Jakarta, The Stance – Ajang sepak bola terbesar di dunia yang seharusnya menjadi perayaan persatuan dan inklusivitas tercoreng akibat perlakuan buruk aparat keamanan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah peserta dan ofisial Piala Dunia 2026.

AS bersama Kanada dan Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Sayangnya, AS tidak memberikan respons baik untuk semua negara tamu yang hadir mengikuti ajang olahraga sepak bola bergengsi ini.

Sejumlah kalangan melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Donald Trump terkait krisis visa seputar Piala Dunia 2026, dengan menilai bahwa masalah ini mengubah ajang sepak bola terbesar di dunia menjadi politis.

Kontroversi ini pun tak hanya akan membuat nama AS jelek, tapi juga menciderai sportivitas dalam sepak bola karena adanya indikasi diskriminasi dan bukannya perayaan persatuan dan inklusivitas antar negara. Peran FIFA pun kembali dipertanyakan.

Sederet Perlakuan Buruk Amerika Serikat

Wasit somalia

Berdasarkan catatan The Stance, berikut perlakuan buruk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.

1. Wasit Asal Somalia Tak Bisa Masuk Amerika Serikat

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan tak bisa masuk Amerika Serikat meskipun sudah tercatat menjadi wasit resmi Piala Dunia 2026. Tak ada alasan detail terkait penolakan tersebut.

Artan disebut tak bisa masuk karena permasalahan verifikasi yang dilakukan. Artan dikabarkan menjalani interogasi selama 11 jam, ditahan di sel, lalu dikembalikan ke tempat asalnya meskipun memiliki dokumen yang sah.

"Artan seharusnya mencetak sejarah sebagai wasit Somalia pertama yang memimpin pertandingan di Piala Dunia, namun ia dilarang masuk ke Amerika Serikat tanpa penjelasan yang jelas", demikian tulis surat kabar InggrisThe Guardian.

Seperti halnya kasus lainnya, FIFA tak bisa apa-apa untuk melakukan intervensi. Padahal yang dialami Artan dinilai bertentangan dengan citra yang ditampilkan FIFA tentang edisi turnamen ini, sebagai yang terbesar dan paling inklusif.

2. Timnas Iran Dilarang Menetap di Amerika Serikat

AS menerapkan aturan khusus untuk Timnas Iran yang berlaga di Piala Dunia. Mereka dilarang menetap dan bermalam di AS. Artinya, Iran hanya bisa datang saat hari pertandingan dan kemudian segera pulang setelah laga selesai.

Iran sempat mengajukan pemindahan lokasi pertandingan ke Meksiko namun hal itu tak diwujudkan FIFA. FIFA hanya mengijinkan memindahkan markas Timnas Iran dari AS ke Meksiko yang juga menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.

Alhasil, Iran akan menempuh perjalanan panjang selama Piala Dunia berlangsung karena semua laga mereka dimainkan di AS dan mereka bermarkas di Meksiko.

3. Senegal dan Uzbekistan Diperiksa dengan Ketat di Bandara

Diskriminasi dari AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 tak hanya dirasakan oleh Timnas Iran. Timnas Senegal dan Uzbekistan juga mengalami hal yang sama.

Beberapa pemain Senegal dan Uzbekistan mendapat pemeriksaan ketat, berikut dengan staf dan pihak manajemen. Karena pemeriksaan yang ketat ini, para pemain tidak bisa mendapatkan waktu istirahat dan berlatih secara optimal.

Setelah pemeriksaan yang ketat di bandara, untungnya staf dan pemain Timnas Senegal bisa masuk dengan baik. Namun hal ini tetap memberikan atmosfer buruk selama persiapan Piala Dunia 2026 berlangsung.

Sementara itu, para pemain Uzbekistan dilaporkan menghadapi pemeriksaan menggunakan anjing pelacak narkotika dan detektor logam saat tiba di New York untuk menjalani laga persahabatan melawan Belanda pada Senin 8 Juni 2026.

Pelatih Timnas Uzbekistan, Fabio Cannavaro, yang juga ikut diperiksa oleh petugas keamanan, menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang "aneh".

"Mereka mengatakan kepada saya bahwa itu adalah aturan. Namun, pada akhirnya, pemeriksaan itu hanya dilakukan kepada kami," kata Cannavaro kepada wartawan usai pertandingan melawan Belanda.

4. Aymen Hussein Ditahan Hampir 7 Jam di Bandara

Striker andalan Irak, Aymen Hussein sempat ditahan selama tujuh jam di bandara dengan terus menjalani wawancara. Padahal, Aymen Hussein datang bersama rombongan tim nasional Irak.

Kejadian kurang mengenakkan tersebut berlangsung saat rombongan Timnas Irak mendarat di Chicago untuk memulai pemusatan latihan sebelum sepak mula Piala Dunia dimulai.

Kabar penahanan ini seketika memicu sorotan tajam berbagai media di Irak, mengingat striker berusia 30 tahun itu merupakan pahlawan utama yang melesatkan gol bersejarah penentu kelolosan Irak ke Piala Dunia setelah menanti 40 tahun lamanya.

5. Fotografer Timnas Irak Sempat Tak Boleh Masuk AS

Selain manajemen, staf dan pemain Timnas Irak yang kesulitan masuk AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, fotografer resmi timnas Irak pun bernasib serupa.

Talal Salah dilaporkan harus menerima nasib yang jauh lebih berat setelah ditahan dan diinterogasi selama lebih dari sepuluh jam.

Selama proses pemeriksaan intensif tersebut, petugas dikabarkan turut memeriksa perangkat telepon genggam miliknya, hingga akhirnya Salah secara resmi ditolak untuk memasuki wilayah hukum AS.

Sejauh ini, baik Federasi Sepak Bola Irak (IFA), Hussein pribadi, maupun otoritas imigrasi dan keamanan AS masih bungkam dan belum mengeluarkan pernyataan resmi apa pun terkait insiden penahanan di bandara tersebut.

Piala Dunia Paling Kacau

Ian Wright

Sederet kontroversi dan perlakuan buruk AS terhadap sejumlah peserta dan ofisial Piala Dunia 2026 membuat eks-penyerang Inggris Ian Wright bersuara.

Mantan pemain klub Arsenal tersebut menilai kabar ini sebagai hal konyol, yang memperpanjang daftar kritik untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

"Saya baru saja membaca bahwa wasit Somalia ditolak masuk. Setiap beberapa jamnya ada cerita lain, cerita lain soal fans ditolak-lah, pemain ditolak, ofisial ditolak, para jurnalis ditolak, sekarang wasit," ungkapnya dalam video di TikTok pribadinya.

"Anda lihat saya ketawa, tapi ini tidak lucu, sejujurnya ini tidak lucu, dan sesuatu harus diungkapkan. Tiket-tiket yang mahal, tiket termahal yang pernah ada, akomodasi yang mahal, biaya transportasi selangit. Itu harus dibahas." tambahnya.

Wright kemudian mempertanyakan sikap Amerika Serikat selaku tuan rumah yang seharusnya membuka pintu lebar-lebar bagi seluruh pihak yang terlibat dalam turnamen sebesar ini.

"Apakah tuan rumah sungguh bersikap begini untuk permainan terbesar, turnamen terbesar di dunia, beginikah tuan rumah bersikap? Apa kita tak akan mendengar lebih banyak?" tegasnya.

Wright pun mengakhiri komentarnya dengan kalimat yang langsung menjadi sorotan luas di dunia maya.

"Inilah Piala Dunia, ini adalah Piala Dunia-nya kekacauan. Siapapun yang juara bakal harus melewati serangkaian kekacauan serius untuk menyelesaikannya." ujarnya.

Di balik semua kekecewaan itu, Wright merasa bersimpati pada para penggemar sepak bola Amerika Serikat yang sejak awal begitu antusias menyambut Piala Dunia di negeri mereka.

"Anda tahu kepada siapa saya bersimpati? Saya bersimpati untuk para fans Amerika, yang menginginkan ini, para penggemar sepakbola di Amerika yang menginginkan ini, betapa malunya mereka. Ini pasti sangat memalukan buat mereka." ungkapnya.

Infantino: Tak Menyesal Pilih AS sebagai Tuan Rumah

Infantino - Trump

Menghadapi sejumlah kritik terhadap perlakuan buruk AS, Presiden FIFA Gianni Infantino, meminta semua pihak untuk tetap tenang menyikapi berbagai persoalan visa yang muncul menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

Sahabat dekat Trump ini memastikan FIFA terus berupaya mencari solusi, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengatur kebijakan imigrasi suatu negara.

Pernyataan tersebut disampaikan pria berusia 56 tahun tersebut dalam konferensi pers menjelang kick-off Piala Dunia 2026 di Mexico City, Rabu 10 Juni 2026 waktu setempat.

Dia menegaskan FIFA bukan lembaga yang bisa memerintah pemerintah atau aparat penegak hukum suatu negara. Untuk itu, dia meminta publik memberi ruang bagi proses penyelesaian yang sedang dilakukan di balik layar.

"Kami juga harus menghormati fakta kami bukan penguasa dunia yang bisa mengatur pemerintah, polisi, atau pihak berwenang lainnya. Kami adalah organisasi olahraga dan berusaha melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kami miliki," katanya.

Baca Juga: Hattrick Gagal Lolos Piala Dunia, Sepak Bola Italia Tak Lagi Istimewa

Meski sejumlah persoalan terkait visa terus bermunculan, termasuk relokasi markas latihan Timnas Iran ke Tijuana, Meksiko, serta kasus Omar Artan, Infantino menegaskan tak menyesal menunjuk AS sebagai satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia 2026.

Menurutnya, tantangan seperti itu merupakan bagian dari realitas penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di dunia. Apalagi, Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Selain persoalan visa, FIFA juga tengah menghadapi sorotan terkait harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap terlalu mahal.

Saat ini terdapat sejumlah investigasi yang dilakukan otoritas hukum di California, New Jersey, New York, dan Texas mengenai kebijakan penjualan tiket turnamen tersebut. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance