Jakarta, TheStance – Sepak bola Italia tengah berada di titik nadir setelah dipastikan absen untuk ketiga kalinya secara beruntun di Piala Dunia.
Italia, juara dunia empat kali, gagal lolos ke Piala Dunia setelah kalah 1-4 melalui adu penalti dari Bosnia-Herzegovina dalam laga play-off Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, yang berlangsung di Stadion Bilino Polje, Kota Zenica, Bosnia, Rabu 1 April 2026 dini hari WIB.
Italia mencatat rekor sebagai satu-satunya juara Piala Dunia yang absen dalam tiga perhelatan berturut-turut, setelah gagal mencapai putaran final di Rusia pada 2018 dan di Qatar pada 2022.
Sebaliknya, Bosnia-Herzegovina lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah. Dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 mendatang, mereka akan menghadapi Kanada, Qatar, dan Swiss di Grup B.
Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 menambah panjang daftar keterpurukan yang dihadapi sepakbola Italia. Sebelumnya, di kompetisi Eropa, klub-klub Italia juga tak mampu bersaing. Wakil-wakilnya di Liga Champions 2025/2026 sudah rontok, bahkan sebelum babak perempatfinal.
Serie A Tak Lagi Istimewa

Angelo Di Livio, eks pemain sayap Italia dan pemenang Piala Dunia 2006, mengaku kecewa dengan kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026.
Di Livio mengatakan, tak ada lagi yang istimewa dari Serie A terutama jika dibandingkan dengan era saat dirinya merumput di mana ada banyak pemain nomor 10 trengginas seperti Alex del Piero, Francesco Totti, dan Roberto Baggio.
"Sepak bola Italia telah menjadi biasa saja," ujar Di Livio pada Tuttomercatoweb.
"Kita tidak lagi memiliki pemain nomor 10, memang kita menemukan Pio Esposito, kita punya Kean... Tapi kita tidak lagi punya pemain yang bisa melewati lawan, hanya pemain biasa. Sekarang kita menanggung akibatnya." tambahnya.
Mantan gelandang Juventus itu menilai, untuk sekelas Italia harusnya lolos Piala Dunia adalah sesuatu yang biasa. Ia pun mendesak agar sepakbola Italia direformasi.
"Menurut saya, lolos ke Piala Dunia seharusnya hal yang normal bagi tim nasional (Italia). Tetapi kita terjebak dalam situasi psikologis yang sulit keluar."
"Reformasi harus dilakukan agar bisa kompetitif lagi. Saya kecewa dan terpukul; sesuatu harus dilakukan." ujarnya.
Masalah Finansial dan Stadion

Legenda Juventus, Alessandro Del Piero, menyebut faktor-faktor yang menjadi penyebab kemunduran sepak bola Italia, di antaranya finansial, stadion, serta pembinaan pemain muda.
“Tingkat investasi rendah. Pasar lain telah menjadi jauh, jauh lebih besar daripada kami," tutur Del Piero.
“Masalah? Stadion. Kita tahu bahwa untuk berkembang, kita harus tampil lebih baik di luar lapangan."
Mayoritas stadion di Italia sudah tua, tidak efisien, dan bukan milik klub sendiri, yang menyebabkan rendahnya pendapatan komersial dibandingkan liga top Eropa lainnya.
Sementara rencana pembangunan stadion modern sering kali terhambat birokrasi, konflik kepentingan, atau kendala geografis. Contohnya polemik stadion baru Inter dan Milan.
Beberapa klub seperti Como bahkan menghadapi tantangan unik terkait kelayakan stadion untuk kompetisi Eropa meskipun dimiliki investor kuat.
Belum lagi, klub-klub Serie A harus berjuang dengan beban gaji yang tidak berkelanjutan dan utang bersih yang tinggi, yang membatasi kemampuan mereka untuk bersaing di bursa transfer.
Beberapa klub papan atas Serie A telah melaporkan kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir, yang menghambat investasi mereka di masa depan.
Alhasil, tidak satu pun klub besar Italia berada di 10 besar dalam daftar Deloitte mengenai klub dengan pendapatan tertinggi di dunia.
Di sisi lain, klub-klub Liga Primer diuntungkan oleh kesepakatan hak siar TV yang terus meningkat, sementara liga-liga Eropa lainnya menarik investasi besar.
Pemain Muda Italia Kurang Menit Bermain

Tidak berhenti disitu, sorotan juga tertuju pada pembinaan pemain muda Italia. Del Piero menyoroti banyak pemain muda Italia yang memilih keluar Italia karena kekurangan menit bermain di dalam negeri.
Del Piero merujuk pada dua pemain muda Italia yang menonjol di Borussia Dortmund saat ini, yakni Samuele Inacio Pia (17 tahun) dan Luca Reggiani (18 tahun). Keduanya merupakan bakat kelahiran 2008 yang kini berkembang di akademi muda Dortmund dan dipandang sebagai masa depan sepak bola Italia.
“Sistem pembinaan usia muda? Kita akan melihat Borussia Dortmund bermain melawan Atalanta dengan dua pemain Italia kelahiran 2008. Maaf? Apa yang terjadi? Mengapa kita tidak memiliki pemain Italia seperti ini, mengapa mereka bermain untuk Dortmund?” imbuh dia.
Arus masuk pemain asing ke Serie A menjelang tahun 2000 tak terhindari, yang membuat pemain muda Italia semakin sulit mendapatkan kesempatan bermain di tim utama klub-klub besar di negara mereka sendiri.
Pakar sepak bola Eropa, Julien Laurens mengatakan kepada BBC Sport : "Akademi-akademi di Italia tidak menghasilkan cukup banyak pemain, atau pemain yang siap bermain di tim utama. Cara mereka membelanjakan uang juga bukan seperti yang biasa kita lihat dari klub-klub Italia."
Dampak pada Timnas Italia

Mantan manajer klub Liga Utama Inggris Chelsea, Enzo marasca menilai sepak bola Italia selama ini terjebak dalam pola pikir kuno yang mengutamakan pengalaman. Padahal, sepak bola modern justru membutuhkan energi dan tempo permainan tinggi dari pemain muda.
Hal ini terlihat jelas dalam Final Liga Champions 2025, di mana PSG dengan pemain-pemain mudanya mengalahkan Inter dengan telak.
"Final Liga Champions menunjukkan dominasi tim muda yang mampu menampilkan sepak bola teknis dengan tempo luar biasa, energi, pressing, dan bakat menyerang. Luis Enrique membangun PSG yang spektakuler, dan saya mencoba melakukan hal serupa di Chelsea," ujar Maresca kepada Corriere della Sera.
"Hanya di Italia mereka masih menganggap pemain terlalu muda dan pengalamanlah yang memenangkan pertandingan. Ini pilihan budaya yang berarti Anda pasti akan kalah dalam hal energi. Sepak bola Italia kesulitan mengikuti tempo gaya permainan lain," tegasnya
Masalah ini berdampak pada Timnas Italia yang kini kesulitan mencari pemain muda berkualitas. Maresca menegaskan, mustahil menurunkan usia rata-rata skuad jika pemain muda tidak mendapat kesempatan bermain di klub.
"Tentu saja tim nasional mencerminkan kerja klub. Bagaimana Anda bisa menurunkan usia rata-rata skuad jika pemain muda tidak mendapat kesempatan bermain?" kata Maresca.
Proposal Roberto Baggio

Langkah untuk mereformasi sepak bola negeri pizza sebenarnya pernah dilakukan legenda Italia, Roberto Baggio, saat ditunjuk Federasi Sepakbola Italia (FIGC) sebagai kepala sektor teknis, dua bulan setelah Italia tersingkir di fase grup Piala Dunia 2010.
Ketika itu, peraih Ballon d'Or 1993 itu membentuk tim berisi 50 orang yang terdiri dari pelatih, peneliti, pakar, dan konsultan. Mereka mempelajari apa yang perlu diperbaiki demi kemajuan sepak bola Italia.
Hasilnya, adalah laporan 900 halaman yang mengajukan perombakan dalam pembinaan pemain muda yang dirilis pada Desember 2011 dimana ada sejumlah poin penting.
Baggio ingin mengubah cara pandang seleksi di level akademi, yang tak lagi mengedepankan fisik namun juga aspek teknis, penguasaan bola, pengambilan keputusan, hingga inteligensia permainan. Ia juga meminta pelatih fokus di teknik ketimbang taktik.
FIGC juga diminta meningkatkan kualitas para pelatih di level muda dengan mewajibkan mereka memiliki latar pendidikan yang baik, tak hanya di sepak bola. Ia juga menginginkan kolaborasi antara peneliti dari universitas dengan tim kepelatihan.
Ia juga menekankan perlunya pembangunan pusat latihan di 100 distrik berbeda di Italia, dengan tiap distrik diisi tiga pelatih dari FIGC. Fungsinya agar jumlah pertandingan kelompok umur semakin banyak.
Langkah di atas juga diiringi perbaikan pendataan sektor pemain muda. Dengan begitu, pemantauan bibit potensial bisa lebih mudah dilakukan.
Namun, laporan Baggio ini tak ditanggapi dengan serius oleh FIGC. Ia kemudian mundur pada 2013 karena merasa diabaikan.
"Saya bekerja untuk memperbarui tim dari nol, untuk menciptakan pemain-pemain dan orang-orang baik. Saya mempresentasikan proyek saya pada Desember 2011, setebal 900 halaman, dan itu tetap menjadi surat mati," ujar Baggio saat itu.
Kini, seiring kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026, topik proposal Baggio kembali mengemuka dan banyak publik Italia menyayangkan langkah FIGC yang tidak mau mengikuti saran Baggio tersebut. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance