak 147 Persen di tahun 2025

Wabah Campak di Sumenep (Foto : Sumenepkab.go.id)

Andi menjelaskan bahwa penemuan kasus suspek campak pada tahun 2025 meningkat signifikan, yakni 147 persen dibandingkan tahun 2024. Karena itu, Kemenkes melakukan penguatan sistem kewaspadaan dini sebagai prioritas utama.

"Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional, termasuk penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah penemuan kasus dan pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR)," jelasnya.

Peningkatan kasus campak juga dilaporkan di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat, yang turut meningkatkan risiko penularan lintas negara.

Kewaspadaan nasional juga meningkat setelah adanya notifikasi dari otoritas kesehatan Australia terkait dua kasus campak pada warga negara asing yang memiliki riwayat perjalanan dari Jakarta pada Februari 2026.

Salah satu kasus melibatkan anak berusia 6 tahun yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Menanggapi situasi ini, pemerintah akan memulai program imunisasi campak-rubela (MR) tambahan atau crash program mulai pekan depan.

Program ini diprioritaskan bagi anak-anak di tingkat PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK), terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rutin yang masih di bawah target 95%.

"Penguatan imunisasi kita lakukan secara rutin dan imunisasi kejar MR. Pemberian imunisasi tambahan di daerah KLB ini merupakan langkah mitigasi untuk memutus rantai penularan secara cepat," ujar Andi.

Menkes Minta Anak Segera Divaksin

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengingatkan pentingnya vaksinasi, terutama bagi anak-anak di bawah lima tahun, agar tidak terjadi kematian yang sebenarnya bisa dicegah.

Apalagi, tren suspek campak di dalam negeri juga menunjukkan lonjakan signifikan di sejumlah wilayah. Budi Gunadi mengaku terkejut dengan kenaikan angka kasus yang terjadi hampir di seluruh dunia.

“Campak sudah ada vaksinnya. Saya terkejut karena seluruh dunia lagi naik. Indonesia naik, Bima juga naik,” jelas Budi saat melakukan kunjungan kerja ke RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Di Kota Bima sendiri, lonjakan kasus dinilai cukup signifikan dan sudah ada 2 anak yang dinyatakan meninggal dunia.

Budi menegaskan, campak merupakan penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun, rendahnya cakupan vaksinasi membuat risiko penularan tetap tinggi, terutama pada anak-anak.

“Saya mengimbau jangan ada lagi anak-anak kita yang harus meninggal gara-gara campak. Sebab, penyakit ini sudah ada vaksinnya,” katanya.

Menurut Budi, tingginya risiko kematian pada anak menjadi alasan utama pemerintah mempercepat program imunisasi.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Kesehatan telah mengambil keputusan untuk mendistribusikan vaksin secara besar-besaran ke sejumlah daerah. Kemenkes menargetkan cakupan vaksinasi campak dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

Baca Juga: Wabah Campak di Sumenep Renggut 17 Nyawa, Alarm Keras Sistem Imunisasi Nasional

“Target vaksinasi campak, saya maunya Juni selesai ke semua anak-anak di bawah 5 tahun, seperti polio kemarin juga sudah bisa kita tangani,” katanya.

Dengan peningkatan distribusi vaksin dan dorongan percepatan imunisasi, pemerintah berharap lonjakan kasus dapat segera ditekan.

Ia mengingatkan, kematian akibat campak seharusnya bisa dicegah sepenuhnya jika cakupan vaksinasi merata dan masyarakat aktif membawa anaknya untuk imunisasi.

Faktor Penyebab Meningkatnya Wabah Campak

Epidemiolog dari Universitas Griffth, Australia, Dicky Budiman, menjelaskan terkait merebaknya kembali wabah campak hingga penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah, terdapat beberapa faktor utama penyebabnya.

"Pertama, penurunan kekebalan kelompok (herd immunity) akibat cakupan vaksinasi yang belum optimal," kata Dicky kepada TheStance.

Campak diketahui memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi, dengan angka reproduksi dasar campak bisa mencapai 19–20. Artinya, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke belasan hingga puluhan orang lain yang tidak memiliki kekebalan.

"Penularan terjadi dengan sangat mudah, yakni melalui droplet pernapasan maupun kontak langsung, sehingga hanya dibutuhkan interaksi minimal untuk menyebarkan virus pada individu yang belum imun," jelas Dicky.

Untuk mencapai kekebalan kelompok, Dicky menegaskan diperlunya dua dosis vaksin campak, yaitu MR1 dan MR2, dengan cakupan di atas 95 persen secara merata.

"Namun, di Indonesia, cakupan MR2 umumnya masih jauh di bawah target, meskipun MR1 relatif tinggi," kata Dicky.

Kondisi ini menimbulkan celah imunitas, sehingga banyak anak dan remaja belum memiliki perlindungan lengkap terhadap virus campak. Kelompok inilah yang menjadi kontributor utama lonjakan kasus.

Dicky mengungkapkan mobilitas penduduk yang tinggi disertai ketimpangan cakupan vaksinasi antarwilayah juga bisa menjadi penyebabnya.

"Perpindahan penduduk antar desa, kota, hingga provinsi mempercepat penyebaran virus dari satu komunitas ke komunitas lain, terutama ketika terdapat kelompok masyarakat dengan imunitas rendah," kata Dicky.

Selain itu, adanya penundaan atau gangguan layanan imunisasi, yang dapat disebabkan oleh prioritas program kesehatan lain, keterbatasan sumber daya manusia, maupun kendala sistem layanan.

"Selain itu, masih terdapat keraguan atau kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya vaksin campak, yang memicu vaccine hesitancy dan memperlambat pencapaian cakupan imunisasi yang optimal," ungkap Dicky.

Upaya Yang Harus Dilakukan

Vaksin MR

Campak dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, hingga trombositopenia akut.

Selain itu, campak juga dapat menyebabkan fenomena yang dikenal sebagai “immune amnesia” yaitu kondisi ketika infeksi campak melemahkan respons sistem imun terhadap patogen lain.

"Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terkena berbagai penyakit infeksi setelah sembuh dari campak. Dampak jangka panjang inilah yang masih kurang dipahami oleh masyarakat luas," jelas Dicky. .

Di beberapa negara maju, seperti Australia, campak bahkan sangat ditakuti karena efek jangka panjangnya terhadap sistem kekebalan tubuh, bukan hanya akibat infeksi akutnya. Maka dari itu, Dicky menegaskan campak harus disikapi secara serius.

"Selain sangat menular dan berpotensi berat, kasus berat sering terjadi pada kelompok usia rentan, terutama balita dan anak usia sekolah yang belum mendapatkan imunisasi lengkap," jelas Dicky.

Dicky mengungkapkan lonjakan kasus campak tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain, termasuk negara maju yang sebelumnya dianggap telah bebas campak.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa campak merupakan tantangan kesehatan global, bukan masalah lokal semata," ungkapnya.

Untuk itu, perlu percepatan imunisasi lengkap di semua daerah, peningkatan literasi publik mengenai manfaat, efektivitas, dan keamanan vaksin campak, serta penguatan surveilans epidemiologi untuk deteksi dini dan respons cepat.

Lalu, perluasan layanan imunisasi ke wilayah yang belum terjangkau, termasuk kantong-kantong masyarakat di dalam kota besar. "Pada akhirnya, meningkatnya kasus campak lebih mencerminkan kegagalan cakupan imunisasi secara luas," ujar Dicky. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance